Liputan6.com, Jakarta Cara membuat pupuk kandang yang benar dimulai dengan mengolah kotoran ternak melalui pengomposan atau fermentasi sampai benar-benar matang. Pupuk kandang mentah tidak boleh langsung diaplikasikan karena kadar amonia dan panasnya dapat membakar akar tanaman.
Kunci cara membuat pupuk kandang yang benar terletak pada keseimbangan bahan berkarbon, aktivator mikroba, kelembapan, serta waktu penguraian. Bila langkahnya tepat, pupuk bisa matang dalam dua hingga empat minggu dan aman untuk menyuburkan tanah.
Berdasarkan Iowa State University Extension, pupuk kandang merupakan pupuk tertua yang dikenal peradaban dan dapat menjadi pembenah tanah yang hemat biaya dengan berbagai manfaat.
Advertisement
Agar proses pengomposan pupuk kandang berlangsung efisien, rasio karbon terhadap nitrogen (C:N) sebaiknya berada pada 25:1 atau 30:1. Namun, rasio 20:1 hingga 40:1 masih dapat diterima. Prinsip inilah yang membedakan pupuk matang berkualitas dengan olahan yang gagal, sebagaimana banyak dibahas dalam panduan membuat pupuk organik di rumah.
Cara Membuat Pupuk Kandang yang Benar dengan Pengomposan Panas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5518789/original/011985600_1772519134-Ilustrasi_Cokelat_Valentine__Photo_by_valeria_aksakova_on_Freepik___3_.jpg)
Metode pengomposan panas atau hot composting merupakan cara membuat pupuk kandang yang benar dan paling direkomendasikan untuk kebun sayur maupun tanaman pangan. Panas yang dihasilkan mikroba mampu membunuh patogen serta biji gulma sekaligus mempercepat penguraian bahan organik.
Menurut Melissa Fery dari Oregon State University Extension Service, pengomposan panas menyeimbangkan makanan, air, dan udara dalam tumpukan kompos untuk mendukung mikroorganisme yang berkembang pada suhu tinggi.
Nick Andrews, spesialis sayuran organik dari lembaga yang sama, menjelaskan bahwa dibutuhkan setidaknya setengah yard kubik bahan organik segar agar tumpukan kompos dapat memanas dan mencapai suhu yang direkomendasikan untuk pengomposan panas.
-
Pilih Lokasi yang Tepat: Tentukan area datar dan teduh dengan alas kedap air, jauh dari sumber air bersih dan rumah tetangga untuk mencegah rembesan cairan serta bau yang mengganggu.
-
Campur Bahan Hijau dan Bahan Cokelat: Padukan kotoran ternak sebagai bahan hijau kaya nitrogen dengan bahan cokelat kaya karbon seperti sekam, jerami cincang, daun kering, atau serbuk gergaji.
-
Seimbangkan Rasio Karbon dan Nitrogen: Jaga perbandingan C:N sekitar 25:1 hingga 30:1 supaya tumpukan tidak terlalu basah, tidak berbau menyengat, dan proses penguraian berjalan cepat.
-
Atur Kelembapan Bahan: Lakukan uji kepal dengan meremas segenggam bahan; kondisi ideal terasa lembap dan hanya meneteskan beberapa tetes air, tidak becek dan tidak terlalu kering.
-
Bentuk Tumpukan Berukuran Cukup: Buat tumpukan minimal satu meter persegi dengan tinggi sekitar satu meter agar panas internal terbentuk optimal dan penguraian merata.
-
Pantau Suhu dan Balik Tumpukan: Jaga suhu inti pada kisaran 54 hingga 71 derajat Celsius, lalu balik tumpukan setiap beberapa hari untuk memasok oksigen dan meratakan panas.
-
Lakukan Tahap Pematangan: Setelah panas mereda, pindahkan bahan ke tahap curing selama beberapa minggu hingga suhu stabil dan tekstur menjadi remah seperti tanah.
Menurut University of Minnesota Extension, tumpukan kompos sebaiknya memiliki ukuran minimal 3 × 3 × 3 kaki atau sekitar 0,76 meter kubik. Ukuran yang lebih kecil tidak mampu menghasilkan panas internal yang diperlukan untuk mendukung proses pengomposan.
Untuk pemula, sistem dua bak sederhana sangat membantu, sebagaimana diulas dalam pembahasan metode kompos panas untuk pemula dan tips mengolah kotoran ternak jadi pupuk berkualitas.
Advertisement
Cara Membuat Pupuk Kandang yang Benar Menggunakan Fermentasi EM4
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5444832/original/086518400_1765790059-Pupuk_Kompos.jpg)
Selain pengomposan alami, fermentasi dengan dekomposer menjadi cara membuat pupuk kandang yang benar sekaligus paling cepat, yang dikenal luas sebagai teknik bokashi. Penambahan EM4 memangkas waktu pematangan dari dua bulan menjadi hanya dua minggu karena mikroorganisme bekerja secara sinergis mengurai bahan organik.
