Sukses

Wapres Ma'ruf Dorong Percepatan Program Pembangunan Sejuta Rumah

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan perumahan melalui Program Sejuta Rumah. Wakil Presiden (wapres) Ma’ruf Amin, mengungkapkan alasan percepatan program tersebut.

Selain untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal layak bagi masyarakat, menurut Wapres Ma'ruf, program tersebut juga mendorong usaha lain yang terkait dengan pembangunan rumah.

"Pemerintah mendorong pembangunan perumahan, mendukung bukan hanya untuk mengurangi backlog kekurangan perumahan, tapi juga punya multiplier effect, termasuk usaha masyarakat, seperti gorden, bata, dan pasir," ujar Wapres ketika menerima Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI), Selasa (24/05/2022).

Meskipun sempat terdampak akibat pandemi, Wapres Ma'ruf mengatakan, sektor properti masih menunjukkan tren positif dibandingkan sektor lain. Untuk itu, ia menekankan, pembangunan satu juta rumah harus dioptimalkan.

"Pemerintah mendorong pembangunan satu juta rumah, hanya memang di pandemi ada penurunan tahun 2020-2021, tetapi masih positif dibanding sektor lain, ini harus didorong terus," terangnya.

Sejalan dengan apa yang disampaikan Wapres Ma'ruf Amin, dalam keterangan persnya, Ketua Umum DPP REI, Paulus Totok Lusida, mengungkapkan bahwa saat ini sektor perumahan masih menunjukkan hasil positif, dibandingkan dengan sektor usaha lain, meskipun sedikit melandai di tengah pandemi yang melanda.

"Program sejuta rumah yang sedang berjalan dan on the right track, peningkatan selama pandemi sedikit melambat, tapi selama pandemi salah satu bidang usaha yang masih postif adalah di bidang properti, termasuk di bidang perumahan masyarakat berpenghasilan rendah," ucapnya.

 

2 dari 2 halaman

Program DPP REI

Selain itu, Paulus menambahkan bahwa saat ini DPP REI sedang mendorong program untuk memudahkan masyarakat, khususnya pekerja untuk mendapatkan perumahan layak huni, khususnya apartemen dengan cara menyewa untuk kemudian memiliki (rent to own).

"Untuk apartemen kami sampaikan ada program rent to own, bukan masalah kejenuhan market, tapi kemampuan masyarakat untuk memililiki apartemen kerena nilai bangunannya cukup mahal, sehingga dengan program ini menyewa dulu untuk memiliki kemudian," paparnya.