Liputan6.com, Jakarta - Menjalani hidup, tak seorang pun luput dari berbagai macam ujian, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Makna qadarullah ketika mendapat ujian dan cobaan terkadang muncul saat menghadapi kerasnya kehidupan.
Ujian dan cobaan itu merupakan sunnatullah yang bersifat kauniyyah qadariyyah. Hal ini berlaku bagi setiap insan, baik yang beriman maupun kafir. Yang membedakan adalah bagaimana orang beriman dan kafir merespons ujian tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, "Siapakah orang yang paling berat ujiannya?" Beliau menjawab, "Para nabi, kemudian yang setelahnya dan setelahnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar keimanannya" (HR Tirmidzi). Hadits ini menegaskan bahwa ujian dan cobaan justru merupakan tanda keimanan dan kedekatan seorang hamba kepada Allah.
Advertisement
Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- memberikan perumpamaan yang menggugah: "Palsunya emas, tidak bisa diketahui kecuali jika kita lelehkan dengan api. Wanginya gaharu, tidak bisa diketahui kecuali jika kita bakar dengan api. Begitu pula seorang mukmin, tidak bisa diketahui (imannya) kecuali dengan ujian dan cobaan". Ujian adalah alat pembuktian keimanan yang hakiki.
Merujuk Buku Kupas Tuntas Qadha dan Qadar karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Buku Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia karya Mujtaba Musawi Lari, serta literatur kredibel lainnya, berikut ini adalah ulasan mengenai makna qadarullah ketika mendapat ujian dan cobaan dalam perspektif Islam.
Makna Qadarullah dalam Ujian dan Cobaan
Dalam pandangan Islam, setiap ujian dan musibah yang menimpa manusia tidak pernah terjadi secara kebetulan. Semuanya berada dalam kerangka qadarullah, ketetapan Allah yang maha bijaksana.
Mujtaba Musawi Lari dalam Buku Keadilan Allah, Qada' dan Qadar Manusia menjelaskan bahwa faktor dan sebab yang ada merupakan manifestasi dari kehendak dan ilmu Allah serta menjadi alat bagi qada-Nya pada manusia. Dengan kata lain, setiap ujian telah melalui rangkaian sebab dan syarat sebelum akhirnya ditetapkan terjadi pada seseorang.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taghābun ayat 11: "Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah".
Ayat ini mengisyaratkan bahwa inti dari bala' yang menimpa manusia tidak pernah lepas dari pengetahuan dan kehendak Allah. Bahkan, tidak adanya musibah dan bala' pada manusia justru menafikan adanya keadilan ilahi pada alam ini. Seorang mukmin tidak akan mendapatkan posisi yang tinggi tanpa adanya musibah dan bala' dalam hidupnya.
Ujian sebagai Sarana Penyucian dan Pembersihan Diri
Salah satu makna terdalam dari qadarullah ketika ujian datang adalah sebagai proses pembersihan diri. Cobaan merupakan proses pembersihan diri dan penyeleksian bagi seorang mukmin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ujian akan tetap menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di bumi tanpa membawa dosa.
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa ujian dan cobaan menjadi bukti keimanan seseorang. Allah memberi cobaan kepada para hamba-Nya, tidaklah berarti Allah membenci, akan tetapi Allah menunjukkan kasih sayang dengan memperhatikan hamba yang dicoba itu.
Seorang hamba hendaklah dapat merasakan pemberian Allah sebagai anugerah. Dengan demikian ia pun harus dapat merasakan cobaan dari Allah sebagai anugerah kasih sayang dari-Nya.
Ibnu Athaillah menjelaskan, sebenarnya kesusahan dari bencana yang menimpamu akan menjadi ringan, apabila kamu sudah mengetahui bahwa Allah Ta'ala sedang mengujimu. Sebab Dialah yang sedang mencoba kamu melalui qadar-Nya.
Ujian sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah
Paradoks yang indah dalam ajaran Islam adalah bahwa ujian dan cobaan justru merupakan tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya dan barang siapa yang kesal terhadapnya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya" (HR Ahmad dan Tirmidzi).
Dengan adanya cobaan, seorang hamba justru mendapat pahala dan dosa-dosanya pun akan diampuni. Jika keyakinan terhadap qadarullah tertanam kuat pada jiwa dan kukuh bersemayam dalam hati, maka setiap bencana akan menjadi kurnia, setiap ujian akan menjadi anugerah, dan setiap peristiwa menjadi penghargaan dan pahala.
Ujian sebagai Pengingat dan Penyadaran
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 216: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui".
Ayat ini mengajarkan bahwa penilaian manusia terhadap suatu kejadian seringkali dangkal dan terbatas. M. Quraish Shihab menjelaskan, "Nalar tak dapat menembus semua dimensi. Seringkali ketika ia memandang sesuatu secara mikro, dinilainya buruk, jahat dan tidak adil. Akan tetapi, jika dipandangnya secara makro dan menyeluruh, justru ia merupakan unsur keindahan, kebaikan dan keadilan".
Ujian juga berfungsi mengingatkan manusia akan kelemahan dan ketergantungannya kepada Allah. Ketika seseorang diuji dengan kesulitan, ia akan kembali kepada fitrahnya sebagai makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Sang Pencipta.
Antara Takdir dan Ikhtiar, Sikap Seimbang Pemahaman yang benar tentang qadarullah dalam ujian tidak berarti pasrah tanpa usaha. Syaikh Al-Utsaimin menegaskan bahwa segala perbuatan yang dilakukan oleh orang yang memiliki akal sehat jelas dilakukan atas dasar pilihannya.
Allah berfirman: "Maka barangsiapa menghendaki, maka dia mengambil jalan menuju Rabb-Nya" (QS An-Naba: 39).
