Laporan Biro Statistik China: Jumlah Pengangguran Anak Muda Alami Kenaikan

Berapa jumlah total pengangguran yang dicatat oleh Biro Statistik China?

Diterbitkan 03 Mei 2026, 09:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Pasar tenaga kerja di Tiongkok menunjukkan sinyal beragam di tengah pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Data terbaru dari Biro Statistik Nasional Tiongkok mencatat tingkat pengangguran perkotaan usia 16–24 tahun (tidak termasuk mahasiswa) naik menjadi 16,9 persen pada Maret, membalik tren penurunan selama enam bulan sebelumnya.

Kenaikan ini terjadi menjelang masuknya sekitar 12,7 juta lulusan baru ke pasar kerja dalam beberapa pekan ke depan, menambah tekanan pada pasar yang sudah kesulitan menyerap tenaga kerja muda, dikutip dari Mekong News, Senin (4/5/2026).

Para analis menilai kondisi ini bukan sekadar fluktuasi siklus, melainkan mencerminkan ketidakseimbangan struktural antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Meski ekonomi Tiongkok mencatat kinerja kuartal pertama yang melampaui ekspektasi, pertumbuhan tersebut terutama ditopang sektor industri dan ekspor yang cenderung tidak padat karya.

Di sisi lain, perekrutan di sektor swasta—terutama teknologi, properti, dan jasa—masih lesu akibat dampak pengetatan regulasi dan lemahnya permintaan domestik. Tekanan deflasi juga membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menambah tenaga kerja, dengan kecenderungan memilih pekerja berpengalaman dibanding lulusan baru.

Kondisi ini menciptakan hambatan klasik bagi generasi muda: sulit mendapatkan pekerjaan tanpa pengalaman, namun tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman tersebut.

Sebagai respons, sebagian lulusan memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana untuk menunda masuk ke pasar kerja. Sementara itu, minat terhadap pekerjaan di sektor pemerintah meningkat tajam karena dianggap menawarkan stabilitas, meski persaingan semakin ketat. Tercatat lebih dari 3,7 juta pelamar mengikuti seleksi pegawai negeri, dengan rasio persaingan mencapai sekitar 98 pelamar untuk satu posisi.

 

Dampak Kenaikan Jumlah Pengangguran

Dampak tekanan ini juga mulai merembet ke kelompok usia lebih tua. Tingkat pengangguran usia 25–29 tahun naik menjadi 7,7 persen—tertinggi sejak pencatatan dimulai—menunjukkan bahwa kesulitan tidak hanya dialami lulusan baru, tetapi juga mereka yang telah beberapa tahun memasuki dunia kerja.

Para ekonom memperingatkan, tingginya pengangguran pemuda berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang, termasuk menekan konsumsi, menunda pembentukan rumah tangga, serta melemahkan kepercayaan terhadap mobilitas sosial. Kondisi ini dinilai bertentangan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan berbasis permintaan domestik.

Dengan musim kelulusan yang segera mencapai puncak, prospek jangka pendek diperkirakan akan semakin kompetitif. Tantangan bagi jutaan pencari kerja bukan hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menemukan posisi yang stabil dalam ekonomi yang masih beradaptasi pascapandemi.

Bagi pembuat kebijakan, situasi ini menjadi ujian untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dapat diterjemahkan menjadi penciptaan lapangan kerja yang lebih luas, sebelum tekanan pengangguran berkembang menjadi masalah struktural yang lebih dalam.