Sukses

8 Pengorbanan Tenaga Medis untuk Lawan Corona Covid-19, Perlu Diapresiasi

Jakarta - Tenaga medis mendapat perhatian lebih seiring pandemi virus corona yang terjadi hampir di seluruh negara di dunia. Ini karena tenaga medis dianggap sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien yang positif terinfeksi virus corona.

Seperti diketahui, virus corona SARS-CoV-2 cenderung mudah menyebar dan menular, dengan medium berupa droplet, sehingga kasus positif yang terjadi di suatu negara terbilang tak sedikit. 

Dengan karakteristik mudah menular, membuat tenaga medis yang bersentuhan langsung dengan pasien positif, harus sangat berhati-hati dalam menangani pasien. Padahal, begitu banyak pasien yang harus mereka hadapi.

Kisah-kisah sedih perihal perjuangan dan pengorbanan tenaga medis saat pandemi virus corona, mungkin telah banyak kita dengar atau lihat.

Berbagai media, konvensional, daring, hingga media sosial ramai mengangkat kisah-kisah itu. Belum lama ini, ada tenaga medis justru diminta keluar dari kost-nya, karena empunya khawatir penghuni kost lain tertular.

Ada pula kisah tenaga medis memperlihatkan "perjuangan" mereka untuk sekadar mengenakan alat pelindung diri (APD), yang sungguh hanya melihatnya saja sudah membuat kita merasa kepanasan lantaran banyaknya lapisan yang harus mereka kenakan.

Semua itu seolah belum "ada apa-apanya". Kita juga sudah mengetahui, banyak tenaga medis gugur setelah dinyatakan terpapar COVID-19 atau hal lain yang berkaitan dengan tugas mereka dalam melawan virus corona.

Dari data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), per Selasa (31/3/2020), 12 dokter meninggal dunia terpapar COVID-19.

Duka mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Sebuah kehilangan besar dirasakan keluarga, kerabat, sahabat, kolega, dan juga bangsa ini.

Kalangan tenaga medis pun menjerit, bila diibaratkan, mereka dalam medan pertempuran melawan virus corona demi menyelamatkan pasien-pasien yang terus berdatangan.

Itulah mengapa, mereka tak segan mengirim pesan bagi kita untuk selalu menjaga diri dan menahan mobilitas, ikut dalam upaya memutus rantai penyebaran virus corona.

"Kalian tetap di rumah untuk kami, kami tetap bekerja untuk kalian" demikian pesan dari para tenaga medis untuk kita.

Berikut Bola.com merangkum beberapa dari sekian banyak dedikasi dan pengorbanan yang diberikan tenaga medis, mulai dokter, perawat, hingga penyuluh, yang berada di garda terdepan dalam memerangi virus corona. Semuanya pantas mendapatkan apresiasi. 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Tinggalkan Rumah

1. Tinggalkan rumah

Banyak dari kalangan tenaga medis terpaksa meninggalkan rumah masing-masing dalam pertempuran melawan virus corona. Hal itu karena mereka tak ingin mengambil risiko pulang dengan membawa virus dan menulari orang-orang tercinta di rumah.

Pengorbanan yang tentu harus mendapatkan apresiasi karena kita belum tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Dan selama itu, tenaga medis masih akan terus menangani pasien-pasien positif, yang berarti mereka akan lebih lama lagi tidak bertemu orang tua, suami, istri maupun anak-anak tercinta secara langsung.

2. Butuh perjuangan untuk sekadar pulang ke rumah

Di hari-hari normal, aktivitas pergi dan pulang untuk bekerja merupakan rutinitas biasa. Namun, di tengah pandemi seperti sekarang, aktivitas itu sangat tidak mudah dilakukan.

Andai memilih pulang setelah menunaikan tugas, seorang tenaga medis harus melakukan banyak prosedur untuk memastikan diri mereka benar-benar bersih dari virus corona atau virus lainnya sehingga tidak memiliki risiko menulari anggota keluarga.

Seperti dilansir dari Huffpost, seorang tenaga medis mengisahkan, ia harus segera melepas bajunya, mandi, mendisinfeksi telepon, kunci, gagang pintu, dan permukaan lain yang dia sentuh. Semua itu membutuhkan waktu dua kali lebih lama dari hari-hari normal.

3. Surat wasiat dan kuasa

Cerita sedih datang dari Maxine Dexter, dokter paru dan perawatan kritis di Portland, Oregon. Dia merawat pasien COVID-19.

Ia mendengar koleganya, dokter muda dan sehat, meninggal dunia setelah menangani pasien COVID-19. Maxine Dexter dan beberapa koleganya yang lain, memutuskan untuk membuat wasiat dan kuasa, sebagai antisipasi andai mereka mengalami nasib serupa.

"Kami berbicara dengan anak-anak kami, tentang dengan siapa mereka akan tinggal jika kami tidak selamat dari ini. Saya menolak untuk tidak siap," kata Dexter kepada HuffPost.

3 dari 4 halaman

Mengharukan dan Menghangatkan

4. Minim Tes

Dengan tugas selalu bersinggungan dengan pasien COVID-19, tenaga medis semestinya membutuhkan pengujian kesehatan lebih sering.

