Surya Paloh: Pembahasan RUU Perampasan Aset Jangan Timbulkan Polemik

Menurut Surya, apabila RUU Perampasan Aset dianggap mendesak untuk kepentingan publik pembahasannya dapat dilanjutkan.

Diterbitkan 20 September 2026, 05:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Surya Paloh meminta RUU Perampasan Aset tidak picu polemik dan buang energi bangsa.
  • Pembahasan RUU harus urgen, masyarakat perlu sadar hak dan kewajiban seimbang.
  • Jaga stabilitas nasional, salurkan kritik solutif, hindari perdebatan tak perlu.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh meminta pembahasan RUU Perampasan Aset tidak menguras energi bangsa jika ujungnya hanya memicu polemik. Menurut Surya, apabila RUU Perampasan Aset dianggap mendesak untuk kepentingan publik pembahasannya dapat dilanjutkan.

"Kalau memang dianggap memang sudah urgen sekali publik ini, silakan saja. Tapi satu saya ingin memberikan sinyal pada saudara-saudara bangun kesadaran publik kita ini," kata Surya di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu (19/9/2026) malam.

Menurut Surya, masyarakat perlu memiliki kesadaran seimbang mengenai hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dia menilai kondisi tersebut perlu diperhatikan sebelum terus menambah produk undang-undang.

"Sejujurnya, belum bisa mampu untuk menselaraskan hak dan kewajiban yang mereka miliki sebagai anak bangsa ini," ujar Surya.

Surya menyebut RUU Perampasan Aset sebagai produk hukum unik. Dia mempertanyakan urgensi pembahasannya jika justru berpotensi menimbulkan polemik berkepanjangan.

"Jadi semakin banyak produk undang-undang, apalagi yang unik gitu, kalau saya katakan perampasan aset ini unik, ya kan? Unik sekali menurut saya," kata dia.

Dia mengingatkan agar pembahasan regulasi tidak berubah menjadi perdebatan menghabiskan energi publik.

"Padahal kalau hanya ini bisa menimbulkan polemik, untuk apa? Hal yang paling kita jaga adalah jangan energi bangsa ini terbuang untuk polemik demi polemik," ujar Surya.

Surya mengajak seluruh pihak menjaga stabilitas nasional dengan mengarahkan energi pada gagasan kritis sekaligus menawarkan solusi.

"Kita harus bisa save the energy. Jaga stabilitas nasional kita. Salurkan pikiran-pikiran kita, bikin pikiran-pikiran yang kritis, tapi juga solutif," tegas Surya.

Menurut Surya, kritik tanpa jalan keluar juga tidak cukup. Dia menilai sikap menerima tanpa kritik pun bukan pilihan tepat.

"Kan celaka juga hanya mengkritisi, enggak suka, tapi enggak ada jalan keluar. Atau ABS. Dua-dua menurut kita tidak pas itu," kata Surya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6