Imunisasi HPV untuk Anak Usia Sekolah Dinilai Paling Efektif Cegah Infeksi di Masa Depan

Imunisasi HPV pada anak usia sekolah dinilai paling efektif mencegah infeksi di masa depan dan melindungi dari risiko kanker terkait HPV.

Diterbitkan 22 April 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Imunisasi HPV pada anak usia sekolah dinilai sebagai langkah paling efektif untuk mencegah infeksi Human Papillomavirus (HPV) di masa depan, terutama jika diberikan pada umur 9 s.d 13 tahun sebelum anak terpapar risiko.

Selama ini, HPV lebih sering dikaitkan dengan kanker serviks pada perempuan. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Virus ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang gender.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dr. Andi Saguni, M.A, menegaskan bahwa perlu ada perubahan cara pandang masyarakat terhadap HPV.

"Sejak lama, narasi seputar Human Papillomavirus di masyarakat terbatas pada perempuan, khususnya terkait kanker serviks. Hal ini tidak sepenuhnya salah. Namun, HPV tidak mengenal gender," ujarnya dalam diskusi kesehatan yang digelar MSD Indonesia pada Selasa, 21 April 2026.

Dia juga menambahkan bahwa imunisasi HPV yang sudah masuk dalam program nasional telah menunjukkan capaian baik pada anak perempuan. Namun, edukasi untuk anak laki-laki masih harus diperluas sebagai bagian dari perlindungan menyeluruh.

Dari sisi pencegahan, para ahli sepakat bahwa imunisasi HPV untuk anak usia sekolah dinilai paling efektif cegah infeksi di masa depan.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA (K), menegaskan pentingnya waktu pemberian vaksin. Umur 9 s.d 13 tahun dianggap sebagai periode emas karena sistem imun anak berada pada kondisi optimal untuk membentuk perlindungan jangka panjang.

"Sistem imun anak merespons paling kuat pada usia 9–13 tahun, sehingga efektivitas pencegahan maksimal diraih jika dimulai pada periode ini, sebelum mereka terpapar risiko di masa dewasa," ujarnya.

Menurutnya, imunisasi HPV bukan hanya perlindungan individu, tapi juga bagian dari pencegahan penyakit menular yang lebih luas di masyarakat.

 

Risiko HPV pada Laki-Laki Sering Terabaikan

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (PERDOSKI), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, Subsp. Ven., mengungkap adanya 'hidden burden' HPV pada laki-laki yang selama ini kurang disadari.

HPV pada laki-laki dapat menyebabkan kutil kelamin, kanker penis, hingga kanker orofaring. "Laki-laki biasanya tidak membangun kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi HPV, sehingga risiko infeksi persisten menjadi lebih besar," ujarnya.

Hanny juga menyoroti bahwa kanker orofaring pada laki-laki memiliki risiko hingga empat kali lebih tinggi dibanding perempuan, tapi belum tersedia program skrining dini yang rutin seperti pada kanker serviks.

 

Investasi Kesehatan Jangka Panjang

Karena belum adanya metode skrining dini untuk beberapa kanker terkait HPV, pencegahan menjadi langkah paling penting. Imunisasi sejak usia sekolah dinilai sebagai strategi utama untuk memutus rantai penularan virus ini.

Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, menegaskan pentingnya pendekatan kesetaraan dalam kesehatan.

"Melalui prinsip Health Equity, kami berkomitmen mendorong perlindungan yang lebih inklusif sehingga tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan proteksi," ujarnya.

Para ahli sepakat bahwa imunisasi HPV bukan sekadar tindakan medis, melainkan investasi kesehatan jangka panjang. Dengan memberikan vaksin sejak dini, anak-anak memiliki perlindungan lebih kuat sebelum memasuki usia dewasa dan berisiko terpapar infeksi.

Edukasi yang konsisten, akses imunisasi yang merata, serta pemahaman bahwa HPV tidak mengenal gender menjadi kunci utama dalam menekan angka penyakit terkait virus ini di masa depan.

Dengan semakin luasnya kampanye kesehatan seperti ini, harapannya tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan kesempatan perlindungan hanya karena kurangnya informasi.