Inovasi Survival Architecture Indonesia Padukan Pencegahan Krisis Planet hingga Pendidikan Karakter

Konsep Survival Architecture Indonesia dibangun berdasarkan prinsip Triple Bottom Line, yaitu keseimbangan antara People, Planet, dan Prosperity.

Diterbitkan 03 Agustus 2026, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2026, RT08 RW04 Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Kota Administrasi Jakarta Timur menyelenggarakan Kampanye Keselamatan Lalu Lintas yang diikuti sekitar 150 pelajar SMP, SMA, SMK, mahasiswa, guru, serta tenaga pendidik di kawasan Pencegah Krisis Planet – Survival Architecture Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari PT Jasa Raharja dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai bagian dari upaya membangun karakter generasi muda melalui budaya keselamatan berlalu lintas, kepedulian terhadap lingkungan, serta tanggung jawab sebagai warga negara.

Berbeda dengan kegiatan keselamatan lalu lintas pada umumnya, kampanye ini dilaksanakan di sebuah Living Laboratory yang selama ini dikenal sebagai Pencegah Krisis Planet, tempat berbagai inovasi lingkungan, ketahanan pangan, energi terbarukan, konservasi air, ekonomi sirkular, serta pemberdayaan masyarakat dikembangkan secara nyata di tingkat RT.

Melalui momentum Hari Anak Nasional, peserta diajak memahami bahwa karakter tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lingkungan masyarakat. Nilai disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, serta budaya keselamatan menjadi bagian penting dalam membentuk generasi Indonesia yang tangguh.

Inovasi Survival Architecture Indonesia Terus Berkembang

Ketua RT08 RW04 Malaka Jaya, Dr. Taufiq Supriadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan pengembangan dari konsep Survival Architecture Indonesia, sebuah inovasi pembangunan berbasis masyarakat yang saat ini sedang diikutsertakan dalam berbagai ajang inovasi dan pemberdayaan masyarakat.

Apabila sebelumnya dikenal melalui pengelolaan sampah, ketahanan pangan, pemanfaatan energi surya, konservasi air, urban farming, budidaya ikan, ekonomi sirkular, serta transformasi kawasan padat penduduk, kini konsep tersebut berkembang dengan memasukkan budaya keselamatan berlalu lintas, pendidikan karakter, serta kepatuhan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor sebagai bagian dari pembangunan masyarakat berkelanjutan.

Menurut Taufiq, pembangunan lingkungan tidak cukup hanya berbicara mengenai pohon, sampah, air, atau energi. "Apa gunanya lingkungan hijau apabila manusianya tidak selamat? Apa gunanya ketahanan pangan apabila keluarga kehilangan anggota keluarganya akibat kecelakaan lalu lintas? Karena itu kami memandang keselamatan manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan lingkungan."

Konsep Survival Architecture Indonesia dibangun berdasarkan prinsip Triple Bottom Line, yaitu keseimbangan antara People, Planet, dan Prosperity. Pada aspek People, masyarakat diajak membangun budaya keselamatan, disiplin, kepedulian sosial, pendidikan karakter, dan rasa tanggung jawab.

Pada aspek Planet, masyarakat didorong mengurangi dampak perubahan iklim melalui pengelolaan sampah organik, konservasi air, energi terbarukan, pertanian perkotaan, penanaman tanaman produktif, serta pengurangan emisi karbon.

Sedangkan pada aspek Prosperity, masyarakat diberdayakan melalui ketahanan pangan, budidaya ikan, ekonomi sirkular, urban farming, serta berbagai aktivitas produktif berbasis komunitas yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.

Pencegahan Triple Planetary Crisis Dimulai dari RT

Menurut Taufiq Supriadi, dunia saat ini menghadapi Triple Planetary Crisis, yaitu:

  1. Perubahan iklim (climate change)
  2. Hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss)
  3. Pencemaran lingkungan (pollution).

Ia meyakini bahwa penyelesaiannya tidak hanya dapat dilakukan melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga harus dimulai dari masyarakat. Karena itulah RT08 RW04 Malaka Jaya mengembangkan Survival Architecture Indonesia, yaitu pendekatan pembangunan berbasis komunitas yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan keselamatan dalam satu ekosistem pembelajaran.

