Doa Nabi Zakaria Meminta Keturunan walau Sudah Tua, Teladan Optimisme

Doa Nabi Zakaria Meminta Keturunan walau Sudah Tua, Teladan Optimisme

Diterbitkan 18 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Doa Nabi Zakaria AS merupakan salah satu munajat paling menyentuh yang terekam dalam Al-Qur’an. Nabi Zakaria mengakui kelemah seorang hamba, sekaligus kuatnya harapan kepada Allah SWT. Doa ini menjadi landasan konsep dzurriyyah thayyibah dalam Islam.

Di sisi lain, doa Nabi Zakaria menjadi teladan adab berdoa. Muhajirul Fadhli dan Syifa' binti Ahmad Fauzi dalam jurnal Optimisme Nabi Zakaria dan Siti Maryam dalam Menghadapi Ujian menurut Al-Qur'an menegaskan bahwa sifat optimisme dan tidak berputus asa pada nikmat Allah merupakan ciri-ciri orang yang beriman.

Nabi Zakaria berdoa dengan suara yang lembut, mengadu kepada Allah tentang kelemahannya, namun tidak merasa kecewa dan terus berdoa dengan penuh harapan. Sikap ini menjadi teladan bahwa kelemahan fisik bukan penghalang untuk tetap optimis dalam berdoa.

Silvia Marina dkk dalam jurnal Dari Mukjizat Maryam hingga Kelahiran Yahya: Tafsir Dzurriyyah Thayyibah dalam Doa Nabi Zakaria menyoroti doa Nabi Zakaria yang tidak hanya dimaknai sebagai permintaan keturunan biologis, melainkan sebagai visi profetik untuk mencetak generasi unggul secara spiritual, moral, dan intelektual.

Doa ini menjadi pijakan konseptual bagi pendidikan keluarga berbasis nilai-nilai kenabian, di mana doa, keteladanan, dan lingkungan spiritual menjadi fondasi lahirnya generasi ideal menurut Al-Qur'an.

Doa-Doa Nabi Zakaria

1. Doa Nabi Zakaria di Surah Ali Imran

Selain doa dalam QS. Maryam ayat 4, Nabi Zakaria juga memanjatkan doa dalam QS. Ali Imran ayat 38:

Arab: رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

Latin: Rabbi hab lī mil ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka samī'ud-du'ā'

Artinya: "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."

2. Doa Nabi Zakaria dalam QS. Maryam:

Arab: قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا ٤

Artinya: Qāla rabbi innī wahanal-'aẓmu minnī wasyta'alar-ra'su syaibaw wa lam akum bidu'ā'ika rabbi syaqiyyā

Artinya: "Dia (Zakaria) berkata, 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.'" (QS. Maryam/19: 4)

3. Doa Nabi Zakaria dalam Surah Al Anbiya

وَزَكَرِيَّآ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ ۚ

latin: Wa zakariyyā iż nādā rabbahụ rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn

Artinya: (Ingatlah) Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang Engkau adalah sebaik-baik waris.

Doa selanjutnya dilafalkan Nabi Zakaria AS usai terkagum dengan kemuliaan dan kecerdasan Maryam, ibu dari Nabi Isa AS. Doanya termaktub dalam surat Ali Imran ayat 38.

Keutamaan Doa Nabi Zakaria

1. Doa yang Mampu Mengubah Kemustahilan

Doa Nabi Zakaria menjadi bukti nyata bahwa doa seorang hamba dapat mengubah keadaan yang tampaknya mustahil. Beliau berdoa memohon keturunan dalam keadaan usia yang sangat tua dan istri yang mandul, namun Allah mengabulkan doanya dengan memberikan seorang anak laki-laki bernama Yahya. Silvia Marina dkk menegaskan bahwa doa Nabi Zakaria lahir dari kesadaran spiritual bahwa Allah mampu melampaui hukum sebab-akibat. Keutamaan ini mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan doa adalah sarana yang dapat mengubah takdir.

2. Doa yang Mengandung Adab dan Tawasul yang Baik

Nabi Zakaria memulai doanya dengan mengakui kelemahan tulang dan uban di kepalanya. Ini bukanlah keluhan, melainkan bentuk tawasul (perantara) kepada Allah dengan menyebutkan keadaan diri yang penuh keterbatasan. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Nabi Zakaria menyebutkan kelemahan dan kekurangan diri sendiri agar doanya untuk dikaruniai seorang anak laki-laki dapat dikabulkan. Keutamaan ini mengajarkan bahwa adab berdoa yang baik—dimulai dengan pujian, pengakuan kelemahan, dan kerendahan hati—merupakan kunci terbukanya pintu ijabah.

3. Doa yang Berorientasi pada Visi Profetik

Doa Nabi Zakaria tidak hanya dimaknai sebagai permintaan keturunan biologis, melainkan sebagai visi profetik untuk mencetak generasi unggul secara spiritual, moral, dan intelektual. Dalam QS. Ali Imran ayat 38, beliau memohon dzurriyyah thayyibah—keturunan yang baik, suci, dan membawa kebaikan. Penelitian Silvia Marina dkk menunjukkan bahwa doa ini merupakan permohonan akan generasi yang memiliki keimanan dan ketakwaan, keteladanan yang baik, ahli ibadah, dan sangat menjaga kehormatan diri. Keutamaan ini mengajarkan bahwa doa seorang hamba seharusnya berorientasi pada kebaikan umat dan keberlanjutan dakwah, bukan sekadar kepentingan pribadi.

4. Doa yang Mengajarkan Kesabaran dan Konsistensi

Nabi Zakaria menyatakan bahwa beliau belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa beliau memiliki konsistensi luar biasa dalam berdoa sepanjang hidupnya, selama belasan dekade tanpa henti. Dalam Tafsir Jalalayn, makna frasa "aku belum pernah kecewa" adalah "aku belum pernah merasa dikecewakan di masa-masa lalu; maka janganlah Engkau kecewakan aku di masa mendatang." Keutamaan ini mengajarkan bahwa doa membutuhkan kesabaran dan konsistensi, dan jangan berhenti berdoa hanya karena belum melihat hasilnya.

5. Doa yang Dikabulkan karena Ketaatan dan Kekhusyukan

Dalam QS. Al-Anbiya' ayat 90, Allah menyebutkan tiga alasan terkabulnya doa Nabi Zakaria: pertama, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan; kedua, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan cemas; ketiga, mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Allah. Nabi Zakaria dan keluarganya sangat ingin memohon kepada Allah setiap saat, baik saat suka maupun duka. Keutamaan ini mengajarkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan ketaatan, kekhusyukan, dan kesungguhan memiliki peluang besar untuk dikabulkan oleh Allah.

 

Pertanyaan Seputar Doa Nabi Zakaria

1. Apa saja doa Nabi Zakaria?

Nabi Zakaria memiliki beberapa doa yang terekam dalam Al-Qur'an, di antaranya: (1) QS. Maryam ayat 4, yaitu pengaduan kelemahan tulang dan uban sambil menyatakan tidak pernah kecewa dalam berdoa; (2) QS. Ali Imran ayat 38, yaitu permohonan keturunan yang baik (dzurriyyah thayyibah) dari sisi Allah; dan (3) QS. Al-Anbiya' ayat 89, yaitu permohonan agar tidak dibiarkan hidup sendiri tanpa keturunan dan pengakuan bahwa Allah adalah sebaik-baik waris.

2. Apa makna dzurriyyah thayyibah dalam doa Nabi Zakaria?

Dzurriyyah thayyibah berarti keturunan yang baik, suci, dan membawa kebaikan. Dalam konteks doa Nabi Zakaria, istilah ini tidak hanya merujuk pada anak yang saleh secara moral, tetapi juga mencakup kualitas spiritual, intelektual, sosial, dan profetik. Anak yang dimaksud adalah generasi yang memiliki hati bersih, adab mulia, serta membawa kebaikan dalam aspek agama dan dunia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata thayyibah mencakup makna keturunan yang tumbuh dalam bimbingan kesalehan, beramal dengan akhlak luhur, dan memiliki spiritualitas yang bersih.

3. Mengapa doa Nabi Zakaria dikabulkan meskipun usianya sudah tua?

Doa Nabi Zakaria dikabulkan karena beberapa faktor: (1) beliau berdoa dengan penuh adab dan kerendahan hati, mengakui kelemahan diri sebagai tawasul; (2) beliau memiliki konsistensi dan kesabaran luar biasa dalam berdoa selama bertahun-tahun; (3) beliau dan keluarganya selalu bersegera dalam kebaikan, berdoa dengan penuh harap dan cemas, serta khusyuk kepada Allah (QS. Al-Anbiya': 90); dan (4) Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Allah berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku" (QS. Maryam: 9).

4. Apa perbedaan doa Nabi Zakaria dalam Surat Maryam dan Surat Ali Imran?

Dalam QS. Maryam ayat 4, doa Nabi Zakaria berisi pengaduan kelemahan fisik—tulang yang lemah dan uban di kepala—sebagai tawasul kepada Allah, disertai pernyataan bahwa beliau tidak pernah kecewa dalam berdoa. Sedangkan dalam QS. Ali Imran ayat 38, doa beliau lebih spesifik berupa permohonan dzurriyyah thayyibah (keturunan yang baik) dari sisi Allah. Kedua doa ini saling melengkapi: yang pertama menunjukkan adab dan kerendahan hati, sedangkan yang kedua menunjukkan substansi permohonan yang berorientasi pada kualitas spiritual keturunan.

5. Bagaimana cara mengamalkan doa Nabi Zakaria dalam kehidupan sehari-hari?

Doa Nabi Zakaria dapat diamalkan dengan membaca teks doanya secara rutin, terutama bagi pasangan yang mendambakan keturunan. Selain itu, kita dapat meneladani adab berdoa beliau: memulai dengan pujian kepada Allah, mengakui kelemahan diri, menyebutkan nikmat Allah yang telah diberikan, dan memanjatkan permohonan dengan penuh keyakinan. Doa ini juga dapat menjadi sarana muhasabah untuk membangun kesadaran spiritual bahwa setiap permohonan harus disertai dengan usaha maksimal, ketaatan, dan kekhusyukan.