Pohon Rambutan Jarang Ditemui? 3 Faktor yang Penting Diketahui

Pohon rambutan jarang ditemui? Di sejumlah daerah, anggapan tersebut mulai sering terdengar. Simak pemaparan dari pakar IPB University.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rambutan (Nephelium lappaceum) secara tradisional menjadi penanda awal musim hujan, biasanya muncul sekitar bulan Oktober hingga November, dengan masa panen di bulan Desember. Namun, belakangan ini, pohon rambutan jarang ditemui, dan buahnya semakin sulit ditemukan di pasaran. Padahal melansir National Library Board, pohon rambutan ini sejarahnya sangat subur ditanam di daerah tropis seperti Indonesia. 

Fenomena pohon rambutan jarang ditemui belakangan ini bukan sekadar asumsi, melainkan sebuah realitas yang dikonfirmasi oleh Profesor Sobir, seorang ahli buah tropis dari IPB University, dilansir dari laman IPB University. Prof. Sobir menjelaskan bahwa kelangkaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. 

Salah satu penyebab krusial adalah kondisi iklim pada tahun 2025 yang cenderung mengalami "kemarau basah". Kondisi ini, di mana musim kemarau diwarnai intensitas hujan tinggi, mengacaukan siklus alami tanaman rambutan.  SImak informasi selengkapnya di bawah ini. 

1. Iklim Tak Menentu Mengganggu Siklus Pembungaan

Pohon rambutan, seperti banyak tanaman buah tropis lainnya, sangat membutuhkan periode kering selama dua hingga empat minggu untuk merangsang proses pembungaan yang optimal. Periode kering ini memberikan "stres yang baik" yang esensial bagi induksi bunga.

Menurut prof Sobir,  fenomena "kemarau basah" yang terjadi pada tahun 2025 membuat induksi pembungaan tidak berjalan optimal. Energi pohon rambutan justru habis digunakan untuk pertumbuhan daun baru (vegetatif) alih-alih memproduksi bunga. Akibatnya, sebagian besar pohon gagal berbunga.

Bahkan, bagi sebagian kecil pohon yang berhasil memunculkan bunga, hujan lebat disertai angin kencang di akhir tahun dapat menyebabkan bunga-bunga tersebut rontok atau membusuk sebelum sempat berkembang menjadi buah. Ini semakin memperparah kondisi pohon rambutan jarang ditemui.

2. Sifat Rambutan yang Biannual Bearing 

Faktor lain yang menyebabkan produksi rambutan tidak stabil adalah sifat alami tanaman yang dikenal sebagai biannual bearing. Sifat ini menunjukkan bahwa pohon rambutan cenderung berbuah sangat lebat pada satu tahun, namun kemudian menghasilkan buah yang jauh lebih sedikit pada tahun berikutnya.

Penurunan produksi ini terjadi karena cadangan hasil fotosintesis tanaman terkuras habis selama panen besar sebelumnya. Pohon buah tropis hanya akan berbunga ketika memiliki cadangan fotosintesis yang cukup.

“Pohon buah tropis seperti rambutan akan berbunga ketika tanaman memiliki cadangan fotosintesis yang cukup dan mengalami periode kering selama 2-4 minggu. Biasanya, tanaman berbunga di awal musim hujan, sekitar Oktober-November, dan dipanen pada bulan Desember selama musim hujan,” kata Prof Sobir.

3. Pergeseran Nilai Ekonomi

Pergeseran nilai ekonomi turut berkontribusi pada fenomena pohon rambutan jarang ditemui. Nilai jual rambutan yang relatif rendah seringkali membuat petani atau pemilik pohon enggan memanen buah ketika jumlahnya sedikit. Panen dalam jumlah kecil dianggap tidak ekonomis atau tidak menguntungkan.

Akibatnya, buah rambutan seringkali dibiarkan begitu saja di pohon. Selain itu, budidaya rambutan mungkin mulai kurang diminati sebagai tanaman pekarangan bernilai ekonomis dibandingkan buah lain seperti durian, buah naga, atau pisang.

Meskipun demikian, terdapat optimisme untuk tahun 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa 94,7 persen wilayah Indonesia pada tahun 2026 akan mengalami curah hujan tahunan dalam kategori Normal, dengan kisaran 1.500 hingga 4.000 mm/tahun. Sementara itu, 5,1 persen wilayah sisanya diprediksi akan mengalami curah hujan tahunan dalam kategori Di Atas Normal. Dengan kondisi ini, diharapkan produksi rambutan akan kembali normal pada tahun 2026.

 

Upaya Melestarikan Pohon Rambutan, Apa Saja?

Keberadaan pohon rambutan dapat dipertahankan melalui berbagai langkah, antara lain:

  •  Menanam bibit rambutan di pekarangan rumah jika tersedia lahan. 
  •  Memilih bibit unggul hasil okulasi agar lebih cepat berbuah. 
  •  Mendukung program penghijauan dengan tanaman buah. 
  •  Melestarikan pohon rambutan tua yang masih produktif. 
  •  Mendorong petani untuk tetap membudidayakan rambutan sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.

 

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Pohon Rambutan Jarang Ditemui

1. Mengapa pohon rambutan jarang ditemui belakangan ini?

Pohon rambutan jarang ditemui karena kombinasi faktor iklim yang tidak mendukung (kemarau basah), sifatbiannual bearing tanaman, dan pergeseran nilai ekonomi yang membuat petani enggan memanen.

2. Bagaimana iklim memengaruhi produksi rambutan?

Kondisi iklim "kemarau basah" pada tahun 2025 menyebabkan induksi pembungaan rambutan tidak optimal karena tanaman membutuhkan periode kering selama 2-4 minggu untuk berbunga dengan baik.

3. Apa yang dimaksud dengan sifat biannual bearing pada rambutan?

Biannual bearing adalah sifat alami pohon rambutan yang berbuah lebat pada satu tahun dan menghasilkan buah lebih sedikit pada tahun berikutnya karena cadangan fotosintesis terkuras habis setelah panen besar.

4. Bagaimana nilai ekonomi rambutan memengaruhi ketersediaannya?

Nilai ekonomi rambutan yang relatif rendah membuat petani enggan memanen saat jumlah buah sedikit karena dianggap tidak menguntungkan, sehingga buah sering dibiarkan di pohon.

5. Bagaimana prospek produksi rambutan di tahun 2026 menurut BMKG?

BMKG memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia (94,7%) akan mengalami curah hujan normal pada tahun 2026, sehingga diharapkan produksi rambutan akan kembali normal.

 

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6