Seluruh inovasi tersebut dikembangkan di kawasan yang kini dikenal sebagai Pencegah Krisis Planet, sebuah Living Laboratory yang dapat dipelajari secara langsung oleh masyarakat.

Dalam sambutannya, Lurah Malaka Jaya, Eko Purnomo Asih, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang memadukan pendidikan karakter, keselamatan berlalu lintas, kepedulian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan semangat MAJAPAHIT (Malaka Jaya Peduli, Aman, Hijau, Indah, dan Toleran) sebagai identitas pembangunan partisipatif di Kelurahan Malaka Jaya.

Menurutnya, pembangunan kota tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik, tetapi harus dibangun melalui perubahan perilaku masyarakat yang dimulai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan RT. Eko berharap semakin banyak kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, Kepolisian RI, PT Jasa Raharja, dunia pendidikan, dan dunia usaha dalam membangun Jakarta Timur yang semakin aman, nyaman, hijau, dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Taufiq Supriadi juga menyampaikan bahwa seluruh kegiatan yang dilaksanakan di RT08 RW04 Malaka Jaya merupakan implementasi nyata gerakan Jaga Jakarta, Jaga Jakarta Timur, serta penguatan nilai-nilai MAJAPAHIT.

Menurutnya, menjaga Jakarta tidak cukup dilakukan melalui pembangunan jalan raya atau gedung-gedung besar. "Jakarta dijaga mulai dari gang-gang kecil. Ketika setiap RT menjadi peduli, aman, hijau, indah, dan toleran, maka Jakarta akan menjadi kota yang semakin tangguh. Jika Jakarta kuat, Indonesia pun akan semakin kuat," ujar Taufiq.

Dalam kegiatan tersebut, narasumber dari PT Jasa Raharja menyampaikan bahwa keselamatan berlalu lintas harus menjadi budaya yang dibangun sejak usia dini melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal. Selain memberikan perlindungan kepada korban kecelakaan lalu lintas, PT Jasa Raharja juga terus mendorong peningkatan kepatuhan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor sebagai bagian dari pembangunan budaya tertib berlalu lintas.

Sementara itu, narasumber dari Kepolisian Negara Republik Indonesia mengajak seluruh peserta untuk menghindari berbagai bentuk pelanggaran lalu lintas, menggunakan helm berstandar nasional, menghormati sesama pengguna jalan, serta menjadikan keselamatan sebagai bagian dari karakter sehari-hari.

Dari Gang Kecil Menjadi Destinasi Pembelajaran Dunia

Dalam tiga tahun terakhir, kawasan RT08 RW04 Malaka Jaya telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata dan pembelajaran berbasis komunitas. Kawasan ini telah menerima kunjungan berbagai kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, BUMN, perusahaan swasta, organisasi masyarakat, media nasional, serta peserta dari sekitar 10 negara yang datang untuk mempelajari berbagai inovasi berbasis masyarakat.

Melalui Program Sister Village, praktik-praktik baik yang dikembangkan di RT08 diharapkan dapat direplikasi oleh berbagai RT, RW, desa, sekolah, kampus, komunitas, hingga pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Perkembangan inovasi, data replikasi, publikasi media, jurnal ilmiah, serta dampak sosial yang telah dihasilkan dapat diakses secara terbuka melalui: www.rt08rw04malakajaya.com

Ke depan, Survival Architecture Indonesia akan terus dikembangkan sebagai Living Laboratory Nasional yang mengintegrasikan:

  1. Ketahanan pangan
  2. Konservasi air
  3. Energi terbarukan
  4. Ekonomi sirkular
  5. Transformasi digital
  6. Keselamatan berlalu lintas
  7. Pendidikan karakter
  8. Ketahanan komunitas
  9. Pemberdayaan masyarakat.

Melalui semangat MAJAPAHIT, gerakan Jaga Jakarta, Jaga Jakarta Timur, serta Program Sister Village, RT08 RW04 Malaka Jaya ingin menunjukkan bahwa solusi terhadap Triple Planetary Crisis dan tantangan pembangunan bangsa dapat dimulai dari lingkungan terkecil.

Â