Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana seseorang menggunakan media sosial ketika menemukan berita viral, membaca perdebatan, atau melihat informasi yang belum pernah diketahui sebelumnya? Ada orang yang langsung membagikan unggahan menarik, sementara lainnya memilih membaca lebih jauh, memeriksa sumber, bahkan mencari sudut pandang berbeda sebelum memberikan tanggapan.
Perbedaan kebiasaan tersebut terkadang membuat kita penasaran dengan pola pikir seseorang. Tidak sedikit yang menganggap cara bermain media sosial bisa menjadi petunjuk untuk mengenali orang dengan IQ tinggi. Meskipun tidak sepenuhnya keliru bahwa perilaku saat berselancar di media sosial dapat memberikan gambaran tentang kebiasaan seseorang, ada batasan penting yang perlu dipahami agar tidak salah menilai kecerdasan hanya dari aktivitas di internet.
1. Tidak Langsung Membagikan Informasi yang Sedang Viral
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4687013/original/029802400_1702611868-Ilustrasi_main_HP__kirim-menerima_pesan__tersenyum__lucu.jpg)
Salah satu kebiasaan menarik adalah tidak terburu-buru membagikan informasi hanya karena unggahan tersebut sedang ramai diperbincangkan. Seseorang dengan kebiasaan berpikir kritis biasanya berusaha memahami isi informasi terlebih dahulu, termasuk memeriksa siapa yang menyampaikan dan dari mana sumbernya berasal.
Misalnya, ketika menemukan kabar mengenai kesehatan, teknologi, atau fenomena tertentu, ia tidak langsung menekan tombol bagikan. Ada kemungkinan ia membaca artikel lengkap, mencari pemberitaan pembanding, atau memeriksa apakah informasi tersebut memiliki dasar yang jelas. Kebiasaan ini menunjukkan kehati-hatian dalam menerima informasi, bukan sekadar mengikuti arus percakapan.
Penelitian Gordon Pennycook dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 2020 melibatkan lebih dari 1.700 orang dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan berpikir reflektif dan pengetahuan sains berkaitan dengan kemampuan membedakan informasi benar dan keliru sebelum membagikannya di media sosial.
Temuan tersebut menarik karena mengingatkan bahwa keputusan sederhana sebelum membagikan unggahan dapat mencerminkan bagaimana seseorang mempertimbangkan kebenaran informasi. Namun, kemampuan tersebut tetap bukan alat untuk mengukur IQ.
2. Suka Menggali Informasi Lebih Dalam, Bukan Sekadar Membaca Judul
Pernah menemukan seseorang yang selalu ingin tahu lebih banyak setelah membaca satu unggahan? Misalnya, ketika melihat pembahasan tentang perkembangan kecerdasan buatan, ia tidak berhenti pada video singkat, tetapi lanjut mencari artikel, penelitian, atau penjelasan tambahan yang berkaitan dengan topik tersebut.
Kebiasaan seperti ini berkaitan dengan rasa ingin tahu intelektual atau intellectual curiosity. Seseorang tidak hanya menerima informasi yang tersedia di hadapannya, tetapi juga berusaha memahami konteks, mencari hubungan antartopik, dan menemukan penjelasan yang lebih lengkap.
Penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Personality pada 19 Januari 2025 oleh Aki Schumacher dan rekan-rekannya mengamati perilaku pencarian informasi melalui dua studi yang melibatkan 312 dan 960 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa pola pencarian informasi yang lebih luas dan mendalam berkaitan dengan hasil belajar yang lebih baik. Meski demikian, hubungan rasa ingin tahu dengan perilaku pencarian informasi tidak selalu konsisten pada kedua studi tersebut.
Penelitian itu memang tidak secara khusus mengamati aktivitas media sosial ataupun membuktikan bahwa orang yang suka membaca banyak artikel pasti memiliki IQ tinggi. Namun, hasilnya memberikan gambaran bahwa kebiasaan mengeksplorasi informasi dapat membantu seseorang memperoleh pengetahuan lebih luas.
