Heboh Maskapai Ini Minta Dokumen Cuti dari Pramugari yang Sudah Meninggal

Bagaimana peristiwa ini bisa terjadi? Simak selengkapnya berikut ini.

Diterbitkan 18 Oktober 2025, 12:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Taipei - Maskapai penerbangan asal Taiwan, Eva Air, menyampaikan permintaan maaf setelah diketahui menghubungi keluarga seorang pramugari yang telah meninggal dunia untuk meminta berkas cuti. Tindakan ini memicu kemarahan publik dan sorotan luas, sementara pihak berwenang kini menyelidiki dugaan kelalaian dan tekanan kerja berlebih yang dialami pegawai tersebut.

Pegawai yang dimaksud adalah pramugari Eva Air berusia 34 tahun bermarga Sun, yang meninggal dunia pada 8 Oktober setelah dilaporkan merasa tidak enak badan selama penerbangan dari Milan ke Taoyuan, Taiwan, pada 24 September. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Universitas Kedokteran China di Taichung sebelum akhirnya meninggal dunia.

Beberapa hari setelah kematiannya, ponsel Sun menerima pesan teks dari perwakilan Eva Air yang meminta bukti pengajuan cuti selama ia dirawat di rumah sakit. Perwakilan tersebut bahkan meminta foto dokumen cuti untuk dikirimkan. Keluarga Sun menanggapi pesan itu dengan mengirimkan salinan sertifikat kematiannya.

Manajemen Eva Air kemudian mengakui bahwa pesan tersebut merupakan kesalahan dari seorang pegawai internal. Dalam konferensi pers, Presiden Eva Air Sun Chia-Ming menyatakan bahwa perusahaan telah secara pribadi meminta maaf kepada keluarga Sun dan akan menyelidiki kasus ini secara menyeluruh.

"Kepergian Sun adalah luka yang akan selamanya membekas di hati kami," ujarnya seperti dilansir BBC.

Dugaan Pelanggaran

Dalam pernyataan resminya kepada BBC, Eva Air menegaskan bahwa mereka menjaga komunikasi dengan keluarga Sun selama masa perawatan dan sangat berduka atas kepergiannya, seraya menambahkan bahwa kesehatan dan keselamatan karyawan serta penumpang merupakan prioritas utama perusahaan.

Kematian Sun menimbulkan kemarahan besar di media sosial, di tengah tudingan bahwa ia dipaksa terus bekerja meskipun dalam kondisi tidak sehat. Beberapa akun anonim yang mengaku sebagai rekan kerjanya menuduh bahwa Sun tidak diberi kesempatan cukup untuk beristirahat atau bahkan didesak agar tidak mengambil cuti sakit.

Meski begitu, laporan Kantor Berita Pusat Taiwan (CNA) menunjukkan bahwa dalam enam bulan terakhir, Sun terbang rata-rata 75 jam per bulan, masih dalam batas ketentuan resmi. Ia telah bekerja di Eva Air sejak 2016.

Kasus ini kini diselidiki oleh otoritas Taiwan dan pihak maskapai, termasuk kemungkinan adanya pelanggaran terhadap aturan kesehatan kerja. Eva Air juga menyatakan sedang melakukan evaluasi internal untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Menurut CNA, sejak 2013 Eva Air telah tujuh kali didenda, sebagian besar karena pelanggaran terkait jam kerja lembur karyawan.