Aida S Budiman Bawa 8 Program Buat Jadi Deputi Gubernur Senior BI

Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S Budiman menuturkan, 8 program menjadi satu penguatan sinergi ditambah tujuh penajaman program kerja.

Diterbitkan 26 Agustus 2026, 20:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S Budiman mengusung delapan program untuk penguatan bank sentral. Sinergi dengan pemerintah hingga penguatan kebijakan menjadi perhatian utamanya.

Aida membagi delapan program itu sebagai satu penguatan sinergi ditambah tujuh penajaman program kerja. Penguatan sinergi yang pertama yakni menyasar pada lima sektor yang menjadi perhatiannya. Yakni, mencakup fiskal-moneter, stabilisasi inflasi, pembiayaan dan stabilitas sistem keuangan (SSK), struktur ekonomi, serta persepsi positif.

"Yang satu ini, menjadi penting dilakukan dengan segera, dan akan menjadi landasan kita untuk bisa membangun tadi bagaimana skenario yang lebih positif untuk perekonomian Indonesia. Yang satu yang penting ini adalah sinergi kebijakan nasional dan Bank Indonesia yang dilandasi dengan komunikasi yang efektif," ungkap Aida dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit & proper test) dengan Komisi XI DPR, Rabu (26/8/2026).

Penguatan sinergi itu diikuti dengan tujuh program kerja yang diperkuat ke depannya. Pertama, kalibrasi bauran kebijakan Bank Indonesia. Kedua, reformasi data sesuai arsitektur data global.

"Sekarang di global tren-nya adalah perbaikan kodifikasi data-data supaya nanti bisa digunakan untuk analisa yang lebih digital. Dan ini penting untuk surveillance kita, sehingga kita bisa mengetahui bagaimana optimalisasi penerimaan devisa, dan juga membantu untuk menjaga stabilitas daripada nilai tukar," jelas Aida.

Ketiga, kebijakan memperluas sumber pembiayaan. Meski saat ini dinilai sudah cukup variatif, namun pihaknya masih melihat ruang penguatan ke depan dari sisi perbankan nasional.

Keempat, kebijakan pasar uang dan valuta asing dan diversifikasi mata uang. "Termasuk di sini juga bagaimana BI menggunakan instrumen-instrumen pasar uang yang baru,dan menjadi underlying dari operasi moneter kami," jelas dia.

 

Pembiayaan Inovatif hingga UMKM

Aida juga mendorong kebijakan sistem pembayaran yang inovatif di poin kelima. Keenam, pengembangan UMKM menuju ekosistem terintegrasi.

"Jadi UMKM tidak saja berdiri sendiri, bisa go-export, tetapi bisa menjadi ke dalam value chain daripada pergerakan produksi yang dilakukan digitalisasi tadi," ucapnya.

Ketujuh, bauran kebijakan kelembagaan. Pada bagian ini, Aida menyoroti upaya meningkatkan proses bisnis agar lebih efisien, ter-digitalisasi dan penguatan SDM.

"Dari pengalaman kemarin pada saat nilai tukar mengalami tekanan, kami harus melakukan pemeriksaan ke bank maupun kepada korporasi dengan pembelian yang besar. Terasa sekali betapa diperlukannya peningkatan SDM yang menguasai tentang pengawasan. Jadi ini adalah 2 hal yang perlu dilakukan dan tentunya nanti terkait dengan tata kelola," bebernya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6