Liputan6.com, Jakarta - Zaman akhir ditandai dengan berbagai munculnya golongan di kalangan umat Islam. Nyaris semuanya mendaku Ahlussunah. Maka, umat perlu memahami ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jamaah yang perlu diketahui.
Pemahaman tentang ciri dan karakteristik ini menjadi penting di tengah maraknya kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai Aswaja, namun dalam praktiknya justru menunjukkan sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya. Terlebih, Rasulullah SAW bersabda bahwa akan ada perpecahan umat menjadi 73 golongan, di mana hanya satu yang selamat.
Secara etimologis, Ahlussunnah Wal Jamaah berarti para pendukung Sunnah dan Jamaah. Ahlussunnah merujuk pada mereka yang berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah dan jalan pemikiran keagamaan para sahabat serta generasi salaf yang saleh, sementara al-Jamaah berarti jamaah umat Islam yang berada pada barisan mainstream kaum muslimin
Advertisement
Dalam perjalanan sejarah, paham ini diformulasikan secara sistematis oleh dua tokoh besar, yaitu Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat 935 M) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (wafat 944 M), sebagai jalan tengah di antara berbagai aliran teologi yang ekstrem.
Kitab Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa paham inilah yang otentik. Ajaran Aswaja memadukan aspek fikih, tauhid, tasawuf, beserta tata akhlak secara seimbang.
Merujuk berbagai literatur klasik dan kontemporer, berikut ini adalah ciri-ciri Ahlussunah Wal Jamaah dan karakteristiknya.
Ciri-Ciri Ahlussunnah Wal Jamaah
Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) memiliki prinsip dan ciri yang menjadikannya jalan tengah di antara berbagai pemahaman keagamaan. Berikut adalah penjelasan lengkap dari ciri-ciri tersebut:
1. Sumber Pengambilan yang Bersih dan Sanad Terjaga
Karakteristik paling mendasar dari aqidah Aswaja adalah kebersihan dan keakuratan sumber ajarannya. Aqidah ini tidak dibangun di atas dasar hawa nafsu atau syubhat (kerancuan), melainkan berpijak kokoh pada Al-Qur'an, As-Sunnah, serta Ijma' para Salafush Shalih.
Keotentikan ajaran ini dijamin melalui sistem sanad (rantai keilmuan) yang bersambung langsung kepada Rasulullah SAW, para sahabat, tabi'in, hingga para imam mazhab, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun keyakinan. Penganut Aswaja meyakini bahwa tidak ada satu prinsip pun dalam aqidahnya yang tidak memiliki dasar dari wahyu Ilahi dan teladan Salafush Shalih.
2. Meyakini Hal Ghaib dan Pembatasan Akal
Aswaja menempatkan wahyu di atas akal rasional. Paham ini mengakui eksistensi dan peran akal, namun menyadari bahwa kemampuan akal manusia sangatlah terbatas dan tidak mampu menjangkau hal-hal yang bersifat ghaib maupun berdiri sendiri dalam memahami syariat secara utuh.
Oleh karena itu, beriman kepada yang ghaib serta berserah diri sepenuhnya kepada ketetapan Allah dan Rasul-Nya menjadi keniscayaan dan sifat agung seorang mukmin. Meskipun umat diperintahkan memfungsikan akalnya, misalnya untuk mentakwilkan nas-nas tertentu jika terjadi perbedaan pandangan (seperti manhaj Maturidiyah), peran akal tersebut dibatasi agar tidak melampaui batas rambu-rambu wahyu dan tidak berujung pada taklid buta.
3. Mengedepankan Sikap Tawassuth (Keseimbangan) dan I'tidal (Tegak Lurus)
Sikap tawassuth menjadikan Aswaja sebagai kelompok moderat yang menengahi berbagai ekstremitas pandangan teologis masa lampau. Sebagai contoh, dalam memandang perbuatan manusia dan kekuasaan Tuhan, Aswaja menolak pandangan Jabariyah yang fatalistik (manusia tidak memiliki peran apa pun) dan menolak pandangan Qadariyah/Mu'tazilah yang membatasi kekuasaan Tuhan dengan meyakini manusia mencipta perbuatannya sendiri secara mutlak.
Imam Abul Hasan al-Asy'ari menghadirkan jalan tengah melalui konsep al-kasb (upaya), di mana perbuatan manusia diciptakan oleh Allah, namun manusia tetap memiliki peranan, keaktifan, dan tanggung jawab atas perbuatannya. Sikap tengah ini juga diwujudkan dengan bermazhab dalam ranah fikih, merujuk pada Imam Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali, untuk menghindari ijtihad serampangan maupun taklid buta.
4. Tasammuh (Toleran) dan Persaudaraan
Tasammuh merupakan perwujudan rahmat dari ajaran Islam yang menghendaki keharmonisan dan kedamaian. Aswaja membina ikatan persaudaraan dan kasih sayang dengan menumbuhkan kerukunan antarumat beragama dan saling menghargai perbedaan pandangan di antara sesama Muslim.
Paham ini sangat menghindari sikap agresif, ekstrem, atau kegemaran menjatuhkan vonis kafir (takfir) dan sesat kepada lawan pendapat (seperti doktrin kelompok Khawarij).
Ulama Aswaja seperti Imam Syafi'i mengajarkan kearifan bahwa pendapat sendiri diyakini benar namun berpotensi salah, sementara pendapat orang lain diyakini salah namun berpotensi benar, sehingga membuka ruang toleransi intelektual yang lapang.
5. Tawazun (Proporsional dalam Kehidupan)
Aswaja menuntun umatnya untuk senantiasa menjaga keseimbangan atau proporsi dalam setiap aspek kehidupan. Pemenuhan kebutuhan jasmani diseimbangkan dengan kebutuhan rohani, dan orientasi meraih kebahagiaan akhirat diiringi dengan upaya memakmurkan kehidupan duniawi.
Dalam pemikiran keagamaan, kaum Sunni menyelaraskan fungsi penalaran akal rasional dan kebenaran wahyu tanpa ada yang dikesampingkan. Hal ini juga sangat kentara dalam tradisi tasawuf Aswaja (merujuk pada Imam al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi) yang memadukan syariat (fikih) dan hakikat secara seimbang; di mana tasawuf tanpa syariat akan membawa pada ke-zindiq-an (kesesatan), dan syariat tanpa tasawuf akan berujung pada kefasikan (kekakuan spiritual).
6. Akomodatif Terhadap Tradisi (Budaya Lokal)
Keberagamaan Aswaja sama sekali tidak bersifat destruktif (merusak) tatanan sosial maupun tradisi yang telah hidup lama di masyarakat. Aswaja mempedomani kaidah fikih al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (mempertahankan warisan masa lalu yang baik dan mengkreasi hal baru yang lebih baik).
Budaya dan tradisi lokal, selama selaras atau tidak bertentangan dengan ajaran fundamental Islam, dapat diadopsi dan dijadikan pertimbangan hukum berdasarkan kaidah al-'Adah muhakkamah.
Pendekatan ini merupakan warisan metode dakwah Wali Songo di Nusantara yang bersifat bijak, misalnya dengan mengambil praktik slametan (kenduri) dari budaya pra-Islam lalu membersihkannya dari unsur syirik dan mengisinya dengan doa-doa, sedekah, serta puji-pujian bertauhid.
Karakteristik Aswaja
1. Karakteristik Aqidah dan Teologi
· Jelas, Terang, dan Bebas dari Kontradiksi: Aqidah Aswaja sangat mudah dipahami, seterang matahari di siang hari, dan bisa dicerna oleh orang alim, masyarakat awam, hingga anak-anak. Paham ini terbebas dari kekacauan, kerancuan, serta kontradiksi karena kebenarannya bersumber dari wahyu yang saling membenarkan satu sama lain.
· Universal, Stabil, dan Sesuai Sepanjang Zaman: Paham ini bersifat universal, lengkap, stabil, serta sesuai untuk diterapkan di setiap zaman, tempat, keadaan, dan umat. Aqidah ini diyakini akan terus dijaga oleh Allah SWT dari penyimpangan hingga hari kiamat.
· Menolak Kemaksuman Selain Nabi: Sekalipun Aswaja sangat menghormati otoritas ulama dengan menetapkan standardisasi mazhab, golongan ini menolak konsep kema'shuman (keterjagaan mutlak dari dosa atau 'ishmatul-aimmah) bagi para ulama maupun pemimpinnya. Pengkultusan tokoh secara buta (taqdisur-rijal) sangat dihindari dalam Aswaja.
· Membimbing Fitrah dan Perasaan Manusia: Aqidah Aswaja sejalan dengan fitrah yang bersih serta mengakui adanya perasaan alami manusia. Paham ini tidak mematikan perasaan tersebut, melainkan membimbing dan mengarahkannya agar menjadi sarana pembangunan hidup, bukan alat perusak yang memperturutkan hawa nafsu.
2. Karakteristik Etika Kemasyarakatan (Mabadi' Khaira Ummah)
· Dakwah yang Arif (Bi al-Hikmah): Pengikut Aswaja menjalankan prinsip amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah keburukan) secara bijaksana. Paham ini menolak praktik dakwah yang represif, merusak (destruktif), memaksa, atau menggunakan kekerasan demi menegakkan pandangannya.
· Memiliki Etika Dasar Mabadi' Khaira Ummah: Untuk mewujudkan umat yang kuat secara sosial dan ekonomi, Aswaja (khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama) menanamkan lima prinsip dasar, yaitu:
· Al-Shidqu: Kejujuran dan keselarasan antara hati, perkataan, dan perbuatan.
· Al-Amanah wa al-Wafa bi al-'Ahdi: Dapat dipercaya, memegang tanggung jawab, dan menepati janji.
· Al-'Adalah: Bersikap adil, proporsional, dan selalu mengutamakan kebenaran yang objektif.
· Al-Ta'awun: Saling tolong-menolong dalam interaksi bermasyarakat.
· Al-Istiqamah: Konsisten, teguh pendirian, dan tidak mudah goyah oleh godaan untuk melakukan penyimpangan.
3. Karakteristik Wawasan Kebangsaan dan Kemanusiaan
Aswaja menyadari bahwa umat hidup di tengah kemajemukan. Oleh karena itu, ajarannya dibekali oleh empat semangat (ruh) utama dalam berbangsa, yaitu:
· Ruhut Tadayun (Semangat Beragama): Menjadikan agama Islam sebagai pedoman yang ramah dan damai dalam menyikapi realitas kehidupan tanpa memandang perbedaan keyakinan.
· Ruhul Wathaniyah (Semangat Cinta Tanah Air): Pengikut Aswaja memegang teguh komitmen kebangsaan. Sejarah membuktikan bahwa ulama Aswaja rela mengedepankan persatuan nasional dan mencintai tanah air sebagai bagian dari implementasi nilai agama.
· Ruhut Ta'addudiyah (Semangat Menghormati Perbedaan): Perbedaan ras, suku, agama, maupun mazhab tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan kekayaan dan realitas kultural yang harus dihormati.
· Ruhul Insaniyah (Semangat Kemanusiaan): Menghargai derajat dan hak asasi setiap manusia tanpa merendahkan kelompok lain, sehingga melahirkan tatanan sosial yang penuh keadilan, keamanan, serta kesejahteraan bersama. Ajaran ini memberikan jaminan jalan keluar untuk berbagai problematika sosial, politik, maupun pendidikan.
Hikmah Mengetahui Ciri-Ciri Ahlussunnah Wal Jama'ah yang Benar
1. Menyelamatkan Diri dari Kesesatan
Dengan mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah, seorang muslim dapat membedakan antara ajaran yang benar dan ajaran yang menyimpang, sehingga selamat dari berbagai aliran sesat yang menyesatkan.
2. Memperkuat Iman dan Keyakinan
Pemahaman yang mendalam tentang ciri-ciri aqidah ini akan memperkuat keimanan dan keyakinan, karena seorang muslim mengetahui dengan pasti landasan-landasan syar'i yang kokoh dari aqidah yang dianutnya.
3. Menjaga Persatuan Umat
Mengetahui bahwa Ahlussunnah adalah aqidah kasih sayang dan persatuan akan mendorong seorang muslim untuk menjauhi sikap fanatisme buta dan perpecahan, serta mengutamakan ukhuwah Islamiyah.
4. Membentengi Generasi Muda dari Pengaruh Negatif
Di era milenial yang penuh dengan tantangan globalisasi dan paham radikal, pemahaman tentang Ahlussunnah menjadi benteng bagi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif yang merusak akidah dan moral.
5. Meraih Kehidupan yang Mulia dan Bahagia
Dengan mengamalkan aqidah Ahlussunnah, seorang muslim akan meraih kehidupan yang mulia, ketenangan jiwa, keamanan, serta kebahagiaan di dunia dan akhirat, sebagaimana dijamin oleh Allah dalam firman-Nya.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331817/original/055880700_1787567222-BSU_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334903/original/053454000_1787904698-HOAX__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335179/original/068083900_1787917398-cek_fakta_menko.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4766225/original/046556200_1709881475-masjid-pogung-raya-LhNePx4kde0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335379/original/013852200_1787975272-1000622569.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4409360/original/016295800_1682681480-Gambar_oleh_UIE_1470_dari_Pixabay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335324/original/010237700_1787971110-IMG-20260827-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5402935/original/045204600_1762311893-priest-holding-holy-book-bracelet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321440/original/060833200_1786441575-masjid-maba-QhzQfD0ihnI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335243/original/017300600_1787931572-1001046155.jpg)