Liputan6.com, Jakarta - Hujan buatan dan modifikasi cuaca menjadi salah satu teknologi yang dimanfaatkan untuk membantu mengatasi kekeringan, mengisi waduk, serta mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Di Indonesia, teknologi ini kerap digunakan ketika ketersediaan air menurun pada musim kemarau atau saat hujan lebat berpotensi menimbulkan banjir di wilayah tertentu.
Meski disebut hujan buatan, proses ini tidak berarti manusia bisa menciptakan hujan dari langit yang cerah. Teknologi modifikasi cuaca bekerja dengan memanfaatkan awan yang sudah terbentuk dan memiliki potensi menghasilkan hujan. Melalui intervensi tertentu, proses pembentukan butiran air atau kristal es di dalam awan diupayakan berlangsung lebih efektif.
Lantas, bagaimana cara kerja hujan buatan, kapan teknologi ini dilakukan, dan sejauh mana efektivitasnya? Memahami proses, manfaat, serta keterbatasan modifikasi cuaca penting agar masyarakat tidak keliru menganggap teknologi ini sebagai solusi instan untuk semua persoalan cuaca. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (27/10/2026).
Advertisement
Apa Itu Hujan Buatan dan Modifikasi Cuaca?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4204203/original/007809000_1666770893-thai-an-FDCuK-B_f3A-unsplash.jpg)
Hujan buatan merupakan istilah populer untuk upaya meningkatkan peluang terjadinya hujan melalui intervensi terhadap proses alami di dalam awan. Sementara itu, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memiliki cakupan lebih luas, yakni serangkaian upaya untuk memengaruhi kondisi cuaca pada wilayah dan periode tertentu sesuai kebutuhan.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), teknologi modifikasi cuaca dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan sumber daya air di atmosfer dengan tujuan menambah atau mengurangi intensitas curah hujan di daerah tertentu. Penerapannya disesuaikan dengan kondisi atmosfer, kebutuhan pengelolaan air, dan risiko bencana yang hendak dikurangi.
Dalam penjelasan IPB University yang dimuat pada April 2025, Dr. I Putu Santikayasa menerangkan bahwa modifikasi cuaca tidak mengubah iklim secara permanen. Dampaknya bersifat sementara karena teknologi ini bekerja pada proses cuaca yang sedang berlangsung, bukan mengendalikan pola iklim dalam jangka panjang.
Dengan demikian, hujan buatan bukanlah teknologi untuk memesan hujan kapan saja. Keberhasilannya bergantung pada keberadaan awan yang sesuai, kandungan air di atmosfer, suhu, pergerakan udara, serta faktor meteorologi lainnya.
Advertisement
Bagaimana Cara Kerja Hujan Buatan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381313/original/040860400_1792800361-WhatsApp-Image-2026-08-20-at-1.26.40-PM.jpeg.jpg)
Proses utamanya adalah penyemaian awan atau cloud seeding. Proses hujan buatan berangkat dari siklus air yang berlangsung secara alami. Air dari laut, sungai, danau, serta permukaan tanah menguap akibat panas matahari. Uap air kemudian naik, mengalami pendinginan, dan berkondensasi menjadi butiran air atau partikel es yang membentuk awan.
Namun, tidak semua awan langsung menghasilkan hujan. Butiran air harus tumbuh cukup besar hingga dapat jatuh ke permukaan bumi. Dalam kondisi tertentu, proses tersebut berlangsung lambat sehingga penyemaian awan dilakukan untuk membantu pertumbuhan partikel air atau kristal es.
Menurut ensiklopedia Britannica dalam pembahasan mengenai modifikasi cuaca, penyemaian awan dilakukan dengan memasukkan partikel tertentu ke dalam awan untuk memengaruhi proses pembentukan presipitasi. Bahan yang digunakan dan mekanisme kerjanya bergantung pada jenis awan serta kondisi suhu di dalamnya.
Secara umum, proses modifikasi cuaca melalui penyemaian awan berlangsung dalam beberapa tahap berikut.
1. Mengamati kondisi atmosfer dan menentukan awan target
Sebelum operasi dilakukan, tim meteorologi mengumpulkan informasi mengenai kondisi atmosfer. Data yang diperlukan antara lain keberadaan dan ketebalan awan, kandungan uap air, suhu, arah angin, kecepatan angin, serta kestabilan atmosfer.