Advertisement
3. Mampu Membedakan Fakta, Opini, dan Informasi yang Belum Terbukti
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5438335/original/086001600_1765282309-4.jpg)
Media sosial merupakan tempat berkumpulnya berbagai jenis informasi. Dalam satu linimasa, kita bisa menemukan berita, pendapat pribadi, pengalaman pengguna, hingga klaim yang belum memiliki bukti kuat. Berbagai informasi tersebut bercampur dan tidak semuanya memiliki tingkat keakuratan yang sama.
Orang yang terbiasa berpikir kritis biasanya berusaha membedakan antara fakta dan opini. Mereka memahami bahwa sebuah pernyataan yang disampaikan dengan percaya diri belum tentu benar. Begitu pula unggahan yang mendapatkan ribuan tanda suka tidak otomatis memiliki informasi yang akurat.
Contohnya, ketika membaca seseorang menyampaikan pendapat tentang suatu peristiwa, pengguna yang kritis akan mempertimbangkan apakah pernyataan tersebut didukung bukti atau hanya berdasarkan pengalaman pribadi. Ia juga tidak mudah menarik kesimpulan hanya dari potongan video maupun tangkapan layar yang kehilangan konteks.
Kebiasaan ini cukup penting karena membantu seseorang menghindari kesalahan dalam memahami persoalan. Kemampuan mengidentifikasi informasi yang belum terbukti juga membuat diskusi di media sosial menjadi lebih sehat dan tidak mudah dipengaruhi oleh kabar yang sedang viral.
4. Terbuka terhadap Perbedaan Pendapat
Cara seseorang menghadapi perbedaan pendapat juga bisa memberikan gambaran mengenai kebiasaan berpikirnya. Ketika menemukan komentar yang bertentangan dengan pandangannya, ia tidak selalu merasa harus membalas atau membuktikan bahwa dirinya paling benar.
Sebaliknya, ia membaca alasan di balik pendapat orang lain. Apabila terdapat informasi baru yang lebih kuat, ia juga tidak keberatan mempertimbangkan kembali pandangannya. Sikap semacam ini menunjukkan keterbukaan intelektual dan kemauan untuk terus belajar.
Dalam praktiknya, pengguna seperti ini cenderung membahas substansi suatu persoalan daripada menyerang kehidupan pribadi orang yang berbeda pendapat dengannya. Ia memahami bahwa perbedaan pandangan tidak selalu menjadi alasan untuk memulai pertengkaran.
Meski begitu, jangan langsung menganggap seseorang memiliki IQ tinggi hanya karena terlihat tenang ketika berdebat. Keterbukaan terhadap pendapat lain merupakan kebiasaan yang dapat dikembangkan dan tidak eksklusif dimiliki orang dengan kemampuan intelektual tertentu.
5. Lebih Mengutamakan Diskusi yang Memberikan Nilai Tambah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365682/original/025931900_1791188933-pexels-robertkso-33395478.jpg)
Media sosial adalah tempat berkumpulnya banyak orang dengan latar yang berbeda-beda, sehingga tak jarang sering terjadi perdebatan di dalamnya. Namun, tidak semua perdebatan di media sosial perlu diikuti. Ada diskusi yang memberikan pengetahuan baru, tetapi ada pula percakapan yang hanya berisi saling menyalahkan tanpa menghasilkan pemahaman berarti.
Seseorang dengan kebiasaan berpikir reflektif biasanya lebih selektif ketika memilih percakapan yang ingin diikuti. Ia dapat memberikan penjelasan, menyampaikan alasan, atau mengajukan pertanyaan untuk memperjelas persoalan tanpa harus merendahkan orang lain.
