Pramono Sebut Curah Hujan di Jakut Capai 280 Mm: Tertinggi Selama Saya Menjabat Gubernur

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut, curah hujan yang melanda wilayah Jakarta belakangan ini cukup ekstrem.

Diterbitkan 19 Januari 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut, curah hujan yang melanda wilayah Jakarta belakangan ini cukup ekstrem. Dia menyatakan, di Jakarta Utara (Jakut) pada akhir pekan lalu, intensitas hujan mencapai 280 milimeter (mm).

Pramono mengungkapkan, angka tersebut sebagai yang tertinggi selama ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ada pun, Pramono resmi menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 20 Februari 2025.

"Di Jakarta Utara ada delapan titik untuk menghitung curah hujan itu rata-rata 260. Ada bahkan yang sampai dengan 280 (mm) dan itu tertinggi yang pernah saya ketahui selama saya menjabat sebagai Gubernur Jakarta," kata Pramono di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, hujan dengan intensitas tersebut jauh di atas ambang normal. Ia bilang, curah hujan 200 mm saja sudah berdampak signifikan dan berpotensi menimbulkan banjir di Jakarta.

"Itu hujannya lama, di delapan titik semuanya di atas 200. Padahal kalau 200 saja itu sudah pasti banjir," ucap Pramono.

Dia menjelaskan, hujan ekstrem yang terjadi pada Sabtu dan Minggu pekan lalu itu sebagian besar terkonsentrasi di Jakarta Utara. Tercatat, sekitar 80 persen curah hujan jatuh di wilayah tersebut, sehingga berdampak pada munculnya genangan di sejumlah titik di Jakarta Utara.

"Nah kemarin itu curah hujannya semuanya menumpuk di Jakarta Utara. Delapan puluh persen hujan itu Jakarta Utara," jelas Pramono.

Akibat hujan deras tersebut, setidaknya 33 RW sempat terdampak genangan banjir. Namun, Pramono memastikan kondisi tersebut telah tertangani dan tidak menimbulkan dampak lanjutan.

Pramono menyampaikan, Pemprov DKI Jakarta juga telah melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai upaya mitigasi menghadapi cuaca ekstrem. OMC telah dilakukan sejak 15 Januari dan akan berlangsung hingga 22 Januari 2026.

 

Sampah Kotori Laut Muara Baru Jakut, Pramono Ingatkan Warga Tak Buang Sampah Sembarangan

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons soal banyaknya sampah yang menumpuk di tanggul laut kawasan Muara Baru, Jakarta Utara (Jakut). Menyusul kondisi itu, Pramono menilai pentingnya perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah.

Dia menyampaikan, kejadian tersebut harus menjadi peringatan serius bagi seluruh warga Jakarta. Pramono menekankan bahwa persoalan sampah di wilayah pesisir tidak terlepas dari kebiasaan membuang sampah ke sungai, yang pada akhirnya terbawa arus hingga ke laut dan merusak lingkungan pesisir.

"Ini juga menjadi peringatan bagi seluruh warga Jakarta agar perilaku membuang sampah di sungai itu ya harus dihilangkan di Jakarta," ujar Pramono di Hotel Arya Duta, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).

Dia mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah bergerak cepat menangani persoalan ratusan ton sampah yang menumpuk tersebut. Pembersihan di lokasi telah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta.

"Apapun kemarin yang di Muara Baru kan langsung kita tangani, kita bersihkan," kata Pramono.

Diketahui, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, pihaknya terus berupaya mengatasi sampah di kawasan pesisir Tanggul Laut Muara Baru, Jakarta Utara.

Menurut dia, penanganan sudah dilakukan sejak Jumat 16 Januari 2026, di mana dilakukan pengangkutan sampah secara bertahap.

 

Perkuat Sekatan

Asep merinci, di hari pertama, petugas telah mengangkut 35 ton sampah. Jumlah tersebut bertambah 25 ton pada hari kedua, dan meningkat signifikan pada hari ketiga pada Minggu, 18 Januari 2026 dengan total 77 ton sampah terangkut.

"Pada hari ketiga, kami memperkuat penanganan dengan mengerahkan 100 petugas kebersihan, 12 unit ponton, tujuh unit truk sampah tipe kecil, enam unit truk tipe besar, dua unit excavator, serta dua unit perahu karet," kata dia dalam keterangannya, Senin (19/1/2026).

Tak hanya menggunakan alat bantu seperti APD, serokan sampah, hingga kontainer untuk mempercepat proses pengangkutan, Asep menjelaskan, DLH DKI Jakarta juga menerapkan metode khusus berupa pemasangan sekatan dari material High-Density Polyethylene (HDPE) dan bambu.

Menurut Asep, sekatan tersebut berfungsi menahan pergerakan sampah agar tidak menyebar ke perairan yang lebih luas, sekaligus mempermudah proses pengumpulan dan pemuatan ke armada angkut.

"Ke depan, kami akan memperkuat sekatan secara lebih permanen di seluruh zona serta menyiapkan armada cadangan, terutama saat terjadi hujan," ungkap dia.

Penanganan sampah di kawasan Muara Baru ditargetkan rampung dalam lima hari ke depan. Dia memprediksi akan terangkut lebih dari 200 sampah dari pesisir Muara Baru tersebut.

"Target kami, sterilisasi kawasan Muara Baru dapat diselesaikan dalam lima hari, dengan total sampah terangkut diperkirakan melebihi 200 ton sejak hari pertama penanganan," kata Asep.

Lebih lanjut, dia juga mengimbau kepada seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, khususnya dengan tidak membuang sampah ke badan air dan kawasan pesisir.

Asep menuturkan, sampah yang masuk ke laut dan saluran air tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga memperberat upaya penanganan serta berpotensi menimbulkan dampak lanjutan.

"Menjaga kebersihan perairan adalah tanggung jawab bersama. Partisipasi masyarakat sangat menentukan keberlanjutan lingkungan pesisir Jakarta," kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6