Liputan6.com, Jakarta - Kisah Nabi Khidir dan doa yang sering dikaitkan dengannya menjadi salah satu kekayaan khazanah spiritual Islam. Meski namanya tak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Khidir menjadi ibrah umat lintas zaman karena hikmahnya yang begitu mendalam.
Kisah pertemuannya dengan Nabi Musa AS diabadikan dalam Surah Al-Kahfi ayat 60-82. Sosok Nabi Khidir dijelaskan dalam Q.S Al-Kahfi: 65 yang digambarkan sebagai "Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Sosok yang disebut dalam ayat ini, menurut mayoritas ulama tafsir, adalah Nabi Khidir AS.
Kekhususan Khidir terletak pada ilmu laduni yang dianugerahkan Allah kepadanya, sebuah pengetahuan tentang rahasia takdir yang tampak bertentangan dengan logika. Dalam perjalanan spiritual bersama Nabi Musa, Khidir terjadi tiga peristiwa yang secara lahir tampak sebagai kemungkaran, yang kemudian dijelaskan hikmahnya di akhir kisah.
Advertisement
Dari sinilah lahir berbagai doa dan wirid yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir, yang hingga kini masih diamalkan oleh sebagian umat Islam. Merujuk berbagai sumber, berikut ulasannya.
Mengenal Sosok Nabi Khidir AS
Nama Khidir tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 65, ia disebut sebagai ‘abdan min ‘ibadina atau seorang hamba di antara hamba-hamba Allah yang memperoleh rahmat dan ilmu khusus dari-Nya.
Allah SWT berfirman, yang artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.” (QS Al-Kahfi: 65)
Dalam hadis sahih, sosok tersebut dikenal sebagai Al-Khadir atau Khidir. Hadis yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari menceritakan perjalanan Nabi Musa AS untuk menemui seorang hamba yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki Musa. Dalam riwayat tersebut juga dijelaskan peristiwa kapal, seorang anak, dan tembok yang menjadi inti kisah keduanya.
Para ulama kemudian membahas status Khidir. Salah satu pandangan yang kuat menyebut Khidir sebagai seorang nabi, bukan sekadar wali. Dasarnya antara lain terdapat pada pernyataan Khidir pada akhir perjalanan bahwa tindakannya bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan berdasarkan perintah Allah. Tafsir Ibnu Katsir menggunakan ayat tersebut sebagai salah satu argumentasi mengenai kenabian Khidir.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir
Kisah bermula ketika Nabi Musa AS melakukan perjalanan untuk menemui Khidir. Al-Qur’an mengisahkan bahwa Musa berkata kepada pembantunya bahwa ia tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai di tempat pertemuan dua laut, meskipun harus menempuh perjalanan panjang.
Allah SWT berfirman, yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut atau aku akan berjalan terus sampai bertahun-tahun.’” (QS Al-Kahfi: 60).
Musa dan pembantunya kembali ke tempat itu karena tanda tersebut menjadi petunjuk lokasi yang mereka cari.
Setelah menemukan Khidir, Nabi Musa meminta izin untuk mengikutinya agar dapat mempelajari ilmu yang telah Allah ajarkan kepadanya.
Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?” (QS Al-Kahfi: 66).
Khidir kemudian mengingatkan Musa bahwa ia kemungkinan tidak akan mampu bersabar terhadap berbagai tindakan yang belum diketahui hakikatnya. Musa tetap menyatakan kesanggupannya dan berjanji tidak akan membantah perintah Khidir.
Dalam kajian Ferina Yulianti, Hafid Muslih, dan Karman, hubungan Musa dan Khidir menunjukkan pola experiential learning. Proses belajar berlangsung melalui pengalaman nyata, pengamatan dan refleksi, pemahaman konsep, kemudian penerapan atau pembiasaan.