Mengacu pada publikasi North Dakota State University Extension, pengomposan merupakan proses dekomposisi termofilik atau bersuhu tinggi, yakni sekitar 45 hingga 71 derajat Celsius. Proses ini melibatkan mikroorganisme aerob yang menguraikan bahan organik menjadi pembenah tanah yang relatif stabil dan kaya nutrisi.
Metode ini bisa diterapkan pada kotoran sapi, kambing, maupun ayam, seperti yang sering dipraktikkan pada pembuatan pupuk kandang dari kotoran ayam.
-
Siapkan Bahan Utama: Sediakan pupuk kandang sebagai sumber nitrogen, arang sekam atau sekam padi sebagai sumber karbon dan aerasi, serta dedak untuk menambah nutrisi mikroba.
-
Buat Larutan Aktivator: Larutkan EM4 dan molase atau gula ke dalam air dengan perbandingan sekitar 1 mililiter EM4 dan 1 mililiter molase per 1 liter air, lalu diamkan 10 hingga 15 menit.
-
Campur dan Siram Merata: Aduk kotoran ternak, arang sekam, dan dedak di atas lantai kering, kemudian siramkan larutan aktivator sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga homogen.
-
Cek Kelembapan dengan Uji Kepal: Kepal adonan; bila tidak keluar air dan adonan kembali mengembang saat dilepas, kadar air sudah tepat pada sekitar 30 hingga 40 persen.
-
Tumpuk dan Tutup Rapat: Bentuk gundukan lalu tutup dengan terpal atau plastik tebal agar suhu dan kelembapan terjaga serta terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung.
-
Fermentasi dan Kontrol Suhu: Pertahankan suhu bahan pada 40 hingga 60 derajat Celsius; jika melebihi 60 derajat, buka penutup dan balik adonan, lalu tutup kembali selama 14 hingga 30 hari.
-
Keringkan dan Kemas: Setelah matang, angin-anginkan pupuk di tempat teduh hingga kering, kemudian kemas dalam karung agar mudah disimpan dan digunakan kembali.
Teknik serupa banyak diterapkan pada pengolahan bokashi sebagai metode pengomposan fermentasi, pembuatan kompos bokashi di rumah, hingga fermentasi jerami menjadi pupuk organik. Selama proses, tumpukan sebaiknya dibalik setiap 7 hingga 10 hari untuk menjaga aerasi dan mencegah bau busuk akibat kondisi anaerob berlebih.
Cara Membuat Pupuk Kandang yang Benar Metode Terbuka dan Tertutup
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3298227/original/057619800_1605584039-gardening-690940_640.jpg)
Bagi peternak yang tidak memakai aktivator, ada cara membuat pupuk kandang yang benar secara sederhana melalui dua pendekatan, yakni metode terbuka dan metode tertutup. Keduanya mengandalkan penguraian alami oleh mikroorganisme, sehingga membutuhkan waktu lebih lama namun tetap menghasilkan pupuk yang matang.
-
Jemur Kotoran Ternak (Metode Terbuka): Jemur kotoran sapi di bawah sinar matahari selama dua hari agar kadar airnya berkurang sebelum ditimbun untuk diuraikan.
-
Pindahkan ke Tempat Beratap: Setelah dijemur, pindahkan tumpukan ke lokasi beratap tanpa dinding supaya sirkulasi udara tetap lancar dan penguraian berjalan optimal.
-
Tinggikan Lokasi Penimbunan: Buat timbunan lebih tinggi dari tanah sekitar agar tumpukan tidak tergenang air ketika turun hujan, lalu biarkan matang hingga sekitar dua bulan.
-
Buat Lubang Berlapis (Metode Tertutup): Gali lubang sesuai jumlah kotoran, lapisi dindingnya dengan semen untuk mencegah rembesan air dari luar, dan biarkan dasarnya tetap tanah agar air meresap.
-
Masukkan Kotoran dan Taburi Kapur: Isi lubang dengan kotoran tanpa sampai penuh, taburkan kapur pertanian tipis merata di permukaan, kemudian timbun dengan tanah.
-
Diamkan hingga Terurai Sempurna: Biarkan selama tiga hingga empat bulan sampai kotoran terdekomposisi menjadi pupuk yang benar-benar siap digunakan.
Pendekatan "cukup didiamkan" ini terbukti praktis dan hemat tenaga, seperti pada kisah pembuatan pupuk kandang yang cukup didiamkan serta pengalaman petani yang mandiri berkat mengolah kotoran sapi menjadi pupuk. Di sejumlah daerah, cara ini bahkan membuat kelompok tani lepas dari ketergantungan pupuk bersubsidi. Baca juga: Cara membuat pupuk organik dari sampah rumah tangga.
Advertisement
Ciri Pupuk Kandang Matang dan Kesalahan yang Perlu Dihindari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4931672/original/017034300_1724931457-Ilustrasi_pupuk_kompos.jpg)
Menentukan tingkat kematangan menjadi tahap penting agar pupuk kandang aman digunakan. Susan Mahr dari University of Wisconsin–Madison menjelaskan bahwa pupuk kandang segar umumnya mengandung amonium atau nitrogen terlarut dalam kadar tinggi, serta dapat memiliki kandungan garam dan biji gulma yang masih hidup.
Sementara itu, Robyn Stewart dari University of Georgia Cooperative Extension merekomendasikan penggunaan pupuk kandang yang sudah dikomposkan untuk kebun pangan. Menurutnya, pupuk kandang segar memiliki kadar amonium, nitrogen terlarut, dan garam yang tinggi serta berpotensi mengandung biji gulma dan bakteri berbahaya.
-
Suhu sudah dingin: Pupuk matang bersuhu setara suhu ruang dan tidak lagi terasa panas saat disentuh, menandakan aktivitas mikroba telah selesai.
-
Warna cokelat kehitaman: Bahan berubah menjadi gelap merata, mirip warna tanah subur, bukan lagi menyerupai kotoran segar.
-
Tekstur remah dan gembur: Bahan kasar seperti serat pakan sudah terurai menjadi humus halus yang mudah ditaburkan.
-
Aroma tanah atau tape: Bau menyengat hilang dan berganti aroma tanah atau peragian; bau busuk justru menandakan proses gagal.
-
Volume menyusut: Bobot dan volume berkurang sekitar 30 hingga 40 persen dari bahan awal akibat proses dekomposisi.
-
Hindari kotoran karnivora: Jangan memakai kotoran anjing, kucing, atau babi karena berisiko menyimpan parasit dan patogen yang tetap menular bagi manusia.
-
Perhatikan jeda aplikasi pupuk mentah: Bila terpaksa memakai pupuk segar, tunggu minimal 90 hari sebelum panen bila ditaburkan di permukaan, atau 180 hari bila dibenamkan ke tanah.
-
Sesuaikan dengan jenis kotoran: Kotoran sapi kaya serat dan menyeimbangkan struktur tanah, kotoran kambing lebih dingin dan berisiko rendah membakar, sedangkan kotoran ayam paling tinggi nitrogennya.
Sebagaimana dijelaskan Penn State Extension, pupuk kandang ayam kerap disebut "panas" karena memiliki kandungan nitrogen yang tinggi. Kadar nitrogen tersebut dapat membakar bibit tanaman yang masih rentan sehingga pupuk kandang ayam sebaiknya dikomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan di kebun.
Pemahaman ini penting agar pupuk cocok diaplikasikan, misalnya untuk pupuk alami cabai gantung, pupuk untuk tanaman anggur, maupun sebagai bahan media tanam organik yang subur. Ciri pupuk matang yang benar juga mirip dengan hasil kompos dari sampah rumah tangga yang berwarna gelap dan tidak berbau busuk.
Selain untuk kesuburan, pengolahan yang benar mengubah limbah ternak menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Praktik ini kini menjadi bagian dari banyak kebun produktif yang memanfaatkan limbah ternak, konsep ternak mini untuk menyuburkan kebun sayur, serta sistem terpadu seperti memadukan pohon buah dengan ternak kambing.
Dengan menerapkan langkah yang tepat, mulai dari pemilihan bahan, pengaturan kelembapan, hingga penilaian kematangan, siapa pun bisa menghasilkan pupuk organik berkualitas yang mendukung manfaat pupuk organik bagi ekosistem sekaligus memaksimalkan pekarangan menjadi lahan produktif.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Pupuk Kandang
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat pupuk kandang?
Lama pembuatan bergantung pada metode yang dipilih. Dengan fermentasi memakai aktivator seperti EM4, pupuk kandang bisa matang dalam 2 hingga 4 minggu, sedangkan pengomposan alami tanpa aktivator umumnya membutuhkan 1 hingga 3 bulan hingga bahan benar-benar stabil, dingin, dan bertekstur remah.
Apakah pupuk kandang bisa langsung digunakan tanpa difermentasi?
Sebaiknya tidak. Pupuk kandang segar mengandung amonia, nitrogen terlarut, garam, dan biji gulma dalam kadar tinggi sehingga berisiko membakar akar serta menyebarkan patogen; jika terpaksa memakai yang mentah, benamkan ke tanah beberapa bulan sebelum masa tanam agar zat berbahayanya terurai.
Apa ciri-ciri pupuk kandang yang sudah matang?
Pupuk kandang matang bersuhu dingin menyerupai suhu ruang, berwarna cokelat kehitaman, bertekstur remah seperti tanah, dan beraroma tanah atau tape, bukan bau menyengat. Volumenya juga menyusut sekitar 30 hingga 40 persen dari bahan awal, menandakan proses dekomposisi telah berjalan sempurna.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331817/original/055880700_1787567222-BSU_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334903/original/053454000_1787904698-HOAX__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335179/original/068083900_1787917398-cek_fakta_menko.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329593/original/010202000_1787285446-KTz2tEJAKs6yM0exFSBC7VCmxYKEx1LQuyawUrfh.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299864/original/085658400_1784277079-pupuk_subsidi_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298915/original/011052800_1784186746-Menteri_Energi_dan_Sumber_Daya_Mineral__ESDM__Bahlil_Lahadalia-16_Juli_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4354724/original/020561600_1678519431-2336cfe5-9e26-41ff-bc19-6aaebba63ed8.jpeg)