Informasi tersebut digunakan untuk menentukan apakah terdapat awan yang berpotensi menghasilkan hujan dan memungkinkan untuk disemai. Pengamatan dapat memanfaatkan radar cuaca, citra satelit, data pengamatan permukaan, serta instrumen meteorologi lainnya.
Guru Besar FMIPA IPB University, Prof. Yonny Koesmaryono, dalam penjelasan yang diterbitkan pada Juni 2026 menekankan bahwa kondisi atmosfer yang tidak stabil dapat mendukung pertumbuhan awan. Sebaliknya, atmosfer yang stabil cenderung menghambat perkembangan awan sehingga intervensi modifikasi cuaca menjadi kurang efektif.
Tahap pengamatan ini penting karena penyemaian tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Tim harus menentukan lokasi dan waktu yang sesuai berdasarkan analisis kondisi atmosfer, bukan sekadar memilih wilayah yang sedang mengalami kekeringan atau banjir.
2. Menyebarkan bahan semai ke dalam awan
Setelah awan target ditentukan, bahan semai disebarkan melalui pesawat atau perangkat berbasis darat. Di Indonesia, operasi modifikasi cuaca dapat melibatkan pesawat yang membawa bahan semai menuju lokasi awan sesuai rencana penerbangan dan hasil analisis meteorologi.
Salah satu bahan yang umum digunakan adalah natrium klorida (NaCl) atau garam. Partikel garam bersifat higroskopis, yaitu mampu menarik uap air. Dalam awan yang sesuai, partikel tersebut membantu pembentukan dan pertumbuhan butiran air melalui proses kondensasi serta tumbukan dan penggabungan tetesan air.
Pada awan dingin yang mengandung tetesan air superdingin, yaitu air yang tetap berbentuk cair meskipun suhunya di bawah titik beku, bahan seperti perak iodida (AgI) dapat digunakan untuk membantu pembentukan kristal es. Es kering juga pernah digunakan dalam eksperimen penyemaian awan.
Menurut Britannica dan Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO), bahan semai dipilih berdasarkan karakteristik awan yang menjadi sasaran. Artinya, garam bukan satu-satunya bahan untuk modifikasi cuaca dan tidak semua jenis bahan cocok digunakan dalam setiap kondisi atmosfer.
3. Membantu pertumbuhan butiran air atau kristal es
Setelah bahan semai masuk ke dalam awan, partikel tersebut berinteraksi dengan air dan proses mikrofisika awan. Pada awan hangat, partikel higroskopis dapat membantu tetesan air tumbuh lebih besar sehingga berpeluang bergabung dengan tetesan lainnya.
Pada awan dingin tertentu, partikel inti es dapat memicu pembentukan kristal es. Kristal ini kemudian tumbuh dengan mengambil uap air atau melalui proses pertumbuhan partikel es lainnya. Ketika partikel menjadi cukup besar, partikel tersebut dapat jatuh sebagai presipitasi.
Jika suhu lapisan udara di bawah awan cukup hangat, presipitasi yang jatuh dapat mencapai permukaan sebagai hujan. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer di sepanjang jalur jatuhnya butiran air atau kristal es.
Perlu dipahami bahwa bahan semai tidak otomatis menghasilkan hujan. Intervensi hanya berpeluang memengaruhi proses yang memang memungkinkan terjadi secara alami di dalam awan.
4. Memantau hasil operasi
Setelah penyemaian dilakukan, tim memantau perkembangan awan dan distribusi hujan menggunakan radar cuaca, pengamatan lapangan, serta data meteorologi lainnya. Pemantauan ini membantu menentukan apakah operasi perlu dilanjutkan, disesuaikan, atau dihentikan.
Evaluasi juga diperlukan untuk menilai apakah curah hujan mengalami perubahan dibandingkan kondisi yang diperkirakan terjadi secara alami. Penilaian tidak cukup hanya berdasarkan hujan yang turun setelah penyemaian karena hujan tersebut belum tentu seluruhnya disebabkan oleh intervensi.
WMO menekankan pentingnya penelitian yang dirancang secara ilmiah, pengamatan yang memadai, dan evaluasi statistik untuk mengukur efektivitas penyemaian awan. Dengan pendekatan tersebut, manfaat operasi dapat dinilai lebih objektif, sekaligus membantu meningkatkan kualitas pelaksanaan pada masa mendatang.
Kapan Modifikasi Cuaca Dilakukan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5319682/original/035401100_1755571192-886a3511-ca09-477b-980c-d89b60eb834a.jpg)
Waktu pelaksanaan modifikasi cuaca ditentukan oleh tujuan operasi dan kondisi meteorologi. Teknologi ini dapat digunakan pada musim kemarau maupun musim hujan, tetapi sasaran dan strategi pelaksanaannya berbeda.
1. Saat musim kemarau dan ketersediaan air menurun
Pada musim kemarau, curah hujan yang rendah dapat mengurangi persediaan air di waduk, bendungan, dan sumber air untuk kebutuhan pertanian maupun rumah tangga. Dalam kondisi tertentu, modifikasi cuaca dilakukan untuk meningkatkan peluang hujan di daerah tangkapan air.
Tujuannya antara lain membantu menambah pasokan air untuk irigasi, mendukung ketersediaan air baku, dan menjaga cadangan air untuk pembangkit listrik tenaga air. Operasi harus dilakukan ketika awan yang memenuhi persyaratan tersedia dan kondisi atmosfer mendukung.
Namun, modifikasi cuaca bukan solusi tunggal untuk kekeringan berkepanjangan. Apabila wilayah sasaran tidak memiliki awan yang dapat disemai, teknologi ini tidak dapat menciptakan hujan dari langit yang cerah. Pengelolaan waduk, penghematan air, dan perlindungan daerah tangkapan air tetap diperlukan.
2. Saat risiko banjir meningkat pada musim hujan
Pada musim hujan, modifikasi cuaca dapat diarahkan untuk membantu mengurangi risiko hujan lebat di wilayah yang rentan banjir. Salah satu strategi yang dapat dipertimbangkan adalah menyemai awan yang sesuai agar presipitasi terjadi lebih awal di lokasi yang dinilai lebih aman, sebelum awan mencapai daerah sasaran.
Meski demikian, strategi tersebut tidak sama dengan memindahkan awan sesuka hati atau menjamin bahwa hujan tidak akan turun di wilayah rawan banjir. Arah angin, pergerakan awan, intensitas hujan, dan kondisi atmosfer dapat berubah sehingga hasilnya tidak selalu sesuai perkiraan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, dalam artikel yang diterbitkan pada 15 Agustus 2025, menjelaskan bahwa modifikasi cuaca di Indonesia digunakan untuk berbagai kebutuhan mitigasi bencana, termasuk mengurangi risiko banjir dan kebakaran hutan serta lahan.
Keputusan operasi perlu mempertimbangkan risiko di lokasi penyemaian maupun wilayah lain yang berpotensi terdampak. Modifikasi cuaca juga harus menjadi bagian dari sistem penanggulangan banjir yang mencakup drainase, pengelolaan sungai, pemantauan tinggi muka air, dan peringatan dini.
3. Ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu alasan penting pelaksanaan modifikasi cuaca di Indonesia. Pada musim kemarau, tim dapat berupaya meningkatkan peluang hujan di wilayah yang mengalami kebakaran atau di daerah sekitarnya untuk membantu membasahi vegetasi dan lahan gambut.
Hujan tambahan berpotensi membantu mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api. Namun, keberhasilannya bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai, lokasi sasaran, dan jumlah hujan yang benar-benar turun.
Modifikasi cuaca tidak menggantikan pemadaman langsung, patroli, pembasahan lahan gambut, maupun penegakan hukum terhadap pembakaran lahan. Teknologi ini lebih tepat dipahami sebagai salah satu upaya pendukung dalam penanganan karhutla.
4. Saat diperlukan pengelolaan curah hujan untuk kegiatan tertentu
Modifikasi cuaca juga dapat dipertimbangkan untuk mendukung kegiatan yang sensitif terhadap hujan, seperti acara besar atau pekerjaan infrastruktur. Dalam situasi tertentu, operasi ditujukan untuk mengurangi peluang hujan di lokasi kegiatan dengan mengelola awan yang sesuai di wilayah lain.
BPBD Kota Pontianak mencatat penerapan modifikasi cuaca untuk mendukung sejumlah kegiatan besar di Indonesia, termasuk SEA Games XXVI di Palembang pada 2011, MotoGP Mandalika pada 2022, dan KTT G20 pada 2022.
Namun, operasi semacam ini membutuhkan perencanaan meteorologi yang cermat. Hujan tidak bisa dijamin berhenti hanya karena ada penyemaian awan, terutama jika sistem cuaca yang terbentuk sudah kuat dan kompleks.
Advertisement
Apa Perbedaan Hujan Buatan dan Cloud Breaking?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282759/original/029724800_1672917977-Jawa_dan_Bali_Masuki_Puncak_Musim_Hujan-IQBAL_2.jpg)
Selain penyemaian awan untuk meningkatkan peluang hujan, terdapat pendekatan modifikasi cuaca yang bertujuan mengurangi curah hujan. Salah satunya dikenal sebagai cloud breaking atau upaya mengurangi perkembangan awan.
Menurut penjelasan Dr. I Putu Santikayasa dari IPB University pada April 2025, pendekatan ini bertujuan menghambat proses kondensasi atau mengurangi jumlah uap air yang berkembang menjadi tetesan air di dalam awan. Penerapannya berbeda dari penyemaian awan yang ditujukan untuk meningkatkan peluang presipitasi.
Meski demikian, cloud breaking tidak boleh dipahami sebagai teknologi yang bisa membubarkan semua awan atau menghentikan hujan lebat secara pasti. Keberhasilannya bergantung pada mekanisme yang digunakan dan karakteristik sistem cuaca. WMO juga menegaskan bahwa belum ada metode penyemaian awan yang terbukti mampu mengendalikan banjir atau mengubah badai tropis secara andal.
Karena itu, setiap klaim mengenai keberhasilan pengurangan hujan perlu diperiksa berdasarkan data dan evaluasi ilmiah. Tidak semua metode modifikasi cuaca memiliki tingkat bukti efektivitas yang sama.
Seberapa Efektif Hujan Buatan dan Modifikasi Cuaca?
Efektivitas hujan buatan dan modifikasi cuaca masih bergantung pada kondisi atmosfer, metode penyemaian, dan tujuan operasi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penyemaian dapat meningkatkan presipitasi dalam kondisi tertentu, terutama pada jenis awan yang karakteristik fisiknya sesuai dengan metode yang digunakan.
Dalam pernyataan mengenai modifikasi cuaca, WMO menjelaskan bahwa bukti ilmiah untuk beberapa metode penyemaian awan semakin berkembang. Namun, hasil penelitian pada satu jenis awan atau wilayah tidak dapat langsung diterapkan pada wilayah lain karena perbedaan kondisi atmosfer dan karakteristik awan.
Departemen Lingkungan dan Air Australia juga menjelaskan bahwa sejumlah uji coba penyemaian awan di wilayah tertentu belum menunjukkan peningkatan curah hujan yang signifikan secara statistik. Hal ini memperlihatkan bahwa hasil operasi tidak selalu dapat dipastikan sejak awal.
Ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan.
- Tidak bisa menciptakan awan dari nol. Penyemaian membutuhkan awan dengan karakteristik yang sesuai. Wilayah yang mengalami kekeringan tanpa awan potensial tidak otomatis memperoleh hujan melalui teknologi ini.
- Hasilnya tidak selalu sama. Jenis awan, suhu, kandungan air, kestabilan atmosfer, dan angin memengaruhi kemungkinan keberhasilan operasi.
- Sulit membedakan hujan alami dan hujan akibat penyemaian. Evaluasi membutuhkan data pembanding dan metode ilmiah agar perubahan curah hujan tidak langsung dianggap sebagai hasil operasi.
- Tidak menggantikan penanganan bencana. Modifikasi cuaca harus didukung pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan banjir, pengendalian karhutla, dan sistem peringatan dini.
Dengan memahami keterbatasan tersebut, masyarakat dapat menilai teknologi ini secara lebih proporsional. Modifikasi cuaca berpotensi membantu pengelolaan air dan mitigasi bencana, tetapi bukan solusi yang menjamin seluruh risiko cuaca ekstrem dapat dihilangkan.
Apakah Hujan Buatan Aman bagi Lingkungan?
Keamanan lingkungan merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan modifikasi cuaca. Bahan semai yang digunakan harus dipilih sesuai kebutuhan dan dievaluasi berdasarkan jumlah, cara penyebaran, serta kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan.
