Sudah Vaksinasi HPV, Apa Masih Perlu Pap Smear untuk Deteksi Kanker Serviks?

Dokter beri jawaban tentang manfaat vaksinasi HPV dan pap smear.

Diterbitkan 27 April 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Vaksinasi HPV merupakan salah satu upaya mencegah atau menurunkan risiko terkena kanker leher rahim atau serviks. Meski begitu, rutin melakukan pemeriksaan pap smear perlu dilakukan secara rutin bagi perempuan yang sudah aktif berhubungan seksual.

"Apakah kalau udah vaksin tetap harus pap smear? Jawabannya tetap, dua-duanya harus berjalan berbarengan," kata dokter spesialis kebidanan dan kandungan subspesialis fertilitas, Darrell Fernando.

Darrell mengungkapkan lewat deteksi dini rutin, virus atau lesi prakanker yang ditemukan bisa dicegah menjadi kanker.

"Justru kalau misalnya ada sesuatu dalam kondisi yang prakanker atau deteksi dini, itu angka kesembuhan masih hampir 100 persen. Ketimbang nunggu gejala, biasanya kalau udah nunggu gejala baru diperiksa ternyata sudah menjadi cancer stage 2," kata Darrell mengutip Antara.

Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), pap smear merupakan langkah deteksi dini kanker serviks harus dilakukan secara rutin setiap tiga tahun sekali hingga wanita berusia 65 tahun.

Pemeriksaan rutin perlu dilakukan karena kanker ini termasuk asimptomatik atau tanpa gejala di tahap awal.

Di Indonesia, beban kasus kanker serviks yang sangat tinggi di Indonesia, dengan sekitar 36.633 kasus baru setiap tahunnya dan angka kematian mencapai 21.003 jiwa. Artinya, hampir 50 hingga 60 persen pasien kehilangan nyawa karena terlambat terdeteksi.

Mengenal HPV

Human Papillomavirus (HPV) adalah cosmopolite virus. Artinya, virus ini bisa menyebar luas dan ada di mana-mana. Bika dilihat dari rutenya, penularan virus ini bisa melalui kontak genital vagina, anal, dan mulut.

Lalu, 80 persen kasus kanker anus disebabkan oleh tipe HPV 16 dan 18.

Guna mencegah terjadinya penyakit-penyakit itu, Darrel menyarankan imunisasi HPV. “Sering kami temui, banyak pasien baru menyadari risikonya ketika sudah berada pada tahap lanjut penyakit. Padahal, intervensi paling efektif justru dilakukan sebelum paparan, salah satunya melalui Imunisasi,” katanya.

“Memilih Imunisasi bukan didasarkan pada ketakutan, melainkan keputusan cerdas dan bertanggung jawab untuk melindungi potensi, kemandirian, serta kualitas hidup perempuan di setiap tahap kehidupannya. Inilah yang perlu kita dorong bersama—menggeser pola pikir dari pengobatan menjadi pencegahan sejak dini,” tambahnya.