Cara Mengatasi Ayam Terkena Snot dengan Cepat dan Tepat

Cara mengatasi ayam terkena snot: isolasi ayam sakit, obat sesuai resep dokter hewan, perawatan pendukung, dan biosekuriti kandang yang ketat.

Diterbitkan 07 November 2026, 08:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Cara mengatasi ayam terkena snot perlu dilakukan dengan cepat agar infeksi tidak semakin parah dan menyebar ke ayam lain. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah memisahkan ayam yang sakit, kemudian berkonsultasi dengan dokter hewan untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Selain pemberian obat, perawatan selama masa pemulihan juga perlu diperhatikan. Kebersihan kandang, sirkulasi udara yang baik, serta penerapan biosekuriti menjadi bagian penting untuk membantu mencegah penularan dan mengurangi risiko penyakit kembali muncul.

Mengacu pada MSD Veterinary Manual, snot atau infectious coryza merupakan penyakit pernapasan akut pada ayam yang disebabkan oleh bakteri Avibacterium paragallinarum. Penyakit ini ditandai dengan sejumlah gejala, seperti ayam terlihat lesu, keluar cairan dari hidung, sering bersin, serta mengalami pembengkakan pada bagian wajah. Bakteri penyebabnya dahulu dikenal dengan nama Haemophilus gallinarum.

1. Kenali Gejala Sejak Dini dan Pastikan Diagnosisnya

Langkah awal untuk mengatasi ayam terkena snot adalah mengenali gejalanya sedini mungkin. Penyakit ini dapat menyebar di antara ayam dalam satu kandang, sehingga peternak perlu segera mengidentifikasi unggas yang menunjukkan tanda-tanda infeksi.

Ada beberapa perubahan fisik dan perilaku yang perlu diperhatikan, antara lain:

  1. Wajah dan mata membengkak. Salah satu gejala yang paling mudah dikenali adalah pembengkakan pada wajah, terkadang hanya terjadi di satu sisi. Mata ayam juga bisa terlihat berair, berkerak, atau mengalami peradangan. Pada kondisi tertentu, napas ayam terdengar berat.
  2. Keluar cairan dari hidung dengan bau tidak sedap. Ayam yang terkena snot biasanya mengeluarkan lendir dari lubang hidung. Cairan tersebut memiliki bau busuk yang khas dan dapat disertai keluarnya cairan dari mata.
  3. Lendir hidung berubah menjadi lebih kental. Pada awal infeksi, lendir bisa terlihat bening. Seiring perkembangan penyakit, cairan tersebut dapat berubah menjadi putih keruh dan semakin kental.
  4. Nafsu makan dan produksi telur menurun. Ayam yang sakit biasanya terlihat lesu, kurang aktif, dan cenderung menjauh dari kelompoknya. Nafsu makan yang berkurang juga dapat menyebabkan produksi telur menurun.
  5. Pial mengalami pembengkakan. Selain wajah, bagian pial atau gelambir di bawah paruh juga bisa membengkak. Gejala ini dilaporkan lebih sering ditemukan pada ayam jantan.

Menurut Michigan State University Extension, pembengkakan wajah dan konjungtivitis (peradangan pada selaput mata) merupakan gejala snot yang umum ditemukan. Kondisi tersebut biasanya disertai keluarnya cairan dari hidung dan mata. Pembengkakan pial juga dapat muncul sebagai salah satu tanda infeksi.

Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu cukup untuk memastikan ayam terkena snot. Beberapa penyakit pernapasan unggas lainnya dapat menunjukkan tanda-tanda yang serupa. Karena itu, peternak sebaiknya tidak langsung memberikan obat hanya berdasarkan pengamatan fisik.

Sherrill Davison, DVM, profesor kedokteran dan patologi unggas di Pennsylvania State University, seperti dikutip WATTPoultry, mengingatkan bahwa tidak semua bakteri Avibacterium bersifat patogen. Sebagian di antaranya justru dapat menjadi flora normal pada ayam.

