Sering Bikin Khawatir, Ini Penjelasan Dokter soal HPV di Toilet Duduk

Enggan gunakan toilet duduk karena takut tertular HPV, dokter imbau tak perlu khawatir berlebih.

Diterbitkan 26 April 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter kandungan subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi, Darrell Fernando, menjelaskan bahwa Human Papillomavirus (HPV) adalah cosmopolite virus. Artinya, virus ini bisa menyebar luas dan ada di mana-mana.

Timbul kekhawatiran di tengah masyarakat soal HPV di toilet, khususnya di kloset duduk. Terkait hal ini, Darrell mengatakan HPV bisa ada di mana-mana tapi tidak perlu khawatir berlebih.

“Virusnya ada di mana-mana, kalau duduk (di kloset) terus ketempelan virusnya mungkin aja bisa. Tapi sampai masuk ke dalam (vagina) enggak? Beda dengan hubungan intim yang ada penetrasi sampai ke dalam,” kata Darrell dalam Forum IVAXCON bersama MSD, di Jakarta pada Sabtu (25/4/2026).

“Jadi kalau cuma duduk doang terus cebok, menurut saya tidak signifikan. Jadi, enggak usah ditakuti. Saya pribadi kalau di toilet umum suka lap dulu sebelum duduk, untuk kebersihan personal enggak apa-apa, tapi kalau sampai takut enggak mau duduk itu enggak usah, sewajarnya aja,” paparnya.

HPV sendiri adalah virus yang dapat menular melalui aktivitas seksual. Dilihat dari rutenya, penularan virus ini bisa melalui kontak genital vagina, anal, dan mulut.

Lantas, apakah kebiasaan cebok yang keliru pada perempuan bisa memicu terjadinya infeksi HPV?

“Enggak, kalau cara cebok yang salah tidak (menyebabkan infeksi HPV). Karena kalau cara cebok itu kan biasanya di permukaan. Justru kalau cebok tidak dianjurkan sampai nyemprot atau ngobok ke dalam lubang vagina, cuma di luar,” katanya kepada Health Liputan6.com.

Alih-alih karena cara cebok yang keliru, HPV pada perempuan lebih sering terjadi akibat penetrasi hingga ke dalam vagina. Mengingat, ujung serviks atau leher rahim seperti gang buntu.

“Nah, di gang buntu itulah yang ngumpul virusnya (sehingga memicu infeksi HPV),” jelasnya.

Akibat Infeksi HPV

Bagi sebagian orang, infeksi HPV dapat hilang dengan sendirinya. Namun, infeksi berkepanjangan dari tipe HPV tertentu dapat menyebabkan beberapa jenis kanker dan penyakit. Beberapa penyakit yang dipicu virus ini adalah kutil kelamin, kanker serviks, kanker vagina, kanker vulva, dan kanker anus.

Darrell menjelaskan, Indonesia adalah negara dengan kasus kanker vagina dan vulva tertinggi di Asia Tenggara. Kanker ini terjadi di pada sistem reproduksi wanita, yaitu bagian dalam (vagina) dan luar (vulva). Infeksi HPV menyebabkan 70 persen kanker vagina dan vulva.

Sementara, kanker anus secara biologi memiliki kesamaan karakteristik dengan kanker serviks. Kanker ini dapat terjadi pada pria dan wanita.

Indonesia adalah negara dengan kasus kanker anus tertinggi di Asia tenggara dan 80 persen kasus disebabkan oleh tipe HPV 16 dan 18.

Cegah dengan Vaksinasi

Guna mencegah terjadinya penyakit-penyakit itu, Darrel menyarankan imunisasi HPV.

“Sering kami temui, banyak pasien baru menyadari risikonya ketika sudah berada pada tahap lanjut penyakit. Padahal, intervensi paling efektif justru dilakukan sebelum paparan, salah satunya melalui Imunisasi,” katanya.

Imunisasi HPV dapat dilakukan sebelum menikah atau sebelum aktif secara seksual, bisa pula dilakukan usai menikah atau sudah pernah melakukan hubungan penetrasi.

“Tidak ada kata terlambat, memilih Imunisasi bukan didasarkan pada ketakutan, melainkan keputusan cerdas dan bertanggung jawab untuk melindungi potensi, kemandirian, serta kualitas hidup perempuan di setiap tahap kehidupannya. Inilah yang perlu kita dorong bersama—menggeser pola pikir dari pengobatan menjadi pencegahan sejak dini,” pungkasnya.