Ceuta Kembali Normal setelah Para Migran Menyeberang Kembali ke Maroko

Ceuta merupakan salah satu dari dua wilayah Spanyol di Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko.

Diterbitkan 01 Agustus 2026, 20:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Madrid - Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan hampir semua migran yang masuk ke Ceuta telah meninggalkan wilayah tersebut hingga Sabtu (1/8/2026).

"Situasinya hampir sepenuhnya kembali seperti semula," ujarnya seperti dilaporkan CNA.

Kepala pemerintahan Ceuta Juan Jesus Vivas memperkirakan sekitar 60.000 migran masuk dari Maroko hanya dalam beberapa hari. 

Pada Sabtu pagi, wartawan AFP melihat para migran muda yang masih berada di Ceuta terus menyeberang kembali ke Maroko di bawah pengawasan tentara dan polisi Spanyol.

Tentara langsung mengarahkan migran yang terlalu lama berada di jalur pesisir agar segera kembali ke Maroko.

Banyak migran sebelumnya masuk ke Ceuta dengan berenang memutari pembatas kecil di perbatasan yang menjorok ke Laut Mediterania.

Grande-Marlaska mengatakan sedikitnya 67 orang tewas saat berusaha menyeberang. Jumlah tersebut merupakan data terbaru yang disampaikannya pada Sabtu.

Di luar sebuah pusat penampungan migran di Ceuta, Souleye Bodian (19) yang berasal dari Senegal mengatakan kepada AFP, "Kami berharap bisa pergi ke Eropa untuk bekerja dan mencari nafkah. Hanya itu."

Bodian mengatakan, "Kita semua tahu tidak banyak peluang di Afrika."

Arus migran yang datang secara tiba-tiba itu memicu kepanikan politik di Eropa.

Uni Eropa Perketat Perbatasan

Sebanyak 22 negara Uni Eropa menerbitkan surat terbuka bersama pada Sabtu. Mereka mendesak agar konferensi video para menteri dalam negeri Uni Eropa segera digelar untuk menyepakati langkah cepat dan terkoordinasi serta mencegah penyeberangan tidak terkendali lebih lanjut.

Prancis memperketat pemeriksaan di perbatasannya dengan Spanyol. Negara itu akan menambah jumlah petugas di perbatasan menjadi 334 orang, yang terdiri dari polisi dan polisi militer.

Mulai Sabtu, Italia kembali memberlakukan pemeriksaan terhadap pelaku perjalanan dari Spanyol selama satu bulan, meski kedua negara sama-sama menjadi anggota kawasan Schengen.

Sejumlah negara Uni Eropa juga mengusulkan agar keanggotaan Spanyol dalam kawasan bebas pergerakan Schengen ditangguhkan. Namun, langkah tersebut nyaris mustahil diterapkan.

Dalam surat kepada para pemimpin Komisi Eropa dan Dewan Eropa, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengecam sikap "egois" sejumlah negara Uni Eropa. Ia mendukung pertemuan daring para menteri dalam negeri Uni Eropa untuk membahas situasi tersebut.

Pemerintah Spanyol telah mengerahkan tentara, polisi, pesawat nirawak, penyelam, dan kapal ke Ceuta, wilayahnya di Afrika Utara yang telah dikelola selama berabad-abad.

Pada Sabtu, wartawan AFP melihat sejumlah anak muda memilih kembali ke Maroko setelah semalaman berkeliaran di pantai dan jalan-jalan Ceuta. Puluhan pria lainnya tidur di atas pasir.

Beberapa dari mereka mengucapkan "adios" atau "selamat tinggal" kepada petugas sebelum menyeberang kembali ke Maroko.

 

Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengatakan penghalang berisi udara sepanjang 500 meter telah dipasang di dekat pos perbatasan untuk memperkuat pengamanan.

Belum diketahui apa yang memicu arus migran dalam jumlah sangat besar secara tiba-tiba tersebut. Penyeberangan migran disebut mencapai puncaknya pada Kamis (30/7).

Pihak berwenang Maroko sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai kejadian itu.