Mengenal Rumah Maggot, Solusi Pengelolaan Sampah Organik yang Jadi Salah Satu Program Pengabdian di Genera-Z Berbakti 2026

Kenali rumah maggot, cara kerja dan manfaatnya untuk mengelola sampah organik yang turut dikembangkan di Genera-Z Berbakti 2026.

Diterbitkan 18 September 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Persoalan sampah organik dapat ditangani melalui berbagai cara, salah satunya dengan memanfaatkan maggot. Gagasan ini turut diterapkan dalam program pengabdian Genera-Z Berbakti 2026. Tim Laskar Selasik UGM di Desa Wisata Kreatif Terong, Belitung, mengembangkan rumah maggot sebagai bagian dari Terong Eco Cycle. Sementara Tim Pelita UNPAD di Desa Wisata Situs Gunung Padang, Cianjur, juga memiliki program chamber maggot.

Kehadiran program tersebut sekaligus memperkenalkan salah satu alternatif pengelolaan sampah organik. Pasalnya, maggot dapat memanfaatkan material organik sebagai sumber makanan sekaligus menghasilkan produk yang masih memiliki nilai guna. Lantas, apa sebenarnya rumah maggot dan bagaimana manfaatnya dalam membantu mengelola sampah organik

 

Rumah Maggot Jadi Bagian Program Pengabdian Genera-Z Berbakti 2026

Dalam Genera-Z Berbakti 2026, Tim Laskar Selasik UGM mengembangkan rumah maggot sebagai bagian dari program Terong Eco Cycle di Desa Wisata Kreatif Terong, Belitung. Tim mempersiapkan material untuk pembangunan fasilitas tersebut, sedangkan maggot didatangkan dari Jawa menuju Belitung.

Program terkait maggot juga dijalankan Tim Pelita Unpad di Desa Wisata Situs Gunung Padang. Dalam pelaksanaannya, tim sempat menghadapi tantangan ketika sebagian besar maggot yang dibawa mati. Anggota tim kemudian mencari maggot baru agar program dapat terus berjalan.

Meski diterapkan dalam program yang berbeda, pemanfaatan maggot oleh kedua tim tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni mengenalkan cara lain dalam mengelola material organik agar dapat dimanfaatkan kembali.

Apa Itu Maggot BSF dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Maggot yang banyak dimanfaatkan dalam pengolahan sampah organik adalah larva Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens. Mengutip Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), larva BSF memiliki kemampuan untuk mengurai limbah organik secara cepat, termasuk limbah yang dihasilkan pasar, industri makanan, dan restoran.

Secara sederhana, rumah maggot menjadi fasilitas yang mendukung proses pemeliharaan dan budidaya maggot. Larva BSF dapat diberi material organik yang telah dipilah sebagai sumber makanan.

FAO memberikan contoh penerapannya melalui proyek BioDAF di Pantai Gading. Setelah telur BSF menetas, larva ditempatkan bersama buah dan sayuran yang telah dihancurkan. Larva kemudian memanfaatkan bahan organik tersebut untuk tumbuh sebelum akhirnya dipisahkan untuk pemanfaatan lebih lanjut.

Kemampuan larva BSF memanfaatkan limbah organik membuatnya berpotensi membantu mengurangi material organik yang perlu dibuang. Namun, manfaatnya tidak berhenti pada proses penguraian sampah.

FAO menyebut larva BSF yang telah tumbuh dapat menjadi sumber protein yang bernilai untuk pakan ikan, unggas, dan babi. Proses konsumsi limbah organik oleh larva juga menghasilkan digestate yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman.

Pemanfaatan tersebut membuat pengolahan sampah menggunakan BSF dapat menjadi bagian dari pendekatan ekonomi sirkular. Material organik yang sebelumnya dianggap limbah dapat diproses kembali untuk menghasilkan produk yang masih memiliki nilai guna.

Sampah Organik Apa yang Bisa Dimanfaatkan?

Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Teknologi Lingkungan terbitan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan sampah buah dan sayuran dapat dimanfaatkan sebagai pakan dalam budidaya larva BSF.

Proses budidaya tersebut juga menghasilkan kasgot atau residu yang kemudian diuji berdasarkan sejumlah parameter. Dalam penelitian itu, variasi pakan 50 persen sayur dan 50 persen buah menghasilkan kualitas kasgot terbaik di antara tiga variasi yang diuji dan memenuhi standar yang digunakan peneliti.

Meski demikian, penggunaan maggot bukan berarti semua jenis sampah dapat langsung dicampurkan. Pemilahan tetap diperlukan untuk memisahkan material organik dari sampah lainnya sebelum proses pengolahan dilakukan.

Dari Program Pengabdian, Dorong Kesadaran Kelola Sampah

Program yang dikembangkan Tim Laskar Selasik UGM dan Tim Pelita UNPAD dalam Genera-Z Berbakti 2026 menunjukkan bagaimana isu pengelolaan lingkungan dapat diterjemahkan menjadi kegiatan di lokasi pengabdian.

Rumah maggot memang bukan satu-satunya solusi untuk persoalan sampah. Namun, kemampuan larva BSF dalam memanfaatkan bahan organik menunjukkan adanya alternatif untuk mengolah sampah sekaligus menghasilkan material yang dapat digunakan kembali.

Pada akhirnya, upaya mengelola sampah juga bisa dimulai dari langkah sederhana, yakni memilah sampah sejak dari sumber. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik tidak harus selalu berakhir sebagai limbah, tetapi dapat kembali memberikan nilai guna.

Yuk, simak cerita menarik tentang Rumah Maggot yang diusung tim Laskar Selasik UGM dan Tim Pelita UNPAD dalam Genera-Z Berbakti 2026 di YouTube Solusi BCA atau ketik bca.id/genzberbakti.