Bank Indonesia Ungkap Kredit Swasta Belum Kencang, Ini Alasannya

Bank Indonesia (BI) juga melihat bank hati-hati untuk menyalurkan pembiayaan karena ada sejumlah pertimbangan.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 17:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebut penyaluran kredit ke sektor swasta belum tumbuh sekencang yang diharapkan meski likuiditas sejumlah kelompok bank meningkat. Kondisi tersebut terjadi karena bank dan korporasi masih mempertimbangkan risiko, prospek sektor usaha, serta kebutuhan pembiayaan.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan pertumbuhan kredit saat ini merupakan kombinasi antara dukungan likuiditas pemerintah, penyaluran ke sektor prioritas, dan kesiapan sektor swasta menyerap pembiayaan."

Memang ini kombinasi dari semua hal tadi. Dari sisi banknya belum sekencang yang kita harapkan, dan dari sisi swastanya juga belum se-willing yang kita harapkan,” kata Alexander dalam Taklimat Media Bank Indonesia di Kantor BI, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Alexander menjelaskan bank masih menghadapi keterbatasan dalam menentukan sektor swasta yang memiliki prospek dan risiko sesuai dengan kapasitas pembiayaan masing-masing bank. Kondisi tersebut membuat bank cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit meskipun memiliki likuiditas yang cukup.

Menurut Alexander, bank juga masih memiliki fasilitas pembiayaan yang belum sepenuhnya digunakan karena bank mempertimbangkan permintaan kredit dan risiko debitur.

Alexander mengatakan BI mendorong bank menyalurkan pembiayaan kepada sektor swasta yang berkaitan dengan sektor prioritas pemerintah. Dia menuturkan, sektor transportasi dan distribusi, misalnya, tetap memiliki keterkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi yang mendapatkan dukungan pemerintah.

BI juga mendorong penurunan biaya pembiayaan agar sektor usaha swasta lebih mampu menyerap kredit. Alexander menilai harga kredit yang lebih kompetitif dapat meningkatkan minat korporasi untuk menggunakan fasilitas pembiayaan.

"Harapannya, kita bisa salurkan ke sektor-sektor lain. Kalau pricing-nya oke, pengusaha juga bisa pakai ini,” ujar Alexander.

Alexander menegaskan, peningkatan likuiditas tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan kredit apabila permintaan dari sektor swasta belum cukup kuat. BI karena itu terus mendorong bank dan dunia usaha agar penyaluran kredit dapat meningkat lebih cepat.

“Belum sekencang yang kita harapkan, gampangnya begitu,” kata Alexander.

Kredit UMKM Tumbuh Tipis, Bos BI Colek Para Bankir

Sebelumnya, Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (Pjs Gubernur BI), Destry Damayanti mencatat pertumbuhan kredit UMKM hanya 1,2% hingga pertengahan 2026. Dia pun meminta perbankan nasional untuk meningkatkan penyaluran kredit ke segmen UMKM.

Dia menjelaskan, penyaluran kredit ke UMKM masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus ditingkatkan. Mengingat ada 64 juta UMKM yang berkontribusi pada 97% tenaga kerja dan 60% ke Produk Domestik Bruto (PDB).

"Memang kita harus mengakui ada suatu fakta bahwa kredit UMKM saat ini memang menjadi PR kita semua," ucap Destry dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Dia mencatat pertumbuhan kredit UMKM hanya 1,2%. Angka itu yang memerlukan kerja sama antarpihak untuk bisa meningkatkan penyalurannya ke depan.

"Jadi UMKM itu baru tumbuhnya 1,2%, ini benar-benar menjadi PR bagi kita. Oleh karena itu dari Bank Indonesia tentunya kita akan terus mengajak sinergi yang optimal sehingga UNKM kita ini juga bisa naik kelas dan juga bisa terus menyerap lapangan pekerjaan secara optimal," tutur dia.

Destry juga menyinggung para bankir yang hadir dalam KKI 2026. Dia meminta perbankan nasional itu untuk menambah alokasi kucuran kredit bagi UMKM.

"Saya juga ingin mengimbau bank-bank ayo dong nyalurin kredit buat UMKM. Jadi bukan hanya beli tapi nyalurin kredit ini buat teman-teman semua bankers-bankers yang ada disana, terima kasih sudah hadir dan terus bekerjasama dengan kami dalam pengembangan UMKM," pinta Destry.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6