Tiga Peristiwa Penting dalam Perjalanan Nabi Khidir
1. Khidir melubangi kapal
Peristiwa pertama terjadi ketika Musa dan Khidir menaiki sebuah kapal milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Tanpa penjelasan terlebih dahulu, Khidir merusak bagian kapal tersebut.
Musa langsung mempertanyakan tindakan itu karena khawatir kapal dan penumpangnya akan celaka. Khidir kemudian mengingatkan bahwa Musa telah berjanji untuk bersabar.
Pada akhir perjalanan, Khidir menjelaskan alasan tindakannya. Kapal tersebut milik orang-orang miskin. Di depan mereka terdapat seorang raja yang akan merampas setiap kapal yang masih dalam kondisi baik. Dengan membuat kerusakan kecil, kapal itu justru terhindar dari perampasan.
Kisah ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak sebagai kerugian belum tentu benar-benar menjadi keburukan. Manusia hanya mengetahui apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui akibat yang berada di balik suatu peristiwa.
2. Khidir membunuh seorang anak
Peristiwa kedua jauh lebih mengejutkan. Dalam perjalanan, Khidir bertemu dengan seorang anak dan kemudian membunuhnya. Musa kembali memprotes karena tindakan tersebut tampak sebagai perbuatan yang sangat berat.
Khidir kembali mengingatkan Musa mengenai kesepakatan mereka. Setelah keduanya berpisah, Khidir menjelaskan bahwa anak tersebut kelak dikhawatirkan akan menyeret kedua orang tuanya yang beriman kepada kedurhakaan dan kekafiran.
Allah kemudian menggantikan anak tersebut dengan keturunan yang lebih baik dalam kesucian dan lebih dekat kepada kasih sayang.
Peristiwa ini tidak dapat dijadikan pembenaran bagi manusia untuk melakukan kekerasan atau mengambil nyawa berdasarkan penilaian pribadi. Tindakan Khidir merupakan bagian dari ketetapan dan perintah Allah dalam kisah tersebut. Justru di sinilah terlihat keterbatasan pengetahuan manusia dibandingkan ilmu Allah.
3. Khidir memperbaiki tembok
Peristiwa terakhir terjadi ketika Musa dan Khidir sampai di sebuah negeri. Keduanya meminta makanan kepada penduduk setempat, tetapi penduduk tersebut menolak menjamu mereka.
Di tempat itu, Khidir menemukan sebuah tembok yang hampir roboh. Ia kemudian memperbaikinya tanpa meminta imbalan. Musa pun bertanya mengapa Khidir tidak meminta upah atas pekerjaannya.
Setelah itu, Khidir mengatakan bahwa perjalanan mereka harus berakhir. Ia kemudian menjelaskan bahwa tembok tersebut milik dua anak yatim. Di bawahnya terdapat harta simpanan milik mereka, sementara ayah kedua anak tersebut merupakan orang saleh. Allah menghendaki agar harta itu tetap terlindungi sampai keduanya dewasa.
Kisah ini menunjukkan bagaimana kesalehan orang tua dapat menjadi sebab datangnya perlindungan Allah kepada keturunannya. Para mufasir menjadikan ayat ini sebagai salah satu gambaran tentang luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya.
Kenapa Nabi Musa Belajar kepada Khidir?
Pertemuan Musa dan Khidir bukan menunjukkan bahwa Khidir memiliki ilmu yang lebih tinggi secara mutlak daripada Musa. Keduanya memiliki kedudukan dan ilmu yang diberikan Allah sesuai dengan tugas masing-masing.
Hadis Nabi Muhammad SAW menggambarkan keterbatasan ilmu manusia melalui perumpamaan seekor burung yang mengambil air dari laut. Pengetahuan Musa dan Khidir dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah bagian yang sangat kecil.
Karena itu, kisah ini menjadi pelajaran penting tentang adab menuntut ilmu. Nabi Musa sendiri, seorang rasul yang memiliki kedudukan tinggi, tetap bersedia melakukan perjalanan jauh untuk belajar.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu tidak boleh membuat seseorang merasa cukup dan menutup diri dari pengetahuan yang belum diketahuinya.
Doa-Doa yang Dikaitkan dengan Nabi Khidir
Berbagai literatur klasik menyebutkan beberapa doa dan wirid yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir. Berikut yang paling populer:
1. Doa "Bismillahi Masya Allah" Doa ini banyak dicantumkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka, di antaranya dalam kitab Syawariq Al-Anwar karya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani.
Teks Arab:
بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إِلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إِلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Latin: Bismillahi masya Allah laa yasuqul-khaira illallah, bismillahi masya Allah laa yashrifus-su-a illallah, bismillahi masya Allah maa kaana min ni'matin fa minallah, bismillahi masya Allah laa haula wa laa quwwata illa billahil-'aliyyil-'azhim.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang segala sesuatu terjadi atas kehendak dan kuasa-Nya. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Dengan menyebut nama Allah yang segala sesuatu terjadi atas kehendak dan kuasa-Nya, tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali Allah. Dengan menyebut nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak dan kuasa-Nya, tidak ada kenikmatan selain dari Allah. Dengan menyebut nama Allah yang segala sesuatu terjadi atas kehendak dan kuasa-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Agung".
2. Doa Versi Imam Al-Ghazali
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menyebutkan zikir yang senantiasa diamalkan oleh Nabi Khidir dan Nabi Ilyas:
Teks Arab: بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ ، مَا شَاءَ اللهُ كُلُّ نِعْمَةٍ مِنَ اللهِ ، مَا شَاءَ اللهُ اْلخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدِ اللهِ ، مَا شَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إِلَّا اللهُ
Latin: Bismillahi ma sya-allahu la quwwata illa billahi, ma sya-allahu kullun ni'matin minallahi, ma sya-allahu al-khoiru kulluhu biyadillahi, ma sya-allahu la yashrifus su-a illallahu.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, segala sesuatu atas kehendak Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Segala sesuatu atas kehendak Allah, segala nikmat dari Allah. Segala sesuatu atas kehendak Allah, segala kebaikan atas kuasa Allah. Segala sesuatu atas kehendak Allah, tak ada yang mampu menghindarkan keburukan kecuali Allah".
3. Doa Saat Hendak Berpisah
Syaikh Ahmad Al-Shawi dalam kitab Asrarur Rabbaniyah menyebutkan bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas setiap tahun bertemu di Mina dan ketika hendak berpisah membaca doa ini:
Teks Arab:
بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إلَّا اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Latin: Bismillahi ma sya-allah la yasuqul khoiro illallah, bismillahi ma sya-allah la yashrifus su-a illallah, bismillah ma sya-allah ma kana min ni'matin fa minallah, bismillah ma sya-allah la hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim.
Artinya: "Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada kenikmatan melainkan dari Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung".
Pandangan Ulama tentang Doa-Doa Nabi Khidir
Sebagian ulama mengingatkan bahwa doa-doa ini tidak memiliki sanad yang shahih bersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Namun karena kandungannya selaras dengan tauhid dan tidak bertentangan dengan syariat, mengamalkannya sebagai wirid masih dalam batas yang diperbolehkan selama tidak diyakini sebagai sunnah yang wajib.
Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani dalam kitab Syawariq Al-Anwar merekomendasikan doa "Bismillahi Masya Allah" untuk menghadapi ujian dan cobaan.
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menyebutkan zikir ini sebagai amalan Nabi Khidir dan Nabi Ilyas. Sementara, Syaikh Ahmad Al-Shawi dalam Asrarur Rabbaniyah menuliskan doa yang dibaca Khidir dan Ilyas saat berpisah.
5 Hikmah Mengetahui Kisah Nabi Khidir dan Doanya
1. Mengajarkan Kerendahan Hati dalam Menuntut Ilmu
Nabi Musa, seorang nabi besar dan pemimpin Bani Israil, tidak merasa enggan untuk berguru kepada orang lain. Ini mengajarkan bahwa ilmu tidak mengenal status, dan seorang pencari ilmu harus selalu rendah hati.
2. Menyadari Adanya Ilmu Allah yang Tersembunyi
Kisah ini mengingatkan bahwa ada ilmu dari Allah yang tidak diberikan kepada semua manusia—pengetahuan untuk melihat masa depan dan hikmah di balik takdir yang tampak tidak masuk akal.
3. Melatih Kesabaran dalam Menghadapi Ujian
Syarat utama Khidir kepada Musa adalah kesabaran. Ini mengajarkan bahwa dalam menuntut ilmu dan menghadapi ujian hidup, kesabaran adalah kunci utama.
4. Memahami Hikmah di Balik Takdir Allah
Ketiga peristiwa dalam kisah ini menunjukkan bahwa apa yang tampak buruk di mata manusia bisa jadi mengandung kebaikan yang besar, dan sebaliknya. Ini mengajarkan tawakal dan husnuzhan kepada Allah.
5. Menjaga Adab terhadap Guru
Musa tetap menghormati Khidir meskipun ia adalah nabi yang lebih besar. Ini mengajarkan adab seorang murid terhadap gurunya—untuk tidak terburu-buru membantah dan selalu menjaga kesopanan
Pertanyaan Seputar Nabi Khidir
1. Apakah Nabi Khidir disebutkan namanya dalam Al-Qur'an?
Tidak. Namanya tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur'an. Namun para ulama tafsir sepakat bahwa sosok "hamba" dalam Q.S Al-Kahfi ayat 65 adalah Nabi Khidir AS.
2. Apakah Nabi Khidir masih hidup hingga sekarang?
Para ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama tasawuf berpendapat beliau masih hidup, sedangkan Imam Bukhari, Ibnul Qayyim, dan lainnya berpendapat beliau telah wafat.
3. Apakah doa "Bismillahi Masya Allah" memiliki dalil yang shahih?
Doa ini tidak memiliki sanad yang shahih bersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Namun doa ini disebutkan dalam kitab-kitab ulama klasik seperti Ihya Ulumiddin dan Syawariq Al-Anwar sebagai amalan yang bermanfaat.
4. Siapa yang meriwayatkan doa Nabi Khidir?
Doa ini diriwayatkan melalui kitab-kitab ulama seperti Imam al-Ghazali (Ihya Ulumiddin), Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki (Syawariq Al-Anwar), dan Syaikh Ahmad Al-Shawi (Asrarur Rabbaniyah).
5. Apa fadhilah membaca doa Nabi Khidir?
Dalam kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah disebutkan bahwa barangsiapa membacanya di pagi dan sore sebanyak tiga kali, Allah menyelamatkannya dari tenggelam, kebakaran, dan pencurian. Doa ini juga direkomendasikan untuk menghadapi ujian dan cobaan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331817/original/055880700_1787567222-BSU_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334903/original/053454000_1787904698-HOAX__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335179/original/068083900_1787917398-cek_fakta_menko.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3309137/original/055065200_1606475068-nurhan-yC70QqvrPRk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4409360/original/016295800_1682681480-Gambar_oleh_UIE_1470_dari_Pixabay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335324/original/010237700_1787971110-IMG-20260827-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5402935/original/045204600_1762311893-priest-holding-holy-book-bracelet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321440/original/060833200_1786441575-masjid-maba-QhzQfD0ihnI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335243/original/017300600_1787931572-1001046155.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335304/original/061668100_1787961852-b9c6e570-1159-48bd-9aca-8279e138b7b1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3444300/original/037742600_1619765801-20210430-Suasana_Sholat_Jumat_Minggu_Ketiga_Ramadhan_di_Masjid_Istiqlal-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3187901/original/087360700_1595477323-courtyard-kalyan-mosque-sunset-bukhara-uzbekistan_196911-7.jpg)