Kepala RS Al-Shifa di Gaza: 21 Anak Tewas karena Kelaparan dalam Tiga Hari Terakhir

Jika Israel tidak membuka akses masuk bagi lebih banyak bantuan maka jumlah kematian dapat segera bertambah.

Diterbitkan 23 Juli 2025, 15:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Kepala Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza mengatakan pada Selasa (22/7/2025) bahwa 21 anak tewas di seluruh wilayah Palestina itu dalam tiga hari terakhir karena kekurangan gizi dan kelaparan.

"Kematian ini tercatat di rumah sakit-rumah sakit di Gaza, termasuk Al-Shifa di Kota Gaza, Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir el-Balah, dan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis ... dalam 72 jam terakhir," kata Mohammed Abu Salmiya kepada para wartawan seperti dilansir CBS News.

Abu Salmiya menyatakan lebih lanjut bahwa kasus baru kekurangan gizi dan kelaparan terus berdatangan ke rumah sakit-rumah sakit Gaza yang masih berfungsi setiap saat.

"Kami sedang menuju angka kematian yang mengkhawatirkan akibat kelaparan yang ditimpakan pada rakyat Gaza," ujar Abu Salmiya.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Selasa, Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan banyak orang datang ke rumah sakit-rumah sakit di Gaza dalam keadaan sangat lemas akibat kekurangan makanan.

"Yang lain ambruk di jalanan. Banyak lagi yang mungkin tewas tanpa sempat tercatat ... Kematian ini dan penderitaan fisik serta psikologis yang mengerikan akibat kelaparan adalah hasil dari campur tangan dan militerisasi bantuan kemanusiaan oleh Israel," sebut Kantor Hak Asasi Manusia PBB.

 

Situasi Terburuk Gaza

Foto-foto yang muncul dari Gaza dalam beberapa hari terakhir menunjukkan anak-anak dan bayi dengan kekurangan gizi parah, termasuk beberapa yang menurut petugas rumah sakit tewas karena kondisi tersebut.

"Rumah sakit sudah kewalahan oleh banyaknya korban luka tembak. Mereka tidak bisa memberikan bantuan lebih lanjut untuk gejala terkait kelaparan karena kekurangan makanan dan obat-obatan," kata juru bicara otoritas kesehatan Gaza Khalil al-Deqran kepada kantor berita Reuters.

Deqran menambahkan ada 600.000 orang yang menderita gejala kekurangan gizi seperti dehidrasi dan anemia, termasuk 60.000 perempuan hamil.

Setelah perundingan untuk memperpanjang gencatan senjata enam minggu gagal, Israel memberlakukan blokade penuh terhadap Gaza pada 2 Maret tahun ini, yang membuat tidak ada bantuan yang masuk hingga truk-truk kembali diizinkan menyeberang ke wilayah tersebut pada akhir Mei. PBB dan organisasi-organisasi bantuan mengatakan jumlah makanan dan suplai darurat lain yang diizinkan masuk ke Gaza sejak saat itu sangat tidak mencukupi.

Stok makanan yang menumpuk di wilayah Palestina selama masa gencatan senjata telah habis, membuat lebih dari dua juta penduduk wilayah itu mengalami kekurangan pangan terburuk sejak dimulainya perang yang dipicu oleh serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023. Sekitar 1.200 warga Israel diklaim tewas dan 251 lainnya disandera selama serangan. Diperkirakan 20 dari para sandera itu masih ditawan di Gaza.

Direktur Program Pangan Dunia (WFP) Carl Skau, yang mengunjungi Kota Gaza pada awal Juli, menyebut situasi di Gaza adalah yang terburuk yang pernah dia saksikan.