"Anda perlu tahu bahwa tidak semua Avibacterium bersifat patogen; sebagian justru merupakan flora normal."

Oleh karena itu, pemeriksaan dokter hewan diperlukan untuk memastikan penyebab penyakit. Mengacu pada University of Maryland Extension, ayam yang dicurigai terkena snot sebaiknya diperiksa oleh dokter hewan. Sampel atau ayam yang sakit juga dapat dikirim ke laboratorium kesehatan hewan terdekat untuk menjalani pengujian.

Diagnosis yang tepat membantu peternak menentukan penanganan sesuai penyebab infeksi sekaligus mengurangi risiko pemberian obat yang tidak diperlukan.

2. Segera Isolasi Ayam yang Sakit

Setelah menemukan ayam dengan gejala snot, segera pisahkan unggas tersebut dari kelompoknya. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat melalui kontak dengan ayam yang terinfeksi maupun lingkungan kandang yang terkontaminasi. Isolasi membantu mengurangi risiko penularan sekaligus memudahkan peternak memantau kondisi ayam yang sakit.

Agar proses karantina berjalan efektif, perhatikan beberapa hal berikut:

  1. Siapkan kandang karantina terpisah. Tempatkan ayam yang sakit di area yang berjauhan dari kandang utama. Sediakan tempat pakan dan minum khusus agar peralatan tersebut tidak digunakan bersama ayam sehat.
  2. Jaga kondisi kandang tetap nyaman. Pastikan kandang isolasi bersih, kering, memiliki ventilasi yang baik, dan terlindung dari cuaca ekstrem. Letakkan pakan serta air minum di tempat yang mudah dijangkau agar ayam tetap mendapatkan asupan selama pemulihan.
  3. Pantau kondisi ayam lainnya. Periksa kelompok ayam yang masih sehat setiap hari. Amati kemungkinan munculnya gejala seperti bersin, keluarnya cairan dari hidung, mata berair, atau pembengkakan pada wajah.
  4. Rawat ayam sehat terlebih dahulu. Saat memberikan pakan dan membersihkan kandang, dahulukan kelompok yang sehat sebelum menangani ayam di area karantina. Cara ini membantu mengurangi risiko perpindahan bakteri melalui tangan, pakaian, atau peralatan.
  5. Gunakan perlengkapan khusus. Sediakan alas kaki dan pakaian yang hanya digunakan di kandang isolasi. Setelah selesai merawat ayam yang sakit, bersihkan tangan dan perlengkapan sebelum kembali ke area kandang utama.

Dilansir dari Grubbly Farms, ayam yang diduga terkena snot sebaiknya dikarantina jauh dari kelompok lainnya untuk mengurangi paparan bakteri terhadap unggas yang sehat. Langkah ini juga memungkinkan peternak memberikan perawatan secara lebih terarah tanpa meningkatkan risiko penularan di dalam kandang.

Isolasi sebaiknya tetap dilakukan selama ayam menunjukkan gejala dan mengikuti arahan dokter hewan. Peternak juga perlu menjaga kebersihan area karantina karena bakteri penyebab snot dapat menyebar melalui lingkungan dan peralatan yang terkontaminasi.

3. Berikan Pengobatan Sesuai Anjuran Dokter Hewan

Snot merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri sehingga penanganannya dapat melibatkan pemberian antibiotik. Namun, peternak tidak disarankan memilih obat sendiri tanpa pemeriksaan dokter hewan. Jenis antibiotik, dosis, serta lama pengobatan perlu disesuaikan dengan kondisi ayam dan tingkat keparahan infeksi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama proses pengobatan, antara lain:

  1. Konsultasikan pemilihan antibiotik. Mintalah dokter hewan menentukan jenis obat yang sesuai berdasarkan hasil pemeriksaan. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat membuat pengobatan kurang efektif dan meningkatkan risiko resistansi antimikroba.
  2. Sesuaikan cara pemberian obat. Antibiotik dapat diberikan melalui air minum atau pakan apabila sesuai dengan petunjuk dokter hewan. Metode ini dapat memudahkan pengobatan dalam kelompok ayam. Namun, pastikan setiap ayam mendapatkan dosis yang cukup, terutama jika nafsu makannya sudah menurun.
  3. Pertimbangkan pemberian obat melalui suntikan. Pada kasus yang lebih berat, terutama ketika ayam kesulitan makan dan minum, dokter hewan dapat mempertimbangkan pemberian obat melalui suntikan. Tindakan ini harus dilakukan oleh tenaga yang kompeten sesuai dosis dan kondisi ayam.
  4. Perhatikan masa henti obat. Peternak ayam petelur dan pedaging perlu mematuhi masa henti atau withdrawal period yang ditetapkan untuk setiap obat. Ketentuan ini penting untuk mencegah residu obat tertinggal pada telur maupun daging yang akan dikonsumsi.
  5. Ikuti seluruh rangkaian pengobatan. Jangan menghentikan pemberian obat hanya karena gejala mulai berkurang. Selesaikan pengobatan sesuai petunjuk dokter hewan dan lakukan pemeriksaan lanjutan jika kondisi ayam belum membaik.

Dilansir dari AnimalWised, penanganan infectious coryza dapat melibatkan antibiotik, seperti eritromisin, dihidrostreptomisin, streptomisin, sulfonamida, tilosin, dan fluorokuinolon. Namun, daftar tersebut bukan rekomendasi untuk digunakan secara bebas. Pemilihan antibiotik tetap harus mempertimbangkan hasil diagnosis, aturan penggunaan obat pada unggas, serta ketentuan keamanan pangan yang berlaku.

Hal lain yang perlu dipahami adalah pemberian antibiotik tidak selalu menghilangkan bakteri penyebab snot sepenuhnya. Ayam yang sudah terlihat pulih pun berpotensi tetap menjadi pembawa bakteri dan menularkannya kepada unggas lain.

Sebagaimana dilaporkan Ralco, penggunaan antibiotik saja tidak cukup untuk mengatasi masalah snot dalam jangka panjang. Manajemen kandang yang baik dan perawatan pendukung tetap diperlukan untuk membantu pemulihan ayam serta mengurangi risiko penyakit kembali muncul.

4. Lakukan Perawatan Pendukung dan Sanitasi Kandang

Selain pemberian obat, perawatan pendukung juga berperan penting dalam proses pemulihan ayam yang terkena snot. Pastikan ayam mendapatkan cukup air minum, nutrisi yang seimbang, dan lingkungan yang nyaman agar kondisinya tidak semakin melemah selama masa pengobatan.

Beberapa langkah perawatan yang bisa dilakukan peternak meliputi:

  1. Berikan vitamin dan elektrolit. Vitamin dan elektrolit dapat ditambahkan ke air minum sesuai kebutuhan dan petunjuk penggunaannya. Pemberian ini membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh, terutama pada ayam yang mengalami penurunan asupan pakan dan minum.
  2. Bantu ayam memenuhi kebutuhan nutrisi. Jika nafsu makan menurun, berikan pakan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Pilih pakan berkualitas dengan tekstur yang mudah dikonsumsi agar ayam tetap mendapatkan asupan nutrisi selama pemulihan.
  3. Perbaiki sirkulasi udara kandang. Pastikan kandang memiliki ventilasi yang cukup agar udara segar dapat bersirkulasi dengan baik. Sirkulasi udara yang buruk dapat menyebabkan penumpukan amonia dan debu yang berpotensi memperburuk gangguan pernapasan.
  4. Ganti alas kandang yang lembap. Segera bersihkan litter atau alas kandang yang basah akibat tumpahan air minum maupun kotoran. Ganti dengan bahan yang kering untuk mengurangi kelembapan dan menjaga lingkungan kandang tetap bersih.
  5. Bersihkan tempat pakan dan minum. Cuci peralatan secara rutin untuk menghilangkan sisa pakan, lendir, dan kotoran. Jika menggunakan disinfektan, pilih produk yang sesuai untuk lingkungan peternakan dan ikuti petunjuk pemakaiannya.
  6. Kurangi kepadatan dan stres pada ayam. Hindari menempatkan terlalu banyak ayam dalam satu kandang. Jaga pula suhu lingkungan tetap nyaman dan minimalkan gangguan selama masa pemulihan.

