Di Balik Busana Serba Hitam Pemakaman Raja Harald V dari Norwegia, Ada Aturan dan Simbol Khusus

Pilihan busana pemakaman Raja Harald V dari Norwegia bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap suasana duka.

Diterbitkan 11 September 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah upacara pemakaman Raja Harald V dari Norwegia yang berlangsung khidmat, busana para pelayat kerajaan turut menjadi sorotan. Dominasi warna hitam terlihat dalam penampilan anggota keluarga kerajaan dari berbagai negara yang hadir di Oslo untuk memberikan penghormatan terakhir pada sang raja.

Pilihan busana tersebut bukan sekadar bentuk penghormatan terhadap suasana duka. Di lingkungan kerajaan, pakaian berkabung mengikuti protokol tertentu yang telah berkembang selama ratusan tahun.

Setiap elemen memiliki pertimbangan tersendiri, mulai dari gaun hitam, tudung, aksesori kepala, hingga seragam militer yang dilengkapi berbagai medali. Melansir Hola, Kamis, 10 September 2026, warna hitam telah lama menjadi simbol duka dalam tradisi Barat.

Sementara itu, model pakaian dan aksesori yang digunakan dapat mencerminkan kedudukan, tugas, serta hubungan pemakainya dengan institusi monarki maupun militer. Tradisi busana berkabung di lingkungan kerajaan Eropa juga tidak lepas dari pengaruh Ratu Victoria.

Setelah Pangeran Albert meninggal pada 1861, Victoria memilih terus mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk penghormatan terhadap mendiang suaminya. Penampilannya kemudian ikut membentuk standar busana berkabung di kalangan bangsawan Eropa.

Pengaruh tersebut masih terlihat dalam sejumlah upacara kerajaan hingga kini. Di Kerajaan Inggris, misalnya, anggota keluarga kerajaan yang menjalankan tugas resmi secara tradisional mengenakan seragam militer dalam prosesi pemakaman tertentu.

Busana itu sekaligus menegaskan peran mereka sebagai bagian dari Angkatan Bersenjata, serta memperlihatkan keterkaitan erat antara monarki dan institusi militer.

Protokol Busana

Pemakaman kerajaan memiliki protokol busana yang berlaku bagi keluarga kerajaan maupun tamu yang hadir. Para tamu dari luar keluarga kerajaan umumnya diwajibkan mengenakan pakaian serba hitam sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang.

Ketentuan berbeda berlaku bagi anggota keluarga kerajaan perempuan yang tidak menjalankan tugas resmi. Mereka biasanya mengenakan gaun hitam dengan panjang hingga lutut. Sementara itu, penggunaan seragam militer dapat disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan tertentu.

Pada pemakaman Putri Diana pada 1997 dan Putri Margaret pada 2002, anggota keluarga kerajaan memilih tidak mengenakan seragam militer.

Kebijakan serupa diterapkan saat pemakaman Pangeran Philip pada 2021 untuk menghindari Pangeran Harry dan Andrew Mountbatten-Windsor menjadi satu-satunya anggota yang hadir tanpa seragam.

Pangeran Harry Sempat Dapat Pengecualian

Pangeran Harry tidak mengenakan seragam militernya saat menghadiri pemakaman Ratu Elizabeth II pada 2022. Keputusan tersebut berkaitan dengan langkah Harry dan istrinya, Meghan Markle, untuk mundur dari tugas sebagai anggota senior keluarga kerajaan yang aktif pada 2020.

Meski tidak lagi menjalankan tugas resmi, Harry mendapat pengecualian dari Raja Charles III dalam salah satu rangkaian penghormatan terakhir. Ia diizinkan mengenakan seragam militer saat menghadiri acara doa bersama di Westminster Hall, tempat peti mati Ratu Elizabeth II disemayamkan sebelum prosesi pemakaman.

Ketentuan itu menunjukkan bahwa penggunaan seragam dalam acara kerajaan tidak selalu bersifat mutlak. Aturannya dapat berbeda bergantung pada status anggota keluarga, jenis acara, serta protokol yang berlaku.

Pemakaman Raja Harald V

Sementara itu, prosesi pemakaman Raja Harald V dari Norwegia berlangsung di Oslo pada Rabu, 9 September 2026, dengan penghormatan kenegaraan. Upacara diawali tembakan 21 kali sebagai penanda dimulainya iring-iringan dari Istana Kerajaan menuju Katedral Oslo, lapor AP.

Peti jenazah Harald ditutupi panji Kerajaan Norwegia dan diikuti putranya, Raja Haakon VIII, bersama sejumlah anggota keluarga kerajaan. Ratu Sonja dan Ratu Mette-Marit mengikuti prosesi menggunakan kendaraan.

Sejumlah bangsawan Eropa dan pemimpin negara dari lebih dari 20 negara turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir pada Harald, yang wafat pada usia 89 tahun setelah memimpin Norwegia selama 35 tahun. Ribuan warga memadati jalan-jalan Oslo untuk menyaksikan prosesi tersebut.

Setelah misa pemakaman di Katedral Oslo, peti Harald dibawa dalam prosesi yang lebih kecil menuju Benteng Akershus. Di lokasi tersebut, sang raja dimakamkan di ruang bawah tanah kapel kerajaan.