Kebiasaan tersebut juga terlihat dari cara seseorang menyampaikan komentar. Alih-alih sekadar menulis pernyataan provokatif, ia berusaha memberikan konteks agar orang lain memahami maksud yang disampaikan. Bahkan, ia bisa memilih tidak melanjutkan diskusi ketika percakapan mulai kehilangan substansi.
Menariknya, penelitian Gizem Ceylan, Ian A. Anderson, dan Wendy Wood yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2023 menemukan bahwa sistem penghargaan di media sosial dapat membentuk kebiasaan berbagi informasi secara otomatis. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa desain platform dan kebiasaan pengguna turut memengaruhi perilaku membagikan informasi.
Temuan ini mengingatkan bahwa perilaku seseorang di media sosial juga dipengaruhi lingkungan digitalnya. Karena itu, kualitas interaksi lebih baik diamati dari pola yang berulang daripada satu unggahan atau komentar saja.
Advertisement
Apakah IQ Seseorang Bisa Dikenali dari Cara Bermain Media Sosial?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391992/original/032793800_1793961542-d72a917c-1353-4690-9a2d-5222ca202e0a.jpg)
Intelligence Quotient atau IQ merupakan ukuran yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan intelektual seseorang melalui penilaian tertentu. Kemampuan tersebut berkaitan dengan berbagai aspek, seperti penalaran, pemecahan masalah, pemahaman, serta kemampuan memproses informasi.
Menurut penjelasan American Psychological Association (APA) mengenai tes dan asesmen psikologis, pengukuran psikologis menggunakan instrumen yang telah distandardisasi dan disesuaikan dengan karakteristik yang ingin dinilai. Proses penilaian juga dapat melibatkan beberapa metode, bukan hanya mengamati satu perilaku seseorang. Artinya, unggahan, komentar, atau kebiasaan seseorang saat scrolling media sosial tidak cukup untuk menentukan skor IQ-nya.
Hal tersebut juga diperkuat penelitian Stefan Stieger dan Sabine Wunderl yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada Oktober 2022. Penelitian terhadap lebih dari 12.000 remaja berusia 12–16 tahun tersebut menemukan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan kemampuan kognitif, termasuk kecerdasan, cenderung sangat kecil dan tidak menunjukkan keterkaitan yang berarti.
Jadi, kebiasaan tertentu di media sosial lebih tepat diamati sebagai gambaran cara seseorang mengolah informasi, menunjukkan rasa ingin tahu, dan berinteraksi dengan orang lain. Berikut beberapa perilaku yang menarik untuk diperhatikan.
Jangan Menilai IQ Hanya dari Aktivitas Media Sosial
Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai tanda kecerdasan tinggi, padahal belum tentu memiliki hubungan langsung dengan IQ. Contohnya adalah jumlah pengikut yang banyak, penggunaan kosakata rumit, kebiasaan membagikan kutipan filsafat, hingga jarangnya seseorang mengunggah foto pribadi.
Seseorang yang aktif membuat konten edukasi belum tentu memiliki IQ lebih tinggi dibandingkan pengguna yang lebih suka menikmati hiburan. Begitu pula orang yang jarang menggunakan media sosial tidak otomatis lebih cerdas daripada mereka yang menghabiskan banyak waktu di platform digital.
Kecerdasan memiliki aspek yang lebih luas daripada aktivitas di dunia maya. Kemampuan memahami persoalan, belajar dari pengalaman, memecahkan masalah, dan menyesuaikan diri dengan situasi baru tidak selalu terlihat melalui unggahan seseorang.
Oleh karena itu, media sosial sebaiknya dipandang sebagai salah satu ruang untuk mengamati kebiasaan komunikasi dan pengolahan informasi, bukan tempat menentukan tingkat kecerdasan seseorang. Sikap kritis, rasa ingin tahu, dan keterbukaan terhadap pengetahuan baru justru merupakan kebiasaan yang bisa terus dilatih oleh siapa saja.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Mengenali Orang IQ Tinggi
Apakah orang dengan IQ tinggi jarang menggunakan media sosial?
Tidak selalu. Frekuensi penggunaan media sosial tidak bisa dijadikan ukuran langsung tingkat kecerdasan. Seseorang dengan IQ tinggi tetap bisa aktif menggunakan media sosial untuk bekerja, mencari informasi, belajar, maupun berkomunikasi.
Apakah cara seseorang berkomentar bisa menunjukkan kecerdasannya?
Cara seseorang berkomentar dapat memberikan gambaran mengenai kebiasaan berkomunikasi dan pola pikirnya. Misalnya, kemampuan menyampaikan alasan, mempertimbangkan bukti, serta menghargai perbedaan pendapat. Namun, hal tersebut tidak cukup untuk menentukan skor IQ.
Apakah orang IQ tinggi selalu memiliki pengetahuan luas?
Tidak selalu. IQ dan pengetahuan umum merupakan dua hal yang berkaitan tetapi tidak identik. Pengetahuan seseorang juga dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, kesempatan belajar, dan minat terhadap berbagai bidang.
Apa perbedaan orang cerdas dan orang yang sekadar banyak tahu?
Orang yang banyak tahu memiliki pengetahuan mengenai berbagai hal. Sementara itu, kecerdasan juga berkaitan dengan kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi untuk menghadapi persoalan. Keduanya dapat saling mendukung, tetapi tidak selalu sama.
Bagaimana cara mengetahui IQ seseorang secara akurat?
Pengukuran IQ dilakukan melalui tes kecerdasan yang telah distandardisasi. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan oleh psikolog yang memiliki kompetensi untuk memilih, melaksanakan, dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan sesuai kebutuhan individu.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259592/original/057928600_1781507421-guru_sekolah_rakyat_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4586406/original/086311500_1695517878-BNI_naikan_tarif.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389787/original/061479300_1793772850-Screenshot_2026-11-04_131352.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391990/original/042011600_1793961410-7423b894-1435-406b-a2c9-36d7ac97c032.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391954/original/072137000_1793958689-Vertical_500x656_-_Dayatana.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345690/original/067748100_1789050705-WhatsApp_Image_2026-09-10_at_21.02.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344472/original/056989200_1788947104-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_4.34.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329986/original/052581700_1787307659-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_17.03.26.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308204/original/009529000_1785132477-WhatsApp_Image_2026-07-27_at_12.46.15_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304577/original/005200700_1784721544-WhatsApp_Image_2026-07-22_at_18.12.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291253/original/086637400_1783510555-WhatsApp_Image_2026-07-08_at_17.07.14.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290264/original/065273200_1783441564-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.36.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290208/original/083376600_1783432448-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.29.47.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290170/original/059488200_1783429797-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_19.50.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9271167/original/049315200_1783170039-WhatsApp_Image_2026-07-04_at_17.30.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8974535/original/013451500_1782983178-1106e511-c5ef-46a5-8b74-de1fd75e92f8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262336/original/070728700_1781780140-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_17.41.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1588019/original/097014900_1538998899-PG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392062/original/015622700_1793969928-WhatsApp_Image_2026-11-06_at_12.54.23_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5326833/original/064224500_1756113249-pexels-cottonbro-6951509.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391906/original/073728000_1793955848-16.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341226/original/099520900_1788592507-checking-data-laptop.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4802771/original/069978800_1713246629-Ilustrasi_ramah__bersalaman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5222312/original/031163500_1747389629-steptodown.com582511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5216052/original/997300_1746937601-millennial-group-young-businesspeople-asia-businessman-businesswoman-celebrate-giving-five-after-dealing-feeling-happy-signing-contract-agreement-meeting-room-small-modern-office.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391836/original/022843100_1793953592-HL_anak_tidur.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391758/original/098998700_1793951003-Gemini_Generated_Image_e9qh45e9qh45e9qh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391660/original/098990100_1793946274-e9eff225-d76b-4b24-bdab-750ee7ee7181.jpg)