Bukan Sekadar Diet, Mindful Eating Ajak Tubuh Kenali Sinyal Lapar dan Kenyang

Mindful eating mendorong seseorang untuk memperhatikan rasa, aroma, tekstur, hingga perubahan sensasi tubuh selama menyantap makanan.

Diterbitkan 23 September 2026, 19:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren mindful eating semakin banyak diterapkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Pendekatan ini mengajak seseorang untuk lebih hadir saat makan, bukan hanya memperhatikan jenis makanan yang masuk ke tubuh, tapi juga menikmati setiap prosesnya.

Melansir Longevity Technology, Rabu (23/9/2026), mindful eating mendorong seseorang untuk memperhatikan rasa, aroma, tekstur, hingga perubahan sensasi tubuh selama menyantap makanan. Kebiasaan ini menjadi relevan di tengah rutinitas makan yang kerap berlangsung sambil bekerja, menonton, atau menatap layar ponsel.

Memberikan perhatian penuh saat makan dapat dimulai dari langkah sederhana. Seseorang bisa memperlambat tempo makan, mengunyah setiap suapan dengan lebih saksama, serta mengamati rasa dan tekstur makanan yang dikonsumsi.

Kebiasaan tersebut juga membantu seseorang mengenali sinyal lapar dan kenyang dari tubuh. Makan pun tidak selalu menjadi respons terhadap rutinitas, stres, rasa bosan, atau dorongan emosional.

Ahli gizi berlisensi Samantha Morales dalam laporan ABS-CBN tentang slow food dan mindful eating menjelaskan bahwa konsep tersebut tidak berfokus pada pencapaian pola makan yang sempurna. Praktiknya lebih menekankan kesadaran dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh sekaligus menikmati makanan.

Mindful eating memiliki keterkaitan dengan gerakan slow food yang mengedepankan proses makan dan pengolahan makanan secara perlahan. Gerakan ini turut memperhatikan pemilihan bahan pangan lokal dan tradisional serta mendukung petani dan komunitas setempat.

 

Manfaat Mindful Eating bagi Tubuh

Mindful eating tidak hanya mengubah cara seseorang menikmati makanan, tapi juga dapat mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dengan makan secara perlahan dan memperhatikan sinyal lapar serta kenyang, seseorang dapat lebih mudah mengontrol porsi dan menghindari makan secara berlebihan.

Kebiasaan ini juga membantu mengenali kebutuhan tubuh sehingga pilihan makanan dapat dibuat dengan lebih sadar. Selain itu, perhatian terhadap kualitas dan keberagaman makanan dapat membantu memenuhi kebutuhan berbagai vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh.

Pola makan yang lebih sadar juga dapat mendorong seseorang memperhatikan asupan garam, porsi makanan, serta pilihan bahan yang lebih bernutrisi. Hal ini dapat mendukung kesehatan jantung dan membantu menjaga tekanan darah.

Di sisi lain, menghindari makan berlebihan, terutama menjelang waktu tidur, dapat membuat tubuh terasa lebih nyaman dan membantu menciptakan kondisi yang lebih rileks sebelum beristirahat.

Menjaga Kesejahteraan Emosional

Makan dengan penuh kesadaran dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menciptakan pengalaman makan yang lebih tenang sekaligus membantu mengelola stres. Alih-alih menyantap makanan secara terburu-buru, mindful eating mengajak seseorang untuk sejenak berhenti dan benar-benar hadir di meja makan.

Kebiasaan ini dapat dimulai dengan menarik napas dalam sebelum makan, kemudian memperhatikan aroma, warna, rasa, dan tekstur makanan. Menikmati setiap suapan secara perlahan juga membuat waktu makan terasa lebih rileks.

Selain itu, mindful eating membantu seseorang mengenali hubungan antara emosi dan kebiasaan makan. Ketika mampu membedakan rasa lapar dengan dorongan makan akibat stres atau emosi tertentu, seseorang dapat mencari cara lain untuk mengelola perasaan tersebut.

Kesadaran ini pada akhirnya dapat membantu membangun hubungan yang lebih positif dengan makanan dan diri sendiri.

Menerapkan Kebiasaan Sederhana

Mindful eating tidak membutuhkan rutinitas yang rumit atau menu yang selalu sempurna. Menurut Samantha Morales, kebiasaan ini tetap dapat dilakukan di tengah kesibukan sehari-hari dengan meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, memperhatikan makanan, dan menikmatinya.

Salah satunya dengan mengunyah makanan secara perlahan, meletakkan alat makan di antara suapan, serta mengurangi gangguan seperti bermain ponsel atau menonton televisi ketika makan. Kebiasaan tersebut memberikan kesempatan bagi tubuh untuk mengenali rasa kenyang secara alami.

Waktu makan juga dapat dimanfaatkan sebagai momen berkualitas bersama keluarga. Dengan mengurangi penggunaan gawai di meja makan, menciptakan percakapan yang positif, dan menerapkan jadwal makan yang lebih teratur, keluarga dapat membangun lingkungan makan yang lebih sadar.