Presiden Kolombia Desak Penyelidikan Pidana terhadap Trump atas Serangan di Karibia

AS melancarkan tiga kali serangan terhadap kapal-kapal di Karibia, yang dimulai pada 2 September dan menewaskan 11 orang. Serangan kedua terjadi pada 16 September dan membunuh tiga orang. Lalu serangan ketiga terjadi pada Jumat lalu.

Diterbitkan 25 September 2025, 08:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, New York - Presiden Kolombia Gustavo Petro pada hari Selasa (23/9/2025) menyerukan penyelidikan pidana terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan para pejabat lain yang terlibat dalam serangan mematikan bulan ini terhadap kapal-kapal di Karibia, yang menurut Gedung Putih sedang mengangkut narkoba.

Petro mengecam ketiga serangan tersebut dalam pidatonya di sidang tahunan Majelis Umum PBB, di mana dia juga menuduh Trump melakukan kriminalisasi terhadap kemiskinan dan migrasi.

"Proses pidana harus dibuka terhadap para pejabat itu, yang berasal dari AS, bahkan jika itu termasuk pejabat dengan jabatan tertinggi yang memberi perintah: Presiden Trump," kata Petro mengenai serangan tersebut seperti dilansir Associated Press, seraya menambahkan bahwa para penumpang kapal bukan anggota geng Venezuela Tren de Aragua seperti yang diklaim pemerintahan Trump pasca serangan pertama.

Petro mengatakan bahwa jika kapal-kapal itu memang membawa narkoba seperti yang dituduhkan pemerintah AS, para penumpangnya bukanlah pengedar narkoba melainkan anak-anak muda miskin dari Amerika Latin yang tidak punya pilihan lain.

Pernyataan Petro datang tidak lama setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan bahwa pemerintahnya sedang menyiapkan serangkaian dekret konstitusional untuk mempertahankan kedaulatan negara jika terjadi serangan dari pasukan AS.

 

Kontroversi Serangan Militer AS di Karibia

Militer AS menyerang kapal ketiga pada hari Jumat (19/9), menewaskan tiga orang.

Pemerintahan Trump membenarkan aksi militer tersebut sebagai eskalasi yang diperlukan untuk menekan aliran narkoba ke AS. Namun, hingga kini belum menjelaskan bagaimana militer menilai muatan kapal-kapal itu dan menentukan dugaan afiliasi geng para penumpangnya.

Pejabat keamanan nasional AS mengungkapkan kepada anggota Kongres bahwa kapal pertama yang dihantam telah ditembak berkali-kali setelah mengubah haluan dan tampak bergerak kembali ke pantai.

"Mereka bilang bahwa misil di Karibia digunakan untuk menghentikan perdagangan narkoba. Itu adalah kebohongan yang dinyatakan di podium ini," tegas Petro. "Apakah benar-benar perlu mengebom anak-anak muda miskin yang tidak bersenjata di Karibia?"

Sementara itu, Maduro mengatakan bahwa pemerintahan Trump menggunakan tuduhan perdagangan narkoba sebagai dalih untuk operasi militer yang bertujuan menggulingkan pemerintahannya.

Petro, presiden berhaluan kiri pertama Kolombia, memulai kembali hubungan diplomatik negaranya dengan Venezuela setelah menjabat pada 2022.