4 Ayat Al-Qur’an tentang Dunia yang Fana dan Pentingnya Mempersiapkan Akhirat, Tafsir dan Hikmahnya

Ayat Al-Qur’an tentang dunia yang fana dan pentingnya mempersiapkan akhirat menjadi landasan untuk memaknai hakikat kehidupan

Diterbitkan 18 September 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur’an tentang dunia yang fana dan pentingnya mempersiapkan akhirat menjadi landasan untuk memaknai hakikat kehidupan. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah negeri keabadian yang menjadi tujuan akhir perjalanan manusia.

Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dari Al-Mustaurid bin Syaddad mengungkapkan, perbandingan dunia dengan akhirat hanyalah seperti setetes air yang tersisa di ujung jari setelah dicelupkan ke lautan.

Para ulama telah lama mengingatkan pentingnya memahami hakikat dunia. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menegaskan bahwa kehidupan dunia sebagai tempat bekerja dan mencari penghidupan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana menuju kehidupan akhirat yang lebih kekal.

Senada dengan itu, Ibnu al-Qayyim dalam kitab Iddat ash-Shabirin wa Dzakhirat asy-Syakirin menjelaskan bahwa dunia adalah permainan dan hiburan yang tidak memiliki hakikat, sekaligus menjadi gangguan bagi jiwa yang membuang-buang waktu.

Penelitian Mahmudatun Fudhla dkk, dalam Maliki Interdisciplinary Journal menegaskan bahwa keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat merupakan prinsip fundamental yang harus dipegang setiap Muslim. Mereka yang hanya mengejar dunia tanpa mempersiapkan akhirat akan merugi, sebagaimana mereka yang hanya fokus pada akhirat hingga melupakan tanggung jawab duniawi juga tidak dibenarkan.

Ferizal dkk. dalam Journal of Creative Student Research menunjukkan bahwa mahasiswa yang memahami konsep keseimbangan dunia-akhirat cenderung lebih bijak dalam mengelola waktu, meskipun masih menghadapi tantangan dalam mengatur prioritas antara tuntutan akademik dan ibadah. Kesadaran spiritual menjadi kunci dalam menciptakan manajemen waktu yang selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Dunia yang Fana dan Persiapan Akhirat

1. QS Al-A’la (87): 16-17

Teks Arab: بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ١٦ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى ١٧

Latin: Bal tu’tsirūnal-ḥayātad-dun-yā. Wal-ākhiratu khairun wa abqā.

Artinya: “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Al-Qurtubi dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa ayat ini mengecam mereka yang lebih mengutamakan kesenangan dunia yang fana dan kotor dibandingkan kenikmatan akhirat yang suci dan abadi. Ibnu Katsir menambahkan bahwa pahala Allah di negeri akhirat lebih baik dan lebih kekal karena dunia pasti akan fana dalam waktu singkat.

2. QS Al-Hadid (57): 20

Teks Arab: اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Latin: I‘lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la‘ibun wa lahwun wa zīnatun wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-aulād, kamaṡali gaiṡin a‘jabal-kuffāra nabātuhū ṡumma yahīju fatarāhu muṣfarran ṡumma yakūnu ḥuṭāmā, wa fil-ākhirati ‘ażābun syadīdun wa magfiratun minallāhi wa riḍwān, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā‘ul-gurūr.

Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa ayat ini merendahkan kehidupan dunia sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, dan bermegah-megahan. Dunia digambarkan seperti tanaman yang tumbuh subur setelah hujan, namun kemudian mengering dan hancur, menunjukkan betapa cepatnya dunia kehilangan kilaunya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menegaskan bahwa dunia adalah ladang akhirat, sehingga setiap aktivitas duniawi harus diorientasikan untuk mempersiapkan bekal kehidupan yang kekal.

3. QS Al-Qasas (28): 77

Arab: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Latin: Wabtagi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka minad-dun-yā wa aḥsin kamā aḥsanallāhu ilaika wa lā tabgil-fasāda fil-arḍ, innallāha lā yuḥibbul-mufsidīn.

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat ini mengajarkan keseimbangan (mīzān) antara dunia dan akhirat. Segala nikmat yang Allah anugerahkan hendaknya dijadikan sarana menuju kebahagiaan abadi, tanpa melupakan tanggung jawab dan kebaikan di dunia.

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa dunia adalah sarana mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri, sehingga seorang Muslim harus cerdas dalam mengelola anugerah Allah untuk kepentingan akhirat tanpa mengabaikan kewajiban duniawinya.