Alih-alih, mereka hanya menjalani tes apabila sudah merasakan gejala seperti demam.

Tenaga medis biasanya menjalani prosedur seperti pengecekan suhu tubuh pada awal dan akhir shift serta tes setiap minggu untuk memastikan mereka tidak menjadi perantara penularan.

5. Isolasi Ekstrem

Tugas menangani pasien COVID-19 membuat tenaga medis kadang kala juga harus menjalani isolasi, yang bahkan tergolong ekstrem. Hal itu mereka lakukan demi memastikan tidak menjadi perantara penularan.

Sekian waktu lamanya mereka tak bisa meliat siapa pun selain pasien dan rekan satu shift, tidak keluarga maupun kekasih. 

Saat mendapat istirahat di rumah sakit, mereka tetap berusaha menjaga jarak satu sama lain.

Sampai batas waktu tertentu, tenaga medis seperti merasa rindu berada dalam lingkungan normal.

"Tidak ada yang mau benar-benar berada di dekat saya sekarang," ungkap Britt, salah seorang perawat yang menangani pasien COVID-19 di San Diego, dilansir dari HuffPost.

Tenaga medis bahkan tidak lagi memiliki keistimewaan untuk sekadar datang ke minimarket dan harus mengandalkan jasa pesan antar, karena mereka bisa jadi pembawa virus tanpa mereka sadari.

Terkadang, dalam perjalanan pulang atau berangkat bertugas, mereka secara otomatis menjauhkan diri sebanyak mungkin dari orang-orang yang mereka jumpai.

6. Mengharukan dan menghangatkan

Berinteraksi dengan pasien COVID-19 bisa jadi hal mengharukan sekaligus menghangatkan bagi para tenaga medis. 

Seperti diketahui, pasien COVID-19 yang mendapat perawatan di rumah sakit tak bisa menerima kunjungan dari siapa pun karena mereka berada di ruang isolasi. Para tenaga medis itulah yang mendampingi setiap waktu. 

Banyak aktivitas dilakukan bersama, sekadar ngobrol, hingga main puzzle. Tenaga medis bahkan melontarkan lelucon-lelucon untuk membuat suasana lebih menyenangkan dan ceria.

4 dari 4 halaman

Lembur

7. Sulit melarikan diri

Ketika hari-hari Anda secara intens terlibat dalam aktivitas merawat pasien-pasien COVID-19, dengan cepat bisa terasa seperti Anda tidak dapat lepas dari pandemi.

Di manapun, tenaga medis kerap merasa selalu dihadapkan dengan virus corona. Bahkan ketika beristirahat dan sekadar bermain media sosial.

"Anda bahkan tak bisa membuka Instagram tanpa melihat virus corona; meme, lelucon, semua bicarakan itu," kata Britt kepada HuffPost.

Di samping itu, ada juga pengakuan dari tenaga medis, saat ini ponsel mereka juga dibanjiri dengan banyak pesan singkat maupun telepon bahkan dari orang-orang yang sudah lama mereka tidak berhubungan, yang menanyakan seperti apa sebenarnya virus corona dan apakah pandemi ini seburuk yang dikatakan oleh berita.

Sebagian percakapan di luar pekerjaan juga berkisar pada virus corona. Sulit bagi tenaga medis untuk "melarikan diri".

8. Lembur 

Di beberapa rumah sakit, sudah mulai menetapkan Kode Oranye. Kode itu bisa diartikan bahwa staf medis diberi mandat untuk "menginap di rumah sakit selama dianggap perlu".

Hal lain, banyaknya pasien COVID-19 tidak dibarengi ketersediaan tenaga medis yang mencukupi. Di beberapa negara, pemerintah memberikan imbauan pada tenaga medis yang telah pensiun, untuk kembali bertugas, membuktikan betapa mendesaknya kehadiran tenaga medis.

Dengan belum diketahui kapan pandemi ini akan berakhir, itu berarti tenaga medis masih harus memenuhi panggilan tugasnya.

Tenaga medis, yang sudah banyak berkorban, kemungkinan akan perlu membuat lebih banyak pengorbanan hingga beberapa minggu mendatang.

Semua tetap memberikan perawatan sepanjang waktu bagi mereka yang mengalami COVID-19.

"Saya tak ingin melakukan ini sepanjang musim panas, jujur saja. Tapi, orang-orang membutuhkan bantuan, dan itulah sebabnya saya menjadi perawat," ucap Britt, dilansir dari HuffPost.

Sumber: HuffPost

 

Disclaimer:

Bersama lebih dari 50 media nasional dan lokal, Bola.com ikut serta melakukan kampanye edukasi #amandirumah secara serentak di stasiun televisi, radio, koran, majalah, media siber, dan media sosial.

Bola.com secara intens akan memproduksi konten-konten edukasi informatif yang positif berkaitan dengan wabah virus corona COVID-19 sebagai bagian gerakan moral bersama #medialawancovid19. Tolong bantu sebar seluas mungkin info positif ini ke seluruh lapisan masyarakat agar mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia dapat diputus.