7 Agustus 1947: Pria Norwegia Tempuh Perjalanan Laut 6,900 Km Pakai Perahu Rakit

Antropolog asal Norwegia menyelesaikan perjalanannya sejauh 6,900 km pada 7 Agustus 1947.

Diterbitkan 07 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Oslo - Perjalanan laut terjauh menggunakan rakit kayu dalam sejarah dilakukan oleh seorang antropolog asal Norwegia, Thor Heyerdahl, pada tanggal 7 Agustus 1947. Ekspedisi bernama Ekspedisi Kon-Tiki ini berhasil menjelajahi laut sejauh 6,900 kilometer selama 101 hari dari Peru ke Raroia di Kepulauan Tuamotu dekat Tahiti.

Dikutip dari History.com, Jumat (7/8/2026), ekspedisi ini untuk membuktikan teori Heyerdahl bahwa penduduk Amerika Selatan pada zaman prasejarah mungkin telah menjajah kepulauan Polinesia dengan mengapung terbawa arus laut.

Antropolog tersebut beserta kelima awak kapalnya berlayar dari Callao, Peru bersama kapal Kon-Tiki yang berukuran 13 meter pada 28 April 1947. Kon-Tiki, yang diambil dari nama seorang kepala suku kulit putih dalam mitologi, dibuat dari bahan-bahan lokal dan dirancang menyerupai rakit-rakit yang digunakan oleh suku-suku asli Amerika Selatan pada masa awal. Saat menyeberangi Samudra Pasifik, para pelaut menghadapi badai, hiu, dan paus sebelum akhirnya terdampar di Raroia, Polinesia Prancis.

Pria yang lahir di Larvik, Norwegia pada 6 Oktober 1914 tersebut meyakini bahwa penduduk paling awal Polinesia berasal dari Amerika Selatan. Ini adalah teori yang bertentangan dengan pandangan akademis umum yang mengatakan bahwa para pendatang pertama asalnya dari Asia. 

Bahkan setelah pelayarannya sukses, para antropolog dan sejarawan tetap meragukan keyakinan Heyerdahl. Namun, perjalanannya ini  berhasil memikat masyarakat. Ia pun menulis sebuah buku tentang pengalamannya yang menjadi buku terlaris internasional dan sudah diterjemahkan ke 65 bahasa. Ia pun membuat sebuah film dokumenter tentang perjalanannya yang memenangkan Penghargaan Akademi di tahun 1951.

Ekspedisi pertamanya ke Polinesia terjadi di tahun 1937. Heyerdahl dan istri pertamanya hidup secara sederhana di Fatu Hiva, Kepulauan Marquesas selama satu tahun dan mempelajari flora dan fauna di sana. Pengalamannya itu membuatnya meyakini bahwa manusia pertama kali tiba di kepulauan tersebut menaiki perahu-perahu primitif yang terbawa arus laut dari arah timur.

Setelah ekspedisi Kon-Tiki, Heyerdahl kembali melakukan perjalanan arkeologi ke bermacam tempat seperti Kepulauan Galapagos, Easter Island, dan Peru. Ia juga terus menguji teorinya mengenai bagaimana perjalanan melintasi lautan memainkan peran penting dalam pola migrasi di budaya-budaya kuno.

Pada 1970, ia berlayar mengarungi Samudra Atlantik dari Moroko ke Barbados dengan perahu alang-alang anyaman bernama Ra II (diambil dari dewa matahari Mesir, Ra). Perjalanan ini untuk membuktikan bahwa orang Mesir mungkin pernah menjalin hubungan dengan penduduk Amerika sebelum Columbus datang. Kemudian, di 1977, ia kembali berlayar melintasi Samudra Hindia dengan kapal anyaman primitif yang dibangun di Irak untuk mempelajari bagaimana peradaban prasejarah di Mesopotamia, Lembah Indus, dan Mesir mungkin pernah terhubung.

Meskipun karyanya tidak pernah diterima oleh sebagian besar akademisi, Heyerdahl tetap menjadi tokoh publik yang populer dan terpilih sebagai “Tokoh Norwegia Abad Ini” di tanah airnya.

Ia meninggal dunia di umurnya yang ke-87 tahun pada tanggal 18 April 2002 di Italia. Rakit yang digunakan pada ekspedisi terkenalnya tahun 1947 kini disimpan di Museum Kon-Tiki di Oslo, Norwegia.