7 Tips Memelihara Lele di Kolam Terpal agar Tetap Produktif dan Tidak Mudah Mati

Budidaya lele di kolam terpal butuh perhatian khusus. Kunci keberhasilan meliputi persiapan kolam, pemilihan bibit unggul, pengelolaan air, pakan, hingga penceg

Diterbitkan 20 September 2026, 09:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memelihara lele di kolam terpal bisa menjadi pilihan bagi pemula yang ingin memanfaatkan lahan terbatas. Namun, tips memelihara lele di kolam terpal agar tetap produktif dan tidak mudah mati tidak hanya berkaitan dengan pemberian pakan. Kondisi air, kualitas benih, kepadatan ikan, hingga cara melakukan penyortiran turut menentukan keberhasilan pemeliharaan.

Kolam terpal memiliki kelebihan karena kondisi ikan lebih mudah diamati dan pengelolaan air dapat dilakukan dengan lebih praktis. IPB Digitani menjelaskan bahwa kolam terpal juga memudahkan pengaturan volume air, pemberian pakan, pemantauan ikan, penyortiran ukuran, hingga proses panen.

Meski lele dikenal sebagai ikan yang relatif mudah dipelihara, bukan berarti ikan ini bisa dibiarkan tanpa pengawasan. Air yang memburuk, pakan berlebihan, ukuran ikan yang tidak seragam, dan perubahan kondisi kolam dapat meningkatkan risiko kematian. Karena itu, pemeliharaan perlu dilakukan secara teratur sejak benih ditebar sampai mendekati masa panen. Berkut ulasan Liputan6.com, Minggu (20/9/2026).

1. Mulai dari Kolam dan Air yang Siap

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah langsung memasukkan benih ke dalam kolam terpal yang baru dibuat. Material terpal atau bahan perekat tertentu dapat meninggalkan bau dan residu yang mengganggu ikan. IPB Digitani menyarankan kolam terpal yang baru dibuat diisi air bersih dan dibiarkan selama sekitar lima sampai tujuh hari untuk menghilangkan bau sekaligus memastikan tidak ada kebocoran.

Kolam juga perlu memiliki saluran pembuangan yang baik. Fasilitas ini akan memudahkan pembudidaya ketika harus mengurangi atau menambah air, membuang kotoran, serta melakukan pemanenan. Dalam sumber Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan, pengaturan kolam dan saluran pembuangan menjadi bagian penting dari pengelolaan selama masa budidaya.

Ketinggian air sebaiknya tidak dibiarkan terlalu dangkal karena air yang sedikit lebih mudah mengalami perubahan suhu. Sumber Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan juga menjelaskan bahwa ketinggian air dapat disesuaikan seiring pertumbuhan ikan, dari kondisi lebih dangkal pada awal pemeliharaan hingga lebih dalam ketika ikan semakin besar.

Selain itu, jangan sembarangan memasukkan air baru ke kolam. Air yang terlihat jernih belum tentu bebas dari organisme yang dapat mengganggu kesehatan ikan. Penggantian atau penambahan air sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi kolam.

2. Pilih Benih yang Sehat dan Seragam

Produktivitas kolam sebenarnya sudah mulai ditentukan sejak pemilihan benih. Benih yang sehat umumnya tampak lincah, aktif ketika diberi pakan, tidak memiliki cacat fisik, dan ukurannya relatif seragam.

Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Buleleng menyebut ukuran sekitar 5–7 cm sebagai salah satu ukuran benih yang dapat digunakan untuk pembesaran. Keseragaman ukuran penting agar ikan tidak terlalu jauh berbeda dalam memperoleh pakan maupun pertumbuhan.

Hal ini juga berkaitan dengan sifat lele yang dapat bersifat kanibal. Dalam panduan Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan, ikan yang ukurannya lebih besar dianjurkan dipisahkan dari ikan yang lebih kecil untuk mengurangi risiko saling memangsa.

Sebelum ditebar, benih juga perlu menjalani proses aklimatisasi. Jangan langsung menuangkan ikan dari wadah pembelian ke kolam karena perubahan suhu dan lingkungan secara mendadak dapat menyebabkan stres. Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menjelaskan bahwa wadah benih dapat diapungkan dan dimiringkan secara perlahan selama sekitar 15–30 menit agar ikan beradaptasi dengan kondisi air kolam sebelum dilepaskan.

Waktu penebaran juga perlu diperhatikan. Pagi atau sore hari dapat dipilih karena kondisi lingkungan tidak sepanas siang hari sehingga ikan lebih mudah beradaptasi.

3. Jaga Kualitas Air, Jangan Hanya Mengandalkan Penggantian Air

Air merupakan bagian paling penting dalam pemeliharaan lele. Kesalahan dalam mengelola air dapat membuat ikan stres, kehilangan nafsu makan, kemudian mengalami gangguan kesehatan.

Pada praktiknya, pembudidaya perlu mengamati kondisi air setiap hari. Perubahan bau, warna yang tidak biasa, munculnya banyak kotoran, atau perilaku ikan yang berubah dapat menjadi tanda bahwa kondisi kolam perlu diperiksa.

IPB Digitani menekankan bahwa salah satu kelebihan kolam terpal adalah air lebih mudah dipantau dan dikendalikan. Kotoran maupun sisa pakan di dasar kolam juga lebih mudah dikeluarkan melalui sistem pembuangan.

Tidak berarti air harus selalu diganti dalam jumlah besar. Pergantian air yang terlalu mendadak dapat membuat ikan mengalami perubahan lingkungan secara cepat. Dalam panduan Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan, pergantian air pada sistem tertentu dilakukan ketika terdapat tanda seperti nafsu makan menurun, ikan menggantung, air berbau, atau kualitas air menurun. Pergantian dapat dilakukan sekitar 30–50 persen pada pagi atau sore hari sesuai kondisi.

Karena itu, prinsipnya bukan membuat air selalu terlihat bening, melainkan menjaga kondisi kolam tetap stabil dan tidak dipenuhi limbah organik.

4. Berikan Pakan Secukupnya dan Sesuai Pertumbuhan

Pakan menjadi pengeluaran penting sekaligus salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan lele. Memberikan pakan sebanyak-banyaknya tidak otomatis membuat ikan tumbuh lebih cepat. Justru pakan yang tersisa dapat mengendap, membusuk, dan menurunkan kualitas air.

Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menyarankan penggunaan pakan berdasarkan ukuran dan umur ikan. Pada fase awal, pakan dengan kandungan protein lebih tinggi digunakan untuk mendukung pertumbuhan benih. Seiring ikan membesar, kebutuhan dan jenis pakan dapat disesuaikan. Sumber tersebut mencantumkan kisaran protein 38–40 persen untuk pakan awal, 30–33 persen untuk masa pertumbuhan, dan kurang dari 30 persen pada fase akhir.

Takaran juga perlu dihitung berdasarkan bobot ikan, bukan sekadar perkiraan. Salah satu panduan Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan mencantumkan kisaran pemberian pakan sekitar 3–5 persen dari berat tubuh per hari, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi ikan. Jika pakan masih terlihat di permukaan setelah sekitar 10 menit, sisa tersebut sebaiknya segera diambil agar tidak menjadi sumber pencemaran.

Pemberian pakan juga perlu memperhatikan cuaca dan kondisi ikan. Jangan memaksakan pemberian pakan ketika ikan sedang menunjukkan tanda stres atau kondisi air sedang bermasalah. Prioritaskan perbaikan lingkungan kolam sebelum menambah pakan.

5. Lakukan Penyortiran Secara Berkala

Penyortiran sering dianggap sebagai pekerjaan tambahan, padahal tahap ini penting untuk menjaga produktivitas kolam. Lele yang tumbuh lebih cepat akan memiliki ukuran jauh lebih besar dibandingkan ikan yang pertumbuhannya lambat. Jika semuanya dibiarkan bercampur, persaingan mendapatkan pakan dapat semakin tinggi dan risiko kanibalisme meningkat.

Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menjelaskan bahwa penyortiran bertujuan menyeragamkan ukuran, mengontrol perkembangan bobot, menjaga pemerataan pakan, serta mencegah kanibalisme. Panduan tersebut mencantumkan penyortiran pada sekitar umur 15–20 hari, 30–35 hari, dan 60–65 hari sebagai tahapan yang dapat dilakukan selama masa budidaya.

Penyortiran sebaiknya dilakukan dengan hati-hati agar ikan tidak mengalami stres berlebihan. Sebelum penyortiran, ikan tidak diberi pakan terlebih dahulu. Setelah selesai, pemberian pakan juga tidak dilakukan secara langsung; panduan Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menyarankan menunggu setidaknya beberapa jam.