Allah juga memberi kesempatan kepada para hamba untuk berikhtiar sepenuh hati, agar segala yang menimpanya mendapatkan jalan keluar dengan pertolongan dan izin Allah. Dengan demikian, seorang Muslim tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan usaha dan ikhtiar.
Hikmah Memahami Makna Qadarullah ketika Mendapat Ujian dan Cobaan
1. Menumbuhkan Rasa Sabar yang Hakiki
Ketenteraman pertama yang diperoleh dari beriman kepada qada dan qadar adalah tumbuhnya rasa sabar ketika menghadapi ujian hidup. Orang yang beriman yakin bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dengan keyakinan ini, ia akan lebih sabar dalam menjalani cobaan.
2. Melahirkan Sikap Ridha dan Tawakal
Seseorang yang ditimpa musibah dan meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, kemudian ia bersabar dan mengharapkan balasan pahala dari Allah, disertai perasaan tunduk berserah diri kepada ketentuan-Nya, maka Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar.
3. Meningkatkan Kedekatan kepada Allah
Hikmah seorang hamba dalam keadaan kesusahan atau sedang tertimpa bencana adalah ia akan bertambah dekat kepada Allah. Dengan dekatnya si hamba kepada-Nya, maka akan berlimpahlah kasih sayang kepada si hamba. Itulah anugerah yang tiada taranya.
4. Menghapus Dosa dan Meningkatkan Derajat
Ujian dan musibah memiliki hikmah menghapus dosa dan kesalahan, menguji dan meningkatkan keimanan, mengangkat derajat di sisi Allah, serta melatih kesabaran dan ketakwaan. Syaikh Al-Utsaimin mengingatkan, "Ketahuilah, bahwa ujian apapun yang menimpamu, maka puncaknya adalah kematian. Padahal jika engkau mati dalam keadaan bersabar karena Allah, maka sejatinya engkau telah berpindah dari suatu negeri ke negeri lain yang lebih baik darinya".
5. Menumbuhkan Husnudzan (Berbaik Sangka) kepada Allah
Sudah seharusnya kita selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah dalam semua musibah dan cobaan yang menimpa—ada kebaikan dan kemudahan di baliknya. Firman Allah dalam QS. Asy-Syarh ayat 5-6: "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan".
6. Mencegah Penyesalan yang Sia-sia
Rasulullah SAW mengajarkan agar ketika suatu musibah menimpa, janganlah berkata "Andai aku berbuat demikian tentu hasilnya tidak akan begini". Namun ucapkanlah: "Qaddarallāhu wa mā syā'a fa'ala" (Allah telah menetapkan dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan). Ini mencegah penyesalan yang sia-sia dan membuka pintu setan.
7. Mendorong Evaluasi Diri dan Perbaikan
Ujian mengingatkan manusia untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Nasir Makarim Shirazi membagi dua kategori sebab adanya bala' yang terjadi pada manusia: pertama, bala' yang merupakan ulah dari tangan manusia sendiri seperti kemaksiatan. Dengan demikian, ujian menjadi pemicu untuk kembali ke jalan yang benar.
Pertanyaan Seputar Arti Qadarullah
1. Apa makna qadarullah ketika ditimpa musibah?
Qadarullah ketika ditimpa musibah berarti meyakini bahwa musibah tersebut adalah ketetapan Allah yang maha bijaksana, yang mengandung hikmah dan kebaikan bagi hamba-Nya. Ini bukan berarti Allah membenci, melainkan bentuk kasih sayang dan ujian untuk mengangkat derajat keimanan.
2. Mengapa orang beriman justru sering mendapat cobaan berat?
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seseorang akan diuji sesuai kadar keimanannya. Semakin tinggi iman seseorang, semakin berat ujiannya. Cobaan berat bagi orang beriman adalah tanda cinta Allah dan sarana pembersihan dosa serta peningkatan derajat.
3. Bagaimana cara menyikapi ujian dari perspektif qadarullah?
Sikap yang tepat adalah sabar, ridha, dan ihtisab (mengharapkan pahala dari Allah). Ucapkan "Qaddarallāhu wa mā syā'a fa'ala", terus berikhtiar, dan berbaik sangka kepada Allah bahwa di balik ujian ada kebaikan.
4. Apakah semua ujian berasal dari Allah?
Ya, semua ujian terjadi dengan izin dan kehendak Allah (QS. At-Taghābun: 11). Namun ada ujian yang merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri (kemaksiatan), dan ada yang murni ketetapan Allah seperti bencana alam.
5. Bagaimana membedakan ujian dan azab?
Ujian adalah cobaan yang ditimpakan Allah kepada hamba yang dicintai-Nya, bertujuan meningkatkan iman, menghapus dosa, dan mengangkat derajat. Sedangkan azab adalah siksaan bagi orang-orang yang ingkar dan terus-menerus dalam kemaksiatan. Perbedaannya terletak pada respon hamba: kesabaran dan keimanan mengubah musibah menjadi ujian yang bernilai pahala.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334781/original/015019500_1787897918-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-28T131649.453.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5327298/original/085035000_1756177391-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__83_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316841/original/059462500_1785991327-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-06T113319.126.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5099115/original/085786100_1737178431-1737173047698_arti-qadarullah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528302/original/061463600_1773276398-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5134162/original/012917000_1739593072-1739590048291_arti-doa-sholat-dhuha.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300922/original/078126800_1784426486-8760403581602882043.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321440/original/060833200_1786441575-masjid-maba-QhzQfD0ihnI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4374139/original/096709100_1679981555-pexels-alena-darmel-8164742.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321441/original/077954600_1786441575-masjid-pogung-dalangan-63DjDHXAA_c-unsplash.jpg)