Penyebab Ban Mobil Retak-Retak, Ketahui Tanda Perlu Diganti

Penyebab ban mobil retak sering kali terjadi tanpa disadari akibat dry rot. Kondisi ini bisa mengancam keselamatan jika tidak segera diatasi.

Diterbitkan 20 September 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi ban mobil yang kerap terparkir manis di garasi. Meski menganggur karet ban bisa mengalami retak rambut dan kehilangan fleksibilitas alami tetap bisa rapuh. Ini bisa memicu risiko pecah ban mendadak saat dipacu tinggi.

Kondisi yang dikenal sebagai dry rot ini adalah sinyal bahaya tersembunyi yang siap mengintai keselamatan berkendara Anda kapan saja.

Dikutip dari laman resmi Daihatsu, Minggu (20/9/2026) berikut tujuh biang kerok utama yang membuat ban mobil retak rambut:

1. Usia Karet Ban yang Sudah Tua

Karet ban memiliki masa edar ideal 5–6 tahun sejak kode produksi. Seiring waktu, minyak alami karet akan menguap sehingga permukaan ban mengering dan retak-retak.

2. Terpapar Sinar UV & Panas Ekstrem

Sering memarkir mobil di bawah terik matahari langsung memicu reaksi oksidasi yang mengikis lapisan pelindung karet ban secara cepat.

3. Mobil Terlalu Lama Mangkrak

Ban yang diam di satu posisi dalam jangka panjang akan menahan beban kendaraan di satu titik (flat spot), memicu pengerasan dan keretakan struktural.

4. Tekanan Angin Tidak Sesuai Standar

Kurang angin membuat dinding ban meliuk ekstrem (excessive flexing), sementara angin berlebih membuat ban kaku dan rentan pecah akibat guncangan.

5. Cipratan Bahan Kimia & Oli

Sisa bahan bakar, oli, hingga cairan kimia pembersih keras yang tidak langsung dibersihkan bisa merusak lapisan senyawa pelindung karet.

6. Kualitas Formulasi Karet Ban Rendah

Material ban berkualitas di bawah standar umumnya lebih cepat mengalami penuaan dini dan rentan retak akibat perubahan cuaca harian.

7. Beban Muatan Berlebih (Overload)

Membawa beban melebihi daya angkut maksimal mempercepat keausan tak merata (gundul sebelah) yang berujung pada retakan lokal di area tumpuan.

Tidak semua keretakan pada ban merupakan sinyal bahaya instan, sehingga penting untuk membedakan karakternya.

Retakan yang masih tergolong wajar umumnya hanya berupa garis-garis sangat halus dan dangkal yang baru terlihat jelas dari jarak dekat. Kerusakan ini sebatas berada di lapisan permukaan luar tanpa menembus ke bagian dalam karet, serta tidak disertai perubahan bentuk bodi ban, benjolan, maupun kebocoran angin.

Sebaliknya, wajib waspada jika menemukan retakan yang tergolong berbahaya, yaitu garis retak yang dalam dan lebar hingga memperlihatkan benang nilon atau kawat baja di dalam ban. Keretakan di area dinding samping (sidewall) yang dibarengi benjolan, penyebaran retak yang sangat cepat, getaran tak wajar saat mengemudi, hingga tekanan angin yang terus merosot merupakan indikasi kuat bahwa struktur ban sudah rusak parah.

Memaksakan diri berkendara dengan ban yang sudah retak parah sangat berbahaya bagi keselamatan. Risiko utama yang mengintai adalah potensi ban pecah mendadak saat melaju dalam kecepatan tinggi, penurunan daya cengkeram drastis di jalan basah, kebocoran angin misterius, hingga berkurangnya kenyamanan akibat getaran yang tidak normal.

 

Segera Ganti Ban Bila ...

Ban sebaiknya segera diganti bila:

  • Retakan di area sidewall sudah terlihat dalam dan meluas,
  • Kedalaman tapak ban mendekati indikator batas aus (TWI),
  • Muncul benjolan pada permukaan karet,
  • Jika ban sudah berusia lebih dari 5–6 tahun sejak tanggal produksi meski kembangannya tampak tebal,
  • ketika ban terlalu sering bocor meski sudah ditambal berulang kali.

Cara Merawat agar Ban Tahan Lama:

1. Hindari memarkir kendaraan di bawah paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama dan gunakan penutup mobil (car cover) jika terpaksa parkir di area terbuka.

2. Selalu jaga tekanan angin sesuai rekomendasi pabrikan yang tertera pada stiker pilar pintu pengemudi.

3. Segera bersihkan ban jika terkena tumpahan oli, bensin, atau bahan kimia keras.

4. Sempatkan untuk memanaskan dan menjalankan mobil secara berkala agar ban tidak menahan beban di satu titik saja (flat spot), lakukan rotasi ban setiap 10.000 km agar keausan merata, dan hindari membawa muatan yang melebihi batas kapasitas maksimal kendaraan.

Â