Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah, Ma'ruf Amin: Tokoh Visioner yang Sulit Dicari Padanannya

Wakil Presiden (Wapres) ke-13 RI Ma'ruf Amin menghadiri bedah buku bedah buku Ulama Besar sekaligus Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Hasbullah.

Diterbitkan 14 Februari 2026, 18:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Wapres Ma'ruf Amin memuji KH Abdul Wahab sebagai tokoh visioner multitalenta.
  • KH Abdul Wahab memprakarsai Taswirul Afkar, melahirkan gerakan kebangsaan seperti NU.
  • Visi kebangsaan KH Abdul Wahab relevan sebagai rujukan menjawab tantangan zaman.

Liputan6.com, Jakarta - Gelaran bedah buku bedah buku Ulama Besar sekaligus Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Hasbullah dihadiri Wakil Presiden (Wapres) ke-13 RI Ma'ruf Amin di Auditorium KH M Rasjidi, Kementerian Haji dan Umrah RI, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026).

Dalam kesempatan itu, Ma'ruf Amin menyebut, KH Abdul Wahab sebagai tokoh visioner yang sulit dicari padanannya dalam sejarah bangsa. Menurut Ma’ruf, rekam jejak KH Abdul Wahab amat panjang dan tidak terbatas sebagai ulama semata.

"Kita bicara mengenai Kiai Wahab itu tidak bisa sehari-dua hari pun tidak selesai. Ceritanya pasti panjang, karena beliau adalah tokoh yang sulit mencari padanannya. Beliau adalah seorang ulama yang alim-allamah, seorang ahli fikih, seorang negarawan, seorang politisi, seorang organisator, bahkan seorang seniman," kata Ma'ruf Amin.

Buku yang didedikasikan untuk mengenang KH Abdul Wahab Hasbullah ini ditulis KH Abdul Mun’im, DZ dengan total enam Bab dan 274 halaman. Buku tersebut mengulas peran strategis KH Abdul Wahab di skala lokal, nasional dan internasional serta ijtihad politiknya dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ma'ruf menilai KH Abdul Wahab sebagai sosok yang berpikir visioner dan responsif terhadap keadaan, termasuk pada masa penjajahan. Ia menyoroti keberanian KH Abdul Wahab dalam perannya memprakarsai forum diskusi Taswirul Afkar sebagai ruang pemetaan pemikiran ulama.

"Saya kira itu sesuatu yang luar biasa; pemetaan pemikiran, forum ulama untuk berdiskusi tentang keadaan dalam rangka, saya menyebutnya tausi’un nadzar (memperluas cakrawala pandangan) terhadap afkar (berbagai pemikiran) yang mungkin waktu itu sedang berkembang untuk kemudian direspons," ucap Ma'ruf Amin.

 

Lahirkan Gerakan Kebangsaan

Menurut Ma'ruf, pada masa itu forum tersebut kemudian melahirkan gerakan kebangsaan seperti Nahdlatul Wathan, disusul gerakan ekonomi Nahdlatut Tujjar, hingga berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

"Jadi, saya kira ini sesuatu yang luar biasa, ulama tapi punya visi kebangsaan dan kenegaraan. Ini luar biasa," terang dia.

Ma'ruf menyebut, keluasan peran dan visi kebangsaan KH AbdulWahab menjadi warisan penting yang relevan untuk menjawab tantangan zaman saat ini. Ia berharap buku yang dibedah tersebut dapat menginspirasi generasi penerus untuk meneladani semangat dan pemikiran sang tokoh.

"Saya kira pola pikir yang dikembangkan oleh Hadratussyaikh Kiai Wahab Hasbullah ini bisa menjadi rujukan kita," tutup Ma'ruf.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6