Bukan Lagi Fiksi Ilmiah, AS Bersiap Hadapi Medan Perang Baru di Luar Angkasa

AS memaparkan rencana memperluas cakupan pertahanannya di luar angkasa menyusul konfirmasi penempatan senjata pertama mereka di orbit Bumi.

Diterbitkan 18 September 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Pasukan Amerika Serikat (AS) perlu bersiap menghadapi pertempuran tidak hanya di orbit Bumi, tetapi juga di kawasan sekitar Bulan. Hal itu disampaikan penasihat militer tertinggi Presiden Donald Trump pada Rabu (16/9/2026), ketika membahas kemungkinan munculnya medan perang baru setelah AS untuk pertama kalinya mengungkapkan telah menempatkan senjata di luar angkasa.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan kepada personel militer dan perwakilan industri dalam "Air, Space and Cyber Conference" di National Harbor, Maryland, bahwa militer AS harus mulai beradaptasi dari sekarang agar "siap bertempur, bertahan, dan menang ... dari dasar laut hingga ruang cislunar."

Ruang cislunar merujuk pada kawasan antara orbit tinggi Bumi dan Bulan.

Perluasan perhatian militer AS ke kawasan tersebut juga tercermin dalam arah kebijakan Angkatan Antariksa AS atau Space Force, cabang militer terbaru yang dibentuk Trump pada 2019.

"Umat manusia bergerak semakin jauh ke luar angkasa. Tugas Space Force adalah membantu memastikan kesiapan untuk mempertahankan kepentingan AS," kata Kepala Komando Pasukan Tempur Space Force Letnan Jenderal Gregory Gagnon secara terpisah kepada wartawan seperti dilaporkan Associated Press.

Pernyataan mengenai kesiapan militer AS menghadapi pertempuran hingga kawasan sekitar Bulan itu muncul beberapa hari setelah Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink mengungkapkan dalam konferensi yang sama bahwa AS telah menempatkan senjata di orbit.

Rentetan pernyataan pejabat militer AS dalam beberapa hari terakhir mengenai senjata di luar angkasa bertentangan dengan konvensi dan pemahaman internasional yang selama ini memandang luar angkasa sebagai wilayah yang digunakan untuk tujuan damai dan tidak dimiliterisasi.

Space Force: Lawan AS Berpotensi Menjadikan Luar Angkasa Medan Perang

Sejumlah negara, termasuk AS, telah menunjukkan kemampuan untuk menembak jatuh satelit di orbit Bumi. Namun, uji kemampuan tersebut dilakukan dari darat dengan sasaran satelit milik mereka sendiri.

Menurut Gagnon, komunitas intelijen telah menyampaikan dengan jelas bahwa pihak-pihak yang berpotensi menjadi lawan berupaya memperluas peperangan ke luar angkasa. Karena itu, menurut dia, militer AS perlu merespons perkembangan tersebut.

"Pihak-pihak yang berpotensi menjadi lawan kita, seperti Republik Rakyat China (PRC), secara aktif melakukan berbagai kegiatan di sejumlah bagian luar angkasa," kata Gagnon.

PRC merupakan nama resmi China.

China membentuk pasukan militer luar angkasanya sendiri pada 2024. Pasukan tersebut ditugaskan meningkatkan kemampuan negara itu dalam menangani krisis di luar angkasa.

Ketika ditanya mengenai pengumuman AS tentang penempatan senjata di luar angkasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan kepada wartawan pada Selasa bahwa "China selalu menjunjung penggunaan luar angkasa untuk tujuan damai, menjaga keamanan luar angkasa, serta menentang persenjataan, militerisasi, dan perlombaan senjata di luar angkasa."

Guo juga mendesak AS untuk "menghentikan perluasan persiapan militernya di luar angkasa."

Belum jelas apakah penempatan senjata di luar angkasa atau kemungkinan rencana penggunaannya di sekitar Bulan akan melanggar perjanjian internasional yang bertujuan mencegah militerisasi luar angkasa.

Traktat yang Ditandatangani AS Atur Penggunaan Damai Luar Angkasa

Traktat Luar Angkasa 1967 atau Outer Space Treaty, yang ditandatangani AS dan China, menyatakan benda-benda langit seperti Bulan harus digunakan "semata-mata untuk tujuan damai". Traktat tersebut juga melarang penempatan senjata nuklir di luar angkasa dan menyebut setiap negara "bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan oleh objek luar angkasa mereka".

Dua tahun lalu, kembali muncul dorongan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memperkuat upaya mencegah militerisasi luar angkasa setelah AS melaporkan bahwa Rusia tengah mengembangkan senjata berbasis luar angkasa.

Rusia memveto resolusi bersama AS dan Jepang yang menyerukan agar semua negara tidak mengembangkan atau menempatkan senjata nuklir maupun senjata pemusnah massal lainnya di luar angkasa, sebagaimana dilarang dalam traktat tersebut. Resolusi tandingan Rusia yang mengusulkan pelarangan seluruh jenis senjata di luar angkasa "untuk selamanya" pada akhirnya juga gagal.

Ketika ditanya mengenai Traktat Luar Angkasa 1967 dan kewajiban serupa lainnya, Gagnon mengatakan Space Force "akan terus menjalankan operasi secara aman dan bertanggung jawab di seluruh kawasan luar angkasa".

Namun, Gagnon tidak menjelaskan kebijakan Space Force maupun militer AS secara keseluruhan mengenai penggunaan senjata seperti peluru atau proyektil di luar angkasa. Ia mengarahkan pertanyaan tersebut kepada Pentagon, yang tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Gagnon juga mengatakan AS menargetkan jumlah personel Space Force meningkat dua kali lipat dalam lima tahun ke depan menjadi sekitar 25.000 orang. Sekitar dua pertiga dari penambahan personel itu akan ditempatkan di Komando Pasukan Tempur Space Force.

"Kami memiliki berbagai kemampuan militer karena kami bersiap mempertahankan negara," kata Gagnon. "Kemampuan itu kami miliki untuk membantu menciptakan daya tangkal."