Dilansir dari Cackle Hatchery, perawatan pendukung ayam yang terkena snot mencakup pemberian pakan lebih sering untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, serta penambahan vitamin dan elektrolit pada air minum untuk menjaga hidrasi. Kandang juga perlu memiliki ventilasi yang baik agar kualitas udara tetap terjaga.

Selain itu, kecukupan nutrisi perlu diperhatikan selama masa pemulihan. Pemberian pakan lengkap dan berkualitas membantu memenuhi kebutuhan vitamin serta mineral ayam. Vitamin A, E, dan C juga berperan dalam mendukung fungsi tubuh dan sistem kekebalan, meskipun pemberiannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan tidak menggantikan pengobatan utama.

Peternak juga perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kandang saat musim hujan. Kelembapan tinggi dan alas kandang yang basah dapat meningkatkan pembentukan amonia dari kotoran ayam. Gas ini dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga memperburuk kondisi unggas yang sedang sakit.

Untuk mengurangi risiko tersebut, peternak dapat menerapkan cara menjaga kandang ayam tetap kering. Kebersihan, ventilasi, dan pengelolaan kelembapan yang baik perlu menjadi bagian dari rutinitas pemeliharaan, bukan hanya dilakukan ketika penyakit mulai muncul.

Langkah Pencegahan agar Snot Tidak Kembali Menyerang

Setelah ayam pulih, peternak tetap perlu melakukan langkah pencegahan agar snot tidak kembali menyerang. Pasalnya, ayam yang sudah sembuh masih berpotensi menjadi pembawa bakteri tanpa menunjukkan gejala. Kondisi ini membuat unggas tersebut tetap berisiko menularkan penyakit kepada ayam lain.

Berdasarkan laporan WATTPoultry yang mengutip imbauan Departemen Pertanian Kepulauan Cayman, ayam yang sembuh dari infectious coryza dapat tetap membawa bakteri sepanjang hidupnya dan menyebarkannya meskipun gejala klinis sudah menghilang. Meski demikian, penyakit ini tidak bersifat zoonosis atau menular kepada manusia. Bakteri penyebab snot juga tidak secara langsung memengaruhi keamanan daging maupun telur ayam.

Untuk mengurangi risiko penularan, peternak dapat menerapkan beberapa langkah pencegahan berikut:

  • Karantina ayam baru sebelum digabungkan. Pisahkan ayam yang baru dibeli setidaknya selama 30 hari sebelum memasukkannya ke dalam kawanan lama. Langkah ini penting karena ayam yang terlihat sehat belum tentu bebas dari bakteri penyebab snot.
  • Terapkan sistem all-in all-out. Sistem ini dilakukan dengan memasukkan dan mengeluarkan ayam dalam satu kelompok pemeliharaan secara bersamaan. Dengan demikian, peternak dapat membersihkan dan menyiapkan kandang sebelum kelompok ayam berikutnya masuk. Mengacu pada MSD Veterinary Manual, penerapan sistem ini berperan dalam menekan kasus infectious coryza di peternakan broiler komersial Amerika Serikat.
  • Hindari mencampur ayam dengan usia berbeda. Memelihara ayam dalam kelompok umur yang seragam dapat membantu mengurangi risiko perpindahan penyakit. Jika memungkinkan, pisahkan ayam petelur, ayam muda, dan ayam dewasa dalam area pemeliharaan berbeda.
  • Bersihkan dan disinfeksi kandang setelah wabah. Jika kawanan harus diafkir akibat infeksi, bersihkan kandang dari kotoran, sisa pakan, dan bahan organik sebelum melakukan disinfeksi. Setelah itu, kosongkan kandang sementara sebelum memasukkan kelompok ayam baru. Lama pengosongan perlu disesuaikan dengan kondisi peternakan dan arahan dokter hewan.
  • Manfaatkan masa kosong kandang. Mengutip Backyard Poultry dari Countryside, bakteri Avibacterium paragallinarum relatif tidak tahan lama di luar tubuh ayam dan dapat bertahan sekitar dua hingga tiga hari dalam kondisi lingkungan tertentu. Karena itu, pengosongan kandang yang disertai pembersihan menyeluruh dapat membantu mengurangi keberadaan bakteri di lingkungan pemeliharaan.
  • Gunakan bak celup kaki dan perlengkapan khusus. Sediakan bak berisi disinfektan di pintu masuk kandang atau gunakan sepatu bot khusus untuk area peternakan. Batasi pula kunjungan orang yang tidak berkepentingan agar risiko masuknya bibit penyakit dari luar dapat dikurangi.
  • Cegah burung liar masuk ke kandang. Pasang jaring atau kawat pelindung pada bagian kandang dan area umbaran. Selain menjaga ayam dari gangguan hewan lain, pembatasan kontak dengan unggas dari luar juga membantu memperkuat penerapan biosekuriti.
  • Pertimbangkan vaksinasi jika diperlukan. Vaksin snot dapat menjadi salah satu pilihan pencegahan, terutama pada peternakan yang memiliki riwayat infeksi berulang. Namun, pemilihan vaksin perlu mempertimbangkan jenis serovar bakteri yang beredar di wilayah peternakan.

Dalam pembahasan mengenai vaksinasi, John Brown, DVM, dokter hewan senior bidang layanan teknis di Zoetis, seperti dikutip The Poultry Site, menjelaskan bahwa serovar A, B, dan C pada bakteri penyebab snot tidak memberikan perlindungan silang. Artinya, vaksin perlu mengandung serovar yang sesuai dengan bakteri penyebab infeksi di populasi sasaran agar perlindungannya efektif.

"Serovar A, B, dan C tidak memberikan perlindungan silang, sehingga vaksin perlu mengandung serovar yang ada di populasi sasaran agar efektif."

Untuk peternakan skala rumahan, vaksinasi perlu dipertimbangkan berdasarkan risiko penyakit dan jumlah ayam yang dipelihara. Sherrill Davison, dokter hewan spesialis unggas, seperti dikutip Countryside, menyebutkan bahwa vaksinasi snot lebih ditujukan untuk kawanan dalam skala besar. Oleh karena itu, peternak sebaiknya berkonsultasi dengan dokter hewan sebelum menentukan kebutuhan vaksinasi.

Selain itu, peternak yang sedang merintis usaha sebaiknya membangun kebiasaan menjaga kesehatan unggas sejak awal. Menerapkan perawatan kesehatan preventif secara konsisten dapat membantu mengurangi risiko penyakit, menjaga produktivitas, dan mendukung keberlangsungan usaha peternakan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ayam Terkena Snot

Apakah ayam yang terkena snot bisa sembuh total?

Ayam bisa pulih dari gejalanya dengan pengobatan dan perawatan yang tepat, terutama jika ditangani sejak dini. Namun ayam yang sembuh bisa tetap membawa bakteri, sehingga tetap perlu dipantau dan dipisahkan dari ayam baru.

Apakah telur dan daging ayam yang terkena snot aman dikonsumsi?

Snot tidak menular ke manusia dan tidak memengaruhi keamanan daging maupun telur. Meski begitu, jika ayam sedang diobati antibiotik, patuhi masa henti obat agar tidak ada residu pada produk yang dikonsumsi.

Berapa lama ayam bisa pulih dari snot?

Sebagian ayam bisa pulih dalam beberapa minggu, sementara yang lain mungkin masih menunjukkan gejala pernapasan ringan lebih lama. Produksi telur biasanya juga butuh waktu untuk kembali normal setelah ayam sembuh.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6