Menurut WMO, penelitian yang tersedia belum menunjukkan dampak signifikan terhadap kesehatan manusia atau lingkungan dari perak iodida dan bahan semai umum lainnya dalam operasi yang telah diteliti. Namun, penggunaan bahan dalam jumlah jauh lebih besar atau bahan baru tetap memerlukan penilaian risiko yang sesuai.
Di sisi lain, peneliti IPB University mengingatkan bahwa potensi dampak bahan seperti perak iodida terhadap organisme perairan dan siklus nutrisi ekosistem air tawar masih menjadi perhatian dalam kajian lingkungan. Oleh sebab itu, pemantauan jangka panjang tetap dibutuhkan, terutama jika operasi dilakukan secara berulang di wilayah yang sama.
Pelaksanaan modifikasi cuaca juga perlu memperhatikan dampak di wilayah lain yang berada di sepanjang arah pergerakan awan. Perubahan distribusi hujan dapat menimbulkan persoalan apabila manfaat dan risikonya tidak dipertimbangkan secara menyeluruh.
Pada akhirnya, penggunaan teknologi ini harus didasarkan pada kebutuhan yang jelas, analisis meteorologi yang memadai, koordinasi antarlembaga, dan evaluasi hasil. Transparansi mengenai tujuan operasi serta hasil pemantauan juga penting agar masyarakat memahami manfaat dan keterbatasan teknologi tersebut.
Tanya Jawab Seputar Modifikasi Cuaca
1. Apakah hujan buatan benar-benar bisa menciptakan hujan?
Hujan buatan tidak menciptakan hujan dari langit yang cerah. Teknologi ini memanfaatkan awan yang sudah terbentuk dan berpotensi menghasilkan hujan, kemudian mengintervensi proses fisik di dalamnya agar presipitasi lebih mungkin terjadi.
2. Kapan hujan buatan biasanya dilakukan?
Hujan buatan dapat dilakukan pada musim kemarau untuk membantu menambah pasokan air dan mendukung penanganan karhutla. Pada musim hujan, modifikasi cuaca juga dapat dipertimbangkan untuk membantu mengurangi risiko hujan lebat di wilayah rawan bencana.
3. Bahan apa yang digunakan untuk membuat hujan buatan?
Bahan yang dapat digunakan antara lain natrium klorida (NaCl), perak iodida (AgI), dan es kering. Pemilihannya bergantung pada karakteristik awan, suhu, metode penyemaian, serta tujuan operasi.
4. Apakah modifikasi cuaca bisa menghentikan banjir atau kekeringan?
Tidak secara langsung dan tidak selalu berhasil. Modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu upaya untuk memengaruhi distribusi hujan, tetapi banjir dan kekeringan dipengaruhi banyak faktor. Teknologi ini tidak dapat menggantikan pengelolaan air, infrastruktur pengendalian banjir, atau upaya konservasi sumber daya air.
5. Apakah hujan buatan berbahaya bagi manusia dan lingkungan?
Penelitian yang dirangkum WMO belum menunjukkan dampak signifikan terhadap kesehatan manusia atau lingkungan dari bahan semai umum dalam operasi yang telah diteliti. Namun, risiko tetap perlu dinilai berdasarkan bahan, jumlah penggunaan, lokasi, dan frekuensi operasi. Pemantauan lingkungan serta penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan pelaksanaannya bertanggung jawab.
Â
Â
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383132/original/088044500_1793074246-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__6_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/5486971/original/031412300_1769651868-omc.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5456968/original/059102500_1766982723-SnapInsta-Ai_3720053977506767582.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369819/original/012353600_1791537077-bQowSYrQW8ZlrkXdk5Z2o1lQWi1dODQwnkmsbwct.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383208/original/010553500_1793074992-4547ae4a-b526-4a64-b94e-7f21294b8bd2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5399231/original/009167800_1761912655-unnamed-15.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119231/original/054127200_1738569033-brooke-cagle-JBwcenOuRCg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3426408/original/005688900_1618209714-WhatsApp_Image_2021-04-12_at_08.22.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383130/original/087432400_1793072035-Gemini_Generated_Image_nsxtbcnsxtbcnsxt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4095487/original/098267400_1658337488-pexels-yan-krukov-9069287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311499/original/049377200_1785403837-0fc7f2d8-2807-4879-9db1-7059320cb74a.jpg)