4. QS Ali Imran (3): 148

Arab: فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Latin: Fa ātāhumullāhu ṡawābad-dun-yā wa ḥusna ṡawābil-ākhirah, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.

Artinya: “Maka, Allah menganugerahi mereka balasan (di) dunia dan pahala yang baik (di) akhirat. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Allah mengabulkan doa orang-orang beriman dengan memberi mereka pahala di dunia berupa kemenangan, harta rampasan perang, nama baik, dan kehormatan, serta pahala yang baik di akhirat berupa surga dan keridhaan Allah.

Ayat ini memberikan motivasi kepada umat Islam untuk senantiasa berbuat kebaikan, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha mereka. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menegaskan bahwa kebaikan yang dilakukan di dunia akan mendatangkan balasan berlipat ganda, baik di dunia maupun di akhirat.

Hikmah Memahami Ayat Al-Qur’an tentang Dunia yang Fana dan Pentingnya Mempersiapkan Akhirat

1. Membebaskan Diri dari Tipu Daya Dunia

Memahami bahwa dunia hanya permainan dan senda gurau membebaskan manusia dari obsesi berlebihan terhadap harta, jabatan, dan popularitas yang bersifat sementara. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebut dunia sebagai “jembatan” yang harus dilalui, bukan “rumah” yang harus dibangun megah.

2. Memprioritaskan Amal Saleh sebagai Bekal Akhirat

Kesadaran akan kekekalan akhirat mendorong seseorang untuk memperbanyak amal saleh, ibadah, dan kebaikan sosial sebagai bekal perjalanan menuju negeri abadi. Setiap aktivitas duniawi yang diniatkan untuk ibadah akan bernilai di sisi Allah.

3. Menciptakan Keseimbangan Hidup (Mīzān)

Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Qasas: 77. Seorang Muslim tidak boleh meninggalkan dunia sepenuhnya, namun juga tidak boleh terlena olehnya.

4. Meningkatkan Kualitas Manajemen Waktu

Pemahaman akan kefanaan dunia mendorong pemanfaatan waktu secara optimal untuk hal-hal yang bermanfaat, baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi. Ferizal dkk. menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki kesadaran spiritual cenderung lebih bijak dalam mengelola waktu.

5. Meraih Ketenangan Jiwa dan Kebahagiaan Sejati

Dengan menyadari bahwa akhirat lebih baik dan kekal, hati menjadi tenang dan tidak gelisah oleh dinamika kehidupan dunia yang naik-turun. Kebahagiaan sejati terletak pada keridhaan Allah, bukan pada pencapaian materi semata.

 

Pertanyaan Seputar Ayat Al Quran

1. Apa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa dunia itu fana dan akhirat kekal?

QS Al-A’la (87:16-17) secara tegas menyatakan bahwa akhirat lebih baik dan lebih kekal dibandingkan kehidupan dunia. QS Al-Hadid (57:20) juga menggambarkan dunia sebagai permainan yang menipu, sementara akhirat menyediakan ampunan dan keridhaan Allah.

2. Bagaimana perbandingan dunia dan akhirat menurut hadis Nabi?

Rasulullah SAW mengibaratkan dunia dibandingkan akhirat seperti setetes air yang tersisa di ujung jari setelah dicelupkan ke lautan (HR. Muslim). Ini menunjukkan betapa kecil dan tidak berartinya dunia dibandingkan luasnya akhirat.

3. Mengapa manusia cenderung mencintai dunia dan melupakan akhirat?

Karena dunia menawarkan kenikmatan instan dan indah secara lahiriah, sebagaimana dijelaskan Ibnu al-Qayyim dalam Iddat ash-Shabirin. Kecintaan berlebihan terhadap dunia membuat manusia lupa bahwa semua itu hanyalah kesenangan yang menipu.

4. Bagaimana cara menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat?

Dengan menjadikan dunia sebagai sarana mencapai akhirat, bukan tujuan akhir. QS Al-Qasas: 77 mengajarkan untuk mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian duniawi, berbuat baik, dan tidak berbuat kerusakan di bumi.

5. Apa manfaat memahami bahwa dunia hanya sementara?

Memahami kefanaan dunia membuat seseorang lebih bijak dalam mengelola waktu, tidak terlalu terikat pada materi, lebih fokus pada amal saleh, dan meraih ketenangan jiwa karena orientasi hidupnya tertuju pada keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di akhirat.