Ma'ruf Amin: Hadapi 100 Tahun Kedua NU, Pola Pikir Kiai Wahab Hasbullah Bisa Jadi Rujukan

Ma'ruf Amin menjelaskan, memasuki abad kedua NU, diperlukan perumusan kembali semangat perjuangan yang telah dirintis para pendiri organisasi, termasuk KH Wahab

Diterbitkan 14 Februari 2026, 18:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) RI ke-13 Ma’ruf Amin menilai, pemikiran Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Hasbullah yang dituangkan dalam buku yang ditulis KH Abdul Mun’im, DZ relevan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks dan penuh fitnah.

Menurut Ma’ruf, situasi yang dihadapi para pendiri NU pada awal abad ke-20 tidak kalah berat dibanding kondisi saat ini. Oleh sebab itu, dia berharap buku dengan total enam Bab dan 274 halaman itu dapat melahirkan generasi penerus dengan semangat dan visi kebangsaan yang kuat di abad kedua NU.

“Kalau kita bicara di I’anatut Thalibin, itulah yang oleh Shahibul I’anah disebut fainnaz zamana maftunun (zaman itu sudah penuh fitnah) dan penduduknya sudah meninggalkan kebenaran, kecuali orang yang dikehendaki oleh Allah di antara mereka, dan mereka sedikit. Jadi yang sudah terkena tahwilat itu sudah sangat banyak,” kata Ma’ruf di Auditorium KH M Rasjidi, Kementerian Haji dan Umrah RI, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026).

Ia menilai, tantangan yang dihadapi NU saat ini bahkan lebih kompleks dibanding masa lalu. Karenanya, Ma’ruf menyebut bahwa pola pikir visioner KH Abdul Wahab perlu diaktualkan kembali untuk menjawab dinamika zaman.

“100 tahun ke depan kalau kita lihat keadaan sekarang, tentu tidak lebih mudah atau lebih gampang dari yang dulu. Sekarang ini tentu lebih kompleks,” kata Ma’ruf.

Dia menjelaskan, memasuki abad kedua NU, diperlukan perumusan kembali semangat perjuangan yang telah dirintis para pendiri organisasi tersebut, termasuk gagasan KH Abdul Wahab.

“Dalam menghadapi 100 tahun kedua Nahdlatul Ulama, saya kira pola pikir yang dikembangkan oleh Hadratussyaikh Kiai Wahab Hasbullah ini bisa menjadi rujukan kita. Jadi bagaimana kita mengaktualkan kembali cara berpikir ini,” ujarnya.

 

Karya Inspiratif

Ma’ruf juga menilai buku yang ditulis oleh KH Abdul Mun’im, DZ tentang Kiai Wahab sebagai karya yang inspiratif dan penting bagi generasi penerus.

“Tulisan Pak Mun’im tentang Kiai Wahab ini saya kira satu tulisan buku yang menurut saya luar biasa dan bisa menginspirasi kita semua untuk melahirkan kembali ‘Wahab Hasbullah-Wahab Hasbullah’ di abad kedua Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Sementara itu, Putri KH Abdul Wahab Hasbullah, Nyai Hj Hizbiyah Rochim merasa terharu karena jejak sang ayah terus dikaji secara ilmiah oleh KH Abdul Mun’im. Menurut dia, membedah buku tersebut menjadi salah satu upaya penting dalam menginternalisasi sejarah bahwa beragama juga harus selaras dengan mencintai tanah air.

“Beliau adalah arsitek modernisasi yang andal, lalu juga diplomat yang ulung. Melalui buku ini, kita diingatkan kembali bagaimana beliau mengelola perbedaan dengan damai, namun tetap teguh pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaahnya,” kata Hizbiyah.

 

Ingatkan Perjuangan KH Abdul Wahab

Ia menyampaikan, di buku tersebut masyarakat diajak mengingat kembali perjuangan KH Abdul Wahab. Salah satunya pelajaran besar terkait Fiqh Siyasah yang kokoh, yaitu prinsip Islam yang sangat moderat namun tetap teguh menjaga nilai-nilai kebangsaan.

“Beliau membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis bukanlah hal yang bertentangan. Pancasila dan Islam adalah harmoni yang membuat Indonesia tetap kokoh berdiri sampai hari ini,” kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6