Kontrasepsi Berbahaya di China Kuno: Dari Ramuan Pahit hingga Racun Merkuri

Metode kontrasepsi berbahaya ini ditemukan dari catatan kuno di China.

Diterbitkan 10 Maret 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Berbagai metode kontrasepsi telah digunakan di China sejak ribuan tahun lalu. Namun dalam masyarakat yang kuat dipengaruhi norma patriarki dan sistem feodal, pengendalian reproduksi sering kali menjadi beban perempuan, bahkan dengan cara-cara yang berisiko bagi kesehatan.

Catatan kuno menunjukkan bahwa upaya mencegah kehamilan sudah dikenal sejak era pra-kekaisaran. Salah satu referensi awal terdapat dalam Shan Hai Jing atau Kitab Pegunungan dan Laut. Teks tersebut menyebut tanaman bernama Gurong sebagai salah satu ramuan yang diyakini dapat mencegah kehamilan.

Tanaman ini digambarkan memiliki rasa sangat pahit, dengan daun menyerupai anggrek dan akar mirip bunga balon. Pada masa pra-Qin, masyarakat percaya bahwa memakan Gurong dapat mencegah kehamilan karena tanaman tersebut hanya berbunga tetapi tidak berbuah. Namun hingga kini, klaim tersebut belum dibuktikan secara ilmiah.

Sumber medis kuno lain, Qian Jin Yao Fang, juga mencatat metode lain seperti meminum air rebusan akar melati ungu yang dipercaya dapat memicu keguguran, dikutip dari SCMP, Selasa (10/3/2026).

Kondom dari Gelembung Ikan

Selain ramuan herbal, metode fisik juga muncul pada masa Periode Negara‑Negara Berperang. Penemuan arkeologis di makam Marquis Yi of Zeng di Provinsi Hubei menunjukkan benda berbentuk tabung yang terbuat dari gelembung ikan kering.

Benda tersebut diyakini sebagai salah satu bentuk kondom paling awal yang pernah ditemukan. Beberapa perempuan pada masa itu menggunakan gelembung ikan yang dibersihkan sebagai alat kontrasepsi sederhana.

Meski demikian, metode tersebut dianggap tidak nyaman, berbau amis, dan tidak higienis. Bahkan muncul ungkapan slang dalam bahasa Tiongkok, tou xing, yang secara harfiah berarti “mencuri bau amis”, untuk menggambarkan perselingkuhan.

Ramuan yang menyebabkan kemandulanPada masa Dinasti Han, salah satu selir favorit Kaisar Cheng dari Han, yakni Zhao Feiyan, disebut menggunakan pil yang terbuat dari campuran musk dan tanduk rusa.

Pil tersebut dioleskan pada pusar dan diyakini membuat tubuh lebih ringan serta kulit lebih halus. Namun catatan sejarah menyebut ramuan itu juga menyebabkan kemandulan. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, musk dipercaya memperlancar peredaran darah, tetapi penggunaan berlebihan dapat merusak lapisan rahim.

Tekanan terhadap perempuan bahkan meningkat pada masa Dinasti Wei Utara. Sebuah dekrit menyatakan bahwa ibu dari pangeran yang dinobatkan sebagai pewaris takhta harus dihukum mati untuk mencegah campur tangan politik dari keluarga sang ibu. Akibatnya, banyak selir memilih diam-diam menggunakan berbagai cara untuk menghindari kehamilan.

 

Racun dan Praktik Ekstrem

Pada masa Dinasti Tang, kemakmuran ekonomi dan hubungan dagang melalui Jalur Sutra memperkenalkan bahan kontrasepsi baru seperti musk dan saffron dari Barat. Namun bahan tersebut mahal dan hanya dapat diakses oleh pelacur kelas elit.

Sebagian besar perempuan biasa menggunakan metode berbahaya, seperti memakan kecebong atau menelan merkuri. Kepercayaan populer saat itu menyebutkan bahwa kecebong dapat menghentikan menstruasi, sementara merkuri dianggap mampu mengganggu produksi hormon.

Catatan dalam Xin Tang Shu juga menyebutkan ramuan yang dibuat dari musk, lintah, dan lalat kuda yang diminum oleh beberapa selir. Ramuan tersebut menyebabkan sakit perut hebat dan sering berujung pada kemandulan permanen.

Pada masa Dinasti Song dan Dinasti Yuan, pekerja rumah bordil bahkan dipaksa meminum teh herbal dengan kandungan musk tinggi, kadang dicampur merkuri atau arsenik, untuk menghancurkan kesuburan mereka secara permanen.

Penelitian menunjukkan bahwa harapan hidup perempuan pekerja rumah bordil pada masa itu jauh lebih rendah dibandingkan populasi umum. Banyak yang meninggal sebelum usia 30 tahun akibat penyakit ginekologis.

Kisah Tragis dan Metode Bagi Pria

Metode ekstrem juga tercatat pada masa Dinasti Ming. Ibu dari penulis terkenal Gui Youguang disebut dibujuk memakan dua siput sungai hidup setelah melahirkan, karena dipercaya dapat mencegah kehamilan. Namun praktik tersebut justru membuatnya bisu dan ia meninggal pada usia 26 tahun.

Pada masa Dinasti Qing, metode kontrasepsi juga mulai melibatkan laki-laki. Di wilayah timur China, minyak biji kapas diketahui dapat menyebabkan kemandulan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Penelitian modern menunjukkan bahwa minyak tersebut mengandung senyawa yang dapat menghambat produksi sperma, meskipun efeknya bisa pulih setelah konsumsi dihentikan.

 

Perubahan di Era Modern

Sejumlah catatan bahkan menyebutkan praktik ekstrem di lingkungan istana, seperti menggantung perempuan terbalik dan membasuh bagian bawah tubuhnya dengan cairan tertentu untuk mencegah kehamilan jika seorang kaisar tidak ingin memiliki keturunan dari perempuan tersebut.

Kini, perkembangan ilmu kedokteran dan meningkatnya kesetaraan gender memberikan pilihan kontrasepsi yang jauh lebih aman. Di China modern, tanggung jawab pengendalian kelahiran semakin dipandang sebagai tanggung jawab bersama.

Produk kontrasepsi yang lebih memperhatikan kenyamanan perempuan mulai berkembang, sementara semakin banyak pria memilih menjalani prosedur vasektomi sebagai bagian dari perencanaan keluarga.