Sukses

Pencarian 'Bakat' Penggali Kubur yang Cekatan, Tertarik?

Liputan6.com, Debrecen - Pekerjaan sebagai penggali kubur kerap mendapat citra yang kurang menyenangkan di tengah masyarakat. Namun demikian, tugas mereka tidak bisa diremehkan. Bagaimana kalau tidak ada orang yang melakukan pekerjaan itu?

Untuk menepis citra yang kurang sedap itu, pemerintah suatu kota Hungaria mengadakan lomba menggali kubur yang diadakan di suatu taman pemakaman umum. 

Dikutip dari Sky News pada Senin (6/6/2016), para peserta lomba dinilai berdasarkan kecepatan dan teknik penggalian. Lomba ini merupakan lomba tingkat nasional.

Peserta menggunakan sekop, cangkul, kapak, dan sejumlah perkakas lainnya untuk menggali lubang kuburan berukuran panjang 2 m, lebar 80 cm, dan kedalaman 1,6 m.

Lomba di kota Debrecen kali ini diikuti oleh 18 tim yang masing-masing terdiri dari 2 orang. Anggota tim ada yang menggali bersama, ada yang berbagi tugas menggali dan menyingkirkan gundukan tanah.

Kota Debrecen di timur Hungaria baru-baru ini mengadakan lomba gali kubur. (Sumber Google Maps)

Demi alasan keamanan, hanya ada boleh 1 orang anggota tim yang berada di dalam lubang kubur setelah lubangnya mencapai kedalaman 1 meter.

Ternyata, perhelatan ini bukan hanya di Hungaria. Perlombaan ini sekaligus untuk mencari perwakilan negara dalam perlombaan sejenis di Slovakia pada November nanti.

Sejumlah pihak menyebut jenis pekerjaan ini sedang berada di bawah ancaman semakin populernya kremasi. Sementara itu, Zoltan Jurascik, wakil serikat profesi penggali kubur Hungaria, menolak anggapan bahwa pekerjaan ini mengerikan.

Ia mengatakan, "Kalau algojo menggantung orang, nah itu menyeramkan. Ini sekedar profesi dan kawan-kawan yang ikut lomba hari ini melakukan dengan bangga dan layak dihormati."

"Inilah tujuan perlombaan, sekaligus untuk kualifikasi ke tahap final."

Perlombaan ini sungguh tidak biasa. Siapakah penggali kubur yang paling cekatan? (Sumber Sky News)

Tim tuan rumah dari Debrecen, yang biasanya menggali hingga 20 lubang di tanah berpasir ini, menyelesaikan jauh lebih cepat dibandingkan para pesaing.

Penyelenggara lomba, Iren Kari, mengatakan, "Orang-orang ini menyaksikan kematian setiap hari. Kadang-kadang orang membuat lelucon tentang mereka selagi sedang bekerja, tapi para penggali kubur juga manusia."

"Kami mendapatkan kesulitan untuk mencari pengganti para pegawai yang memasuki pensiun. Orang-orang muda sekarang tidak suka melakukan ini."