Kisah Pelari Inggris yang Berpuasa Ramadan di Tengah Persiapan London Marathon

Mahamed Mahamed, pelari maraton top Inggris, menunjukkan dedikasi luar biasa dengan tetap menjalankan ibadah puasa Ramadan saat mempersiapkan diri.

Diterbitkan 16 Maret 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mahamed Mahamed, seorang pelari jarak jauh pria Inggris berusia 28 tahun, tengah menjadi sorotan atas dedikasinya yang luar biasa. Ia berhasil menyeimbangkan tuntutan latihan intensif untuk London Marathon dan Kejuaraan Eropa dengan kewajiban menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Keputusan ini diambilnya meskipun ada saran dari beberapa pihak untuk menunda puasanya demi fokus pada persiapan kompetisi.

Kisah Mahamed menyoroti tantangan unik yang dihadapi atlet Muslim selama bulan suci, di mana mereka harus menahan diri dari makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam. Namun, bagi Mahamed, Ramadan bukan hanya sebuah kewajiban, melainkan juga sumber kekuatan dan fokus yang membantunya memahami dirinya sendiri.

Dengan catatan waktu pribadi yang impresif dan posisi di antara pelari maraton terbaik Inggris, Mahamed membuktikan bahwa keyakinan spiritual dapat berjalan seiring dengan ambisi profesional di dunia olahraga. Perjalanan Mahamed ini menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bagaimana disiplin diri dan iman dapat membentuk seorang atlet yang tangguh.

Prestasi Mahamed Mahamed

Mahamed Mahamed dikenal sebagai salah satu pelari jarak jauh pria terkemuka di Inggris. Di usianya yang ke-28 tahun, ia telah mengukir namanya dalam sejarah atletik Inggris dengan menempati posisi keempat dalam daftar pelari maraton Inggris sepanjang masa.

Catatan waktu terbaik pribadinya yang mengesankan adalah dua jam tujuh menit dan lima detik. Prestasi ini menempatkannya dalam kelompok elit pelari maraton Inggris yang mampu mencatatkan waktu di bawah 2 jam 8 menit.

Mahamed termasuk dalam generasi baru pelari maraton Inggris yang sangat berbakat, bersama dengan atlet triatlon Alex Yee, Emile Cairess, dan Philip Sesemann. Kelompok ini disebutnya sebagai “era baru” yang membawa angin segar bagi dunia lari maraton di Britania Raya.

Persiapan Intensif Menuju London Marathon

Saat ini, Mahamed Mahamed sedang fokus mempersiapkan diri untuk London Marathon yang akan datang. Ia memiliki target ambisius untuk memecahkan catatan waktu terbaik pribadinya di ajang bergengsi tersebut.

Selain London Marathon, Mahamed juga mengincar medali di Kejuaraan Eropa yang akan diselenggarakan di Birmingham pada musim panas ini. Ini menunjukkan tekadnya untuk tidak hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga di kancah internasional.

Untuk mendukung latihannya, Mahamed memilih kota Ifrane di Pegunungan Atlas, Maroko, sebagai lokasi pemusatan latihan. Lingkungan di sana memungkinkannya untuk berlatih dengan aman di bawah lampu sorot lintasan pada malam hari, sebuah keuntungan besar selama bulan Ramadan.

Tantangan Puasa Ramadan dan Latihan Maraton

Menjalankan puasa Ramadan sambil mempersiapkan diri untuk maraton adalah tantangan yang tidak mudah, namun Mahamed Mahamed memilih untuk tetap melakukannya. Ia bahkan mengabaikan saran untuk menunda puasanya, menegaskan bahwa puasa sudah menjadi rutinitas dan bagian tak terpisahkan dari dirinya.

Selama Ramadan, Mahamed tidak makan atau minum selama jam siang hari. Jadwal latihannya pun disesuaikan, seringkali ia baru menyelesaikan sesi latihan hingga dini hari.

Rutinitas hariannya melibatkan sesi pertama sekitar pukul 4 sore, diikuti dengan berbuka puasa dan pergi ke masjid. Setelah itu, ia akan melanjutkan sesi latihan kedua. Mahamed kemudian tidur sebentar, bangun lagi sekitar pukul 4 pagi untuk makan sahur, lalu kembali tidur untuk menambah waktu istirahat.

Meskipun mengakui kesulitan yang ada, Mahamed melihat Ramadan sebagai hal yang paling penting baginya. Ia percaya bahwa ibadah ini membantunya untuk lebih fokus dan memahami potensi dirinya.