Dengan ukuran ikan yang lebih seragam, pemberian pakan dapat lebih terkontrol dan perkembangan populasi di dalam kolam lebih mudah dipantau.

6. Amati Perilaku Ikan Setiap Hari

Tidak semua masalah pada lele langsung terlihat dari kondisi air. Karena itu, mengamati perilaku ikan merupakan bagian penting dari tips memelihara lele di kolam terpal agar tetap produktif dan tidak mudah mati.

Ikan yang sehat umumnya aktif dan responsif ketika diberi pakan. Sebaliknya, perubahan seperti nafsu makan menurun, ikan terlihat kurang lincah, bergerombol secara tidak biasa, atau sering menggantung di permukaan perlu menjadi perhatian.

Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menyarankan agar ikan yang terluka segera dipisahkan dan sisa pakan yang tidak termakan segera diambil. Pemantauan semacam ini membantu pembudidaya menemukan masalah lebih awal sebelum berdampak pada seluruh populasi.

Periksa juga kondisi fisik kolam. Pastikan tidak ada bagian terpal yang bocor, saluran pembuangan tidak tersumbat, dan tidak ada hewan asing yang dapat masuk ke kolam. Semakin cepat masalah diketahui, semakin mudah tindakan koreksi dilakukan.

7. Panen Sesuai Ukuran dan Siapkan Kolam untuk Siklus Berikutnya

Lele umumnya dapat dipanen setelah sekitar dua hingga tiga bulan, tergantung pertumbuhan dan ukuran yang dibutuhkan. Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Buleleng menyebut masa sekitar 2–3 bulan sebagai periode umum panen, sementara Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan mencatat pemanenan sekitar tiga bulan setelah penebaran dengan ukuran disesuaikan kebutuhan pembeli.

Panen sebaiknya dilakukan dengan hati-hati menggunakan serok atau jaring. Air dapat dikurangi terlebih dahulu agar ikan lebih mudah ditangkap. Hindari perlakuan kasar karena dapat menyebabkan luka pada tubuh ikan dan menurunkan kualitas hasil panen.

Setelah seluruh ikan dipanen, kolam jangan langsung digunakan kembali tanpa dibersihkan. Sisa pakan, kotoran, dan ikan yang tertinggal perlu diperiksa. Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan mengingatkan bahwa ikan lama yang masih berada di kolam dapat menjadi masalah ketika benih baru ditebar karena berpotensi memangsa benih tersebut.

Dengan demikian, satu siklus budidaya sebaiknya tidak dipandang selesai ketika ikan dijual. Pembersihan dan persiapan kolam merupakan awal dari siklus produksi berikutnya.

Pertanyaan Seputar Memelihara Lele di Kolam Terpal

1. Berapa lama lele dapat dipanen?

Pada umumnya lele dapat dipanen sekitar 2–3 bulan setelah ditebar. Waktu tersebut dapat berbeda tergantung pertumbuhan ikan, kualitas pemeliharaan, ukuran benih, serta ukuran konsumsi yang dibutuhkan pembeli.

2. Apakah air kolam lele harus selalu diganti?

Tidak harus selalu diganti dalam jumlah besar. Kondisi air perlu diamati secara rutin dan pergantian dilakukan sesuai kebutuhan. Tanda seperti air berbau, ikan menggantung, nafsu makan menurun, atau kualitas air memburuk dapat menjadi alasan untuk melakukan pergantian sebagian air.

3. Mengapa lele perlu disortir?

Penyortiran membantu menyeragamkan ukuran ikan, membuat pemberian pakan lebih terkontrol, dan mengurangi risiko kanibalisme. Lele dengan ukuran berbeda terlalu jauh sebaiknya dipisahkan agar ikan yang lebih kecil tidak mudah menjadi sasaran ikan yang lebih besar.

4. Berapa kali lele diberi pakan dalam sehari?

Frekuensi pemberian pakan perlu disesuaikan dengan umur, ukuran ikan, jenis pakan, dan kondisi kolam. Yang lebih penting daripada sekadar jumlah pemberian adalah memastikan takaran sesuai kebutuhan sehingga tidak banyak pakan tersisa dan mencemari air.

5. Apa tanda lele sedang mengalami masalah?

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain nafsu makan menurun, ikan menjadi kurang aktif, bergerombol atau menggantung secara tidak biasa, serta muncul perubahan kondisi air seperti bau yang menyengat. Ikan yang terluka juga sebaiknya segera dipisahkan untuk mengurangi risiko masalah meluas.

 

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6