Liputan6.com, Washington, DC - Iran menyita sebuah kapal tanker berbendera Kepulauan Marshall saat kapal itu melintas di Selat Hormuz pada Jumat (14/11/2025). Menurut seorang pejabat Amerika Serikat, Iran memaksa kapal tersebut masuk ke perairan teritorialnya.
Insiden ini menjadi yang pertama dalam beberapa bulan terakhir di jalur pelayaran strategis tersebut.
"Kapal Talara sedang berlayar dari Ajman, Uni Emirat Arab, menuju Singapura ketika pasukan Iran mencegatnya," kata pejabat pertahanan Amerika Serikat yang berbicara secara anonim, seperti dilansir dari Associated Press.
Advertisement
Berdasarkan data pelacakan penerbangan yang dianalisis oleh Associated Press, sebuah drone Angkatan Laut Amerika Serikat jenis MQ-4C Triton berputar di atas area tempat Talara berada selama berjam-jam pada Jumat untuk mengamati penyitaan itu.Â
Perusahaan keamanan swasta Ambrey menggambarkan serangan itu melibatkan tiga kapal kecil yang mendekati Talara.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), secara terpisah mengakui insiden tersebut dan menyatakan bahwa kemungkinan ada tindakan dari aparat resmi sebuah negara yang memaksa Talara berbelok ke perairan teritorial Iran. Sementara itu, Columbia Shipmanagement, perusahaan berbasis di Siprus yang mengelola operasi kapal Talara, menyatakan bahwa mereka telah kehilangan kontak dengan kapal tanker yang mengangkut gasoil bersulfur tinggi tersebut.
Perusahaan tersebut menyatakan telah memberi tahu otoritas terkait dan bekerja sama dengan semua pihak terkait — termasuk agen keamanan maritim dan pemilik kapal — untuk memulihkan kontak dengan kapal tersebut.
"Keselamatan awak kapal tetap menjadi prioritas utama kami," tegas mereka.
Angkatan Laut Amerika Serikat sebelumnya menyalahkan Iran atas serangkaian serangan ranjau tempel yang merusak kapal tanker pada 2019 dan serangan drone fatal pada kapal tanker yang terkait dengan Israel pada 2021 yang menewaskan dua awak kapal asal Eropa.Â
Pada Mei 2022, Iran menyita dua kapal tanker Yunani dan menahannya hingga November pada tahun yang sama. Iran juga menyita kapal kargo berbendera Portugal, MSC Aries, pada April 2024.
Tahun-tahun ketegangan antara Iran dan Barat, ditambah situasi di Jalur Gaza, memuncak menjadi konflik selama 12 hari pada Juni antara Iran dan Israel—sebuah konflik bersenjata yang membuat Amerika Serikat menyerang situs-situs nuklir Iran. Insiden penyitaan kapal ini sendiri terjadi di tengah makin seringnya peringatan Iran bahwa mereka dapat melakukan serangan balasan setelah konflik tersebut.
Iran sejak lama mengancam akan menutup Selat Hormuz, yaitu jalur sempit di mulut Teluk Persia tempat sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintas. Untuk memastikan jalur tersebut tetap terbuka, Angkatan Laut Amerika Serikat telah lama berpatroli di kawasan Timur Tengah melalui Armada ke-5 yang berbasis di Bahrain.
Konfirmasi Iran
Iran pada Sabtu (15/11) mengakui penyitaan ini.
Menurut laporan media pemerintah, alasan penyitaan adalah kapal tersebut melakukan pelanggaran termasuk membawa kiriman ilegal.
Laporan kantor berita resmi Irna memuat pernyataan Garda Revolusi yang menyebut bahwa kapal tanker tersebut telah dibawa ke perairan Iran. Pernyataan itu tidak merinci apa yang dimaksud dengan "kiriman ilegal", tidak menjelaskan kondisi awak kapal, maupun ke mana kapal tersebut kini diarahkan.
Disebutkan bahwa penyitaan dilakukan berdasarkan perintah pengadilan dan operasi itu bertujuan untuk melindungi kepentingan dan sumber daya nasional Iran. Garda Revolusi mengidentifikasi kapal tanker tersebut sebagai Talara dan menyatakan bahwa kapal itu mengangkut 30.000 ton produk petrokimia.
Laporan yang sama menyebut bahwa kapal tersebut sedang dalam pelayaran menuju Singapura ketika pasukan Iran mencegatnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317472/original/091873000_1786014229-IMG_3312.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320374/original/084584100_1786347702-Screenshot_2026-08-10_130418.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307902/original/001690200_1785120590-Pjs_Gubernur_BI_Destry_Destry_Damayanti-27_Juli_2026d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4950160/original/058434700_1726996120-download-14.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320652/original/000573200_1786361389-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2247102/original/077551700_1528727709-AP18159655174004.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4905612/original/074102400_1722379583-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5524822/original/062327900_1773012804-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6999442/original/008573700_1779769933-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542887/original/058023900_1774983885-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1694576/original/098412300_1503994463-20170829-Saham-Akibat-Rudal-Korut-AP3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4406288/original/043461500_1682467881-FILES-US-POLITICS-VOTE-BIDEN-104000_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267162/original/045706800_1602658744-20201014-IHSG-Dibuka-di-Zona-Merah-angga-5.jpg)