Sekjen Kemnaker: Transformasi Digital Harus Berbasis pada SDM yang Tangguh

Cris menyoroti bahwa kemajuan teknologi semata tidak cukup untuk mendorong pembangunan digital. Faktor kunci terletak pada kesiapan SDM sebagai ujung tombak perubahan.

Diperbarui 06 Agustus 2025, 19:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • SDM unggul butuh kerja sama erat pemerintah dan industri.
  • Transformasi digital fokus pada manusia sebagai pusat kebijakan.
  • Kemnaker gunakan SIAPKerja berbasis data untuk tenaga kerja.

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Cris Kuntadi, menekankan bahwa kerja sama erat antara pemerintah dan dunia industri sangat krusial untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan tangguh di tengah arus transformasi digital yang kian cepat. Pesan ini ia sampaikan dalam Digital Transformation Indonesia Conference and Expo (DTI-CX) 2025 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (6/8/2025).

Mengusung tema “INDONESIAN NEXT: Leading the Digital Age with Government and Industry Collaboration”, Cris menyoroti bahwa kemajuan teknologi semata tidak cukup untuk mendorong pembangunan digital. Faktor kunci terletak pada kesiapan SDM sebagai ujung tombak perubahan.

“Transformasi digital harus menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap kebijakan dan inovasi. Pendekatan berpusat pada manusia, atau People Centered Approach, menjadi fondasi utama strategi ketenagakerjaan ke depan,” ujarnya.

Lebih lanjut Cris mengungkapkan sejumlah tantangan ketenagakerjaan yang lebih banyak di dominasi oleh pekerja informal, ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, serta tingginya angka pengangguran di kalangan muda.

Strategi Kemnaker dalam Transformasi Ketenagakerjaan

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemnaker telah merumuskan strategi transformasi ketenagakerjaan dengan fokus pada penguatan fondasi SDM.

Strategi tersebut mencakup pelatihan vokasi yang adaptif terhadap kebutuhan industri, program reskilling secara masif dan inklusif bagi kelompok rentan dan pekerja informal, serta penguatan hubungan industrial yang kolaboratif dan berkelanjutan.

Selain itu, Cris juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), dalam membangun sistem ketenagakerjaan berbasis data. Salah satu implementasinya adalah melalui platform SIAPKerja, yang mampu mencocokkan pencari kerja dengan lowongan secara real-time, sekaligus mendukung pengambilan kebijakan berbasis data pasar tenaga kerja.

Hingga Semester I tahun 2025, Kemnaker telah menjalin kerja sama strategis dengan 21 kementerian/lembaga, 12 pemerintah daerah, dan 35 mitra pembangunan. Kolaborasi ini mencakup pelatihan dan sertifikasi kompetensi SDM di berbagai sektor prioritas seperti energi, agroforestri, pariwisata, serta perlindungan pekerja migran.

“Kami percaya, dengan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, serikat pekerja, dan lembaga pelatihan, kita dapat menciptakan SDM yang unggul dan siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkas Cris.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6