Daycare Bukan Sekadar Tempat Titip Anak tapi Ruang Pengasuhan Tanpa Kekerasan

Pengasuhan yang dilakukan di daycare harus berbasis anak. Selain tidak melakukan kekerasan, pengasuh sebaiknya membangun kelekatan atau bonding dengan anak.

Diterbitkan 27 April 2026, 10:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Daycare merupakan sebuah tempat pengasuhan berbasis anak (child-centered parenting). Ini artinya pengasuh yang ada di daycare harus punya perspektif pengasuhan berbasis anak.

Salah satu aspek penting adalah pengasuhan yang dilakukan tanpa kekerasan seperti disampaikan Asdep Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah II Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenpppa) Eko Novi Ariyanti.

"Pengasuh di daycare itu harus dipastikan tidak melakukan kekerasan pada anak. Tidak boleh melakukan kekerasan sekecil apapun," kata Ariyanti pada Sabtu, 25 April 2026 saat grand launching Mika Daycare and Preschool di BSD, Tangerang Selatan.

Pengasuh mesti tahu ketika anak tantrum atau rewel bisa melakukan apa saja. Bukan malah melakukan kekerasan.

"Misal anak susah makan, pengasuh sudah tahu melakukan apa-apa saja tapi tidak dengan kekerasan," katanya.

Lalu, pengasuh tak hanya membantu mengurus anak tapi juga memberikan edukasi kepada anak di daycare. Misalnya mengajak anak membaca buku, bermain, mendongeng.

Dua aspek itu tak cukup. Ariyanti mengatakan bahwa pengasuh di daycare juga perlu memiliki bonding atau kelekatan dengan anak yang diasuh.

"Jadi, bonding itu jadi penting di daycare. Pengasuh tidak hanya sebatas dia mengasuh anak, tetapi harus ada kelekatan juga dari pengasuh," tuturnya.

Ariyanti menuturkan, kelekatan antara pengasuh dan anak di daycare bisa terbangun sangat kuat. Ia mencontohkan seorang pengasuh senior yang pernah ia temui begitu dekat dengan anak-anak, hingga saat ia hendak ke toilet pun, anak tetap menggelayut di kakinya.

 

Anak Punya Pengasuh yang Beri Rasa Aman

Di kesempatan yang sama, dokter spesialis anak Dewi Kartika Suryani mengatakan bahwa anak usia nol sampai 2 tahun sebaiknya punya primary caregiver. Pada ibu bekerja, tidak apa bila primary caregiver adalah nanny atau pengasuh di daycare yang terpenting sosok tersebut bisa memberikan rasa aman pada anak.

"Ketika anak mendapatkan pengasuh yang gonta-ganti. Misalnya mbak yang mengasuh kadang datang, kadang enggak, nah itu bisa memengaruhi rasa percaya diri anak, anak takut mencoba hal baru, eksplorasi lingkungan, otomatis bermasalah. Hal ini bisa membuatnya insecure nanti pas besar," kata wanita yang karib disapa Deka ini.

Sejalan dengan kebutuhan daycare yang ramah anak, Mika Daycare & Preschool membuka cabang ketiganya di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan.

"Mika juga belum sempurna tapi kami berusaha memberikan yang terbaik dalam pengasuhan anak," tutur Co-Founder Mika Daycare and Preschool, Marta Yuliana.

 

Jadi Sistem Pendukung agar Orangtua Bisa Bekerja dengan Tenang

Cabang ini memiliki kapasitas hingga 80 anak dan melayani penitipan usia 3 bulan hingga 6 tahun dengan daya tampung 80 orang dan melayani penitipan anak anak berusia 3 bulan hingga 6 tahun.

“Mika hadir sebagai sistem pendukung yang memungkinkan orangtua bekerja dengan lebih tenang, karena anak-anak mereka berada dalam lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembangnya,” kata Marta.

Wanita yang telah fokus pada penyedia layanan pendidikan anak usia dini 10 tahun terakhir ini mengatakan kehadiran Mika Daycare yang ketiga sebagai bagian penting dalam ekosistem yang mendukung pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan keluarga.

"Ini juga sebagai langkah strategis dalam memperluas akses layanan pendidikan anak usia dini yang berkualitas, sekaligus mendukung kebutuhan keluarga modern, khususnya perempuan yang bekerja," katanya.