Kemlu RI: Tidak Ada WNI Korban Panas Ekstrem di Eropa

Suhu panas di sejumlah negara Eropa mencatatkan rekor, termasuk di Slovakia dan Hungaria.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 14:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) Heni Hamidah memastikan hingga saat ini belum ada warga negara Indonesia yang menjadi korban gelombang panas ekstrem (heatwave) yang melanda sejumlah negara di Eropa.

"Terkait dengan heatwave di Eropa, kita sudah berkomunikasi dengan perwakilan-perwakilan kita di sana dan sampai saat ini belum ada WNI yang terdampak, yang menjadi korban. Namun demikian, semua perwakilan di Eropa membuka hotline dan juga menyampaikan kepada para WNI untuk waspada dan melakukan langkah-langkah agar tidak terlalu terdampak dengan kondisi panas ekstrem," kata Heni kepada awak media di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Gelombang panas yang melanda Eropa pada awal musim panas tahun ini mendorong suhu udara ke rekor tertinggi di sejumlah negara. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya jumlah warga yang jatuh sakit, mengganggu layanan transportasi dan infrastruktur, serta memicu lonjakan angka kematian.

Pada Minggu (28/6), suhu udara di sejumlah wilayah di Jerman, Republik Ceko, dan Polandia mencapai 40 derajat Celsius. Gelombang panas ekstrem ini terus bergerak ke arah timur pada Senin (29/6) dan Selasa (30/6), hingga memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah di Slovakia dan Hungaria. Berdasarkan laporan dari badan meteorologi nasional masing-masing negara melalui Channel News Asia, Slovakia mencatatkan rekor baru sebesar 41,3 derajat Celsius di wilayah Kamenica nad Hronom. Sementara itu, wilayah Szecseny di Hungaria mencetak rekor suhu ekstrem mencapai 42 derajat Celsius. Lonjakan suhu di kedua negara ini bahkan sampai memicu krisis air bersih karena lumpuhnya pipa saluran akibat kekeringan dan lonjakan konsumsi.

Di Prancis, sekitar 1.000 kematian di atas angka normal (excess deaths) dilaporkan selama gelombang panas. Setelah beberapa hari dilanda suhu rata-rata 29,8 derajat Celsius yang bahkan mencapai 44 derajat Celsius di salah satu kota, sejumlah wilayah di negara itu kemudian diterjang badai.

Secara keseluruhan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 1.300 kematian di atas angka normal di Eropa sejak 21 Juni.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia dengan laju peningkatan suhu dua kali lipat dibandingkan rata-rata global.

Tedros juga memperingatkan bahwa infrastruktur di Eropa belum dibangun untuk menghadapi suhu yang sangat tinggi. Menurut dia, perubahan iklim dan pemanasan global membuat gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun.