KLB Berjalan Mulus, Reformasi PSSI di Depan Mata?

Jadi tonggak reformasi PSSI

Diterbitkan 04 Agustus 2016, 17:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot Dewa Broto yang mewakili pemerintah mengatakan KLB PSSI di Mercure telah sesuai dengan arahan Presiden RI, Joko Widodo. Baginya, kongres ini merupakan tonggak terhadap reformasi PSSI yang diinginkan pemerintah selama ini. 

"Ini adalah hasil kolaborasi apik antara PSSI dan FIFA," puji Gatot.

6 Butir Kesepakatan


Sesuai harapan, KLB memang berlangsung mulus. Pemilihan ketua baru PSSI resmi diagendakan lewat forum ini. Sempat ada usulan pemilik suara yang tergabung dalam Kelompok 85 agar suksesi dilakukan pada 11 September 2016. Namun setelah penjelasan dari wakil FIFA, Carvaro terkait mekanisme penentuan jadwal kongres, para pemilik suara akhirnya bisa mengerti dan sepakat pemilihan digelar pada 17 Oktober 2016. 

(Simak penjelasan FIFA terkait jadwal Kongres Pemilihan pada tautan ini)

Agenda pembentukan Komite Pemilihan dan Komite Banding juga tanpa kendala. Agum Gumelar telah ditetapkan sebagai ketua Komite Pemilihan dan Erick Thohir sebagai ketua Komite Bandin. Mereka akan dibantu satu orang wakil dan anggota, serta cadangan sebagai antisipasi bila ada yang mengundurkan diri. 

Selai

n itu, KLB PSSI juga menetapkan Hinca Panjaitan sebagai Plt ketua umum hingga pemilihan digelar. (Simak hasil lengkap KLB PSSI pada tautan ini)

Keinginan Bonek agar permasalahan Persebaya 1927 dibahas di KLB Ancol, memang tidak terwujud. Sebab agenda pembahasan pada Kongres ini sudah ditentukan sebelumnya. Namun delapan anggota eksekutif (exco) PSSI sepakat untuk memasukkan agenda tersebut pada Kongres Pemilihