Sukses

Tensi dengan China Naik, Taiwan Siapkan 4.600 Tempat Perlindungan Bawah Tanah

, Taipei - Di saat ketegangan dengan China semakin meningkat, Taiwan mempersiapkan diri lokasi untuk warganya berlindung. Tempat parkir, pusat perbelanjaan, dan stasiun kereta mobil bawah tanah di pulau itu telah dipersiapkan untuk digunakan sebagai tempat perlindungan dari serangan udara.

Mengutip ABC Australia, Senin (8/8/2022), ada lebih dari 4.600 tempat perlindungan semacam itu di Taipei yang bisa menampung lebih dari 12 juta orang, atau empat kali lipat dari jumlah penduduk di kota tersebut.

Persiapan dilakukan setelah China meningkatkan aktivitas militer di sekitar Taiwan untuk menekan pemerintah Taiwan yang demokratis agar menerima kedaulatan China.

China selalu menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, dan sudah meningkatkan aktivitas di udara dan laut di sekitar pulau tersebut.

Kementerian Pertahanan Taiwan dalam pernyataannya mengatakan bahwa mereka "bertekad, mampu, dan percaya diri" dengan kemampuan pertahanan nasionalnya, serta sudah membuat beberapa perencanaan bagi keadaan darurat.

Pejabat di ibu kota Taipei sudah melakukan berbagai cara untuk memastikan warga mengetahui lokasi tempat perlindungan yang paling dekat dengan tempat tinggal mereka untuk mengantisipasi serangan udara.

Ciri Tempat Berlindung

Tempat masuk shelter tersebut ditandai dengan label berwarna kuning, sebesar kertas A4, dengan informasi jumlah orang yang bisa ditampung di sana.

Database mengenai tempat perlindungan tersebut tersedia di aplikasi media sosial dan juga dalam bentuk poster.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Tak Ada Jaminan Warga Tak Bersalah Jadi Korban

Direktur Adminstrasi Gedung Perkantoran Abercrombie mengatakan apa yang terjadi di Eropa sudah membuat warga Taiwan lebih bersiap menghadapi segala kemungkinan.

"Lihatlah perang di Ukraina," katanya.

"Tidak ada jaminan bahwa warga yang tidak bersalah tidak akan menjadi korban serangan.""Seluruh warga negara harus memiliki kewaspadaan mengenai adanya krisis. Kita memerlukan tempat perlindungan bila ada serangan dari pihak komunis China."

Warga Taipei, Harmony Wu (18 tahun) merasa terkejut mengetahui bahwa lantai bawah pusat perbelanjaan di mana dia dan teman-temannya sering berdansa akan menjadi tempat perlindungan bila ada perang.

Tetapi dia mengatakan bisa mengerti apa yang terjadi.

"Memiliki tempat perlindungan memang diperlukan," kata Wu.

"Kita tidak tahu kapan perang akan terjadi dan tempat perlindungan ini bisa menyelamatkan kita.""Perang itu brutal."

"Kami tidak pernah mengalami hal tersebut sebelumnya jadi kami tidak pernah siap."

 

3 dari 4 halaman

Kekhawatiran dengan Ketersediaan Kebutuhan Pokok

Bulan lalu Taiwan mengadakan latihan menghadapi serangan udara menyeluruh untuk pertama kalinya setelah pandemi COVID-19 menyebabkan latihan sebelumnya terganggu.

Warga mendapat pemberitahuan bahwa bila ada serangan rudal, mereka harus mendatangi tempat perlindungan seperti tempat parkir di bawah tanah.

Mereka diinstruksikan untuk menutup mata dan telinga dengan kedua tangan mereka, dan tetap membiarkan mulut terbuka untuk meminimalkan dampak dari ledakan.

Beberapa pegiat pertahanan sipil mengatakan masih ada beberapa hal yang harus dilakukan.

Menurut UU yang ada, pihak berwenang harus membuat tempat perlindungan itu bersih dan terbuka namun tidak harus diisi dengan persediaan seperti makanan dan minuman.

Bulan Juni, para peneliti yang bekerja di parlemen mendesak agar tempat perlindungan itu menyediakan juga pasokan kebutuhan pokok.

Namun anggota parlemen dari Partai Progresif Demokratik, Wu Enoch, mengatakan warga sendiri yang harus membawa bahan-bahan untuk bertahan hidup ketika mereka mendatangi tempat perlindungan.

"Yang penting adalah apa yang Anda bawa ke sana untuk bertahan lama di dalamnya," katanya.

Banyak warga Taiwan tampaknya pasrah dengan kemungkinan adanya serangan China.

"Saya tidak Stress sama sekali," kata Teresa Chang yang tinggal di Taipei.

"Saya melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa."

"Yang akan terjadi, biarlah terjadi."

4 dari 4 halaman

Pesawat Jatuh di Taiwan, Ayah dan Anak Tewas

Sementara itu, baru-baru ini ada insiden pesawat jatuh di Taiwan mengakibatkan kematian dua orang laki-laki. Korban kecelakaan pesawat itu adalah ayah dan anak.

Pesawat nahas itu merupakan jenis light aircraft. Menurut laporan Taiwan News, Senin (8/8/2022), media nasional menyebut korban adalah pilot bermarga Chu berusia 61 tahun, dan putranya berusia 27 tahun. Penyebab kecelakaan belum diketahui.

Insiden itu terjadi pada Sabtu 6 Agustus di Kabupaten Pingtung. Berdasarkan video yang beredar, kejadian terjadi di tengah ladang, bukan pemukiman warga. Bagian tengah pesawat gosong dan hancur. Hanya bagian ekor yang masih terlihat jelas.

Biro Pelayanan Kebakaran dan Gawat Darurat di Kabupaten Pingtung mendapat laporan pesawat jatuh pada pukul 17.48 waktu setempat. Petugas langsung mengerahkan 12 kendaraan dan 22 pemadam dan penolong.

Asap putih pekat membumbung tinggi di tempat kejadian. Regu tersebut berhasil memadamkan api dan menemukan jenazah bapak dan anak tersebut. Di sekitar puing-puing pesawat, petugas tampak bekerja tanpa dikerubungi warga yang ingin menonton.

Seorang pilot yang namanya tak ingin disebutkan berkata bahwa Chu hobi terbang sejak muda. Sebelum pensiun, ia bekerja sebagai perakit model remot kontrol.

Chu memiliki pengalaman selama 20 tahun sebagai pilot. Sementara, anaknya diajak untuk terbang baru-baru ini saja.

Pihak berwenang di Taiwan saat ini masih terus menyelidiki penyebab kecelakaan. 

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS