Pendiri Cardano: Bitcoin Bisa Kehilangan Takhta Gara-Gara Quantum Computing

Charles Hoskinson menyoroti ancaman komputasi kuantum terhadap Bitcoin dan menilai Cardano lebih fleksibel dalam melakukan pembaruan jaringan.

Diterbitkan 26 Juli 2026, 18:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, menilai Bitcoin (BTC) berpotensi kehilangan posisinya sebagai aset kripto terbesar di dunia apabila tidak mampu merespons ancaman quantum computing (komputasi kuantum) secara efektif. Ia menyoroti mekanisme tata kelola Bitcoin yang dinilai dapat menyulitkan jaringan melakukan perubahan besar dengan cepat ketika menghadapi tantangan keamanan baru.

Dikutip dari 36crypto, Minggu (26/7/2026), Hoskinson mengakui Bitcoin telah menunjukkan ketangguhan sepanjang sejarahnya. Namun, menurut dia, perkembangan komputasi kuantum merupakan tantangan berbeda yang membutuhkan koordinasi teknis secara cepat.

Hoskinson menilai struktur tata kelola Bitcoin membuat perubahan besar terhadap protokol relatif sulit mendapatkan persetujuan. Lambatnya pengambilan keputusan berpotensi menjadi kelemahan apabila teknologi kuantum nantinya mampu mengeksploitasi sistem kriptografi yang digunakan saat ini.

Ia juga mengakui pendekatan konservatif dalam pengembangan Bitcoin selama bertahun-tahun turut menjaga ketahanan jaringan.

Meski demikian, Hoskinson berpendapat ancaman teknologi pada masa depan mungkin membutuhkan respons lebih cepat dibandingkan yang dapat dilakukan melalui proses tata kelola Bitcoin saat ini.

 

Cardano Dinilai Lebih Fleksibel Hadapi Perubahan

Hoskinson kemudian membandingkan mekanisme tata kelola Bitcoin dengan Cardano. Menurut dia, sistem tata kelola formal secara on-chain pada Cardano memungkinkan para pemangku kepentingan memberikan suara terhadap pembaruan besar protokol.

Struktur tersebut dinilai menyediakan jalur yang lebih jelas untuk menerapkan perubahan teknis ketika diperlukan.

Hoskinson mengatakan jaringan blockchain pada akhirnya mungkin perlu mengganti infrastruktur yang rentan terhadap komputasi kuantum. Dalam kasus Cardano, rencana migrasi dapat memperoleh persetujuan melalui pemungutan suara komunitas sebelum perubahan protokol diterapkan ke seluruh jaringan.

Ia menggambarkan Cardano sebagai proyek yang melanjutkan visi awal Bitcoin sekaligus mencoba mengatasi sejumlah keterbatasan yang belum terselesaikan pada masa awal pengembangan Bitcoin.

Menurut Hoskinson, Cardano menggabungkan desentralisasi dengan mekanisme tata kelola yang dirancang untuk mendukung evolusi jaringan dalam jangka panjang.

Selain itu, Cardano menggunakan mekanisme konsensus proof-of-stake (PoS) yang mendukung pembaruan jaringan melalui partisipasi pemangku kepentingan. Atas dasar itu, Hoskinson menilai Cardano memiliki kemampuan lebih besar untuk beradaptasi apabila standar keamanan baru diperlukan.

Bitcoin sendiri hingga kini masih menjadi aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Namun, Hoskinson menilai kepemimpinan jangka panjang suatu blockchain juga dapat ditentukan oleh kemampuannya menerapkan pembaruan teknologi penting.

 

Cardano Siapkan Pembaruan Jaringan Terbesar

Di tengah pembahasan ancaman komputasi kuantum, Hoskinson juga mengungkap Cardano tengah mempersiapkan pembaruan yang ia sebut sebagai peningkatan jaringan terbesar sepanjang sejarah proyek tersebut.

Menurut dia, peningkatan yang direncanakan itu berpotensi membuat performa blockchain Cardano meningkat sekitar 60 kali lipat.

Hoskinson menjelaskan perubahan sebesar itu membutuhkan koordinasi yang matang di seluruh ekosistem. Ia menilai sistem tata kelola Cardano memungkinkan para pemangku kepentingan terlibat langsung dalam keputusan mengenai perubahan teknis berskala besar.

Pembaruan tersebut dikaitkan dengan strategi jangka panjang Cardano untuk meningkatkan skalabilitas, efisiensi, serta ketahanan jaringan. Hoskinson menilai Cardano tidak memiliki ruang untuk mengalami keterlambatan ketika mempersiapkan peningkatan infrastruktur utama.

Ia juga menekankan pengembang blockchain perlu mengantisipasi risiko teknologi baru sebelum ancaman tersebut menjadi persoalan mendesak.

Karena itu, Hoskinson berpendapat mekanisme tata kelola yang mampu beradaptasi secara efisien akan semakin penting bagi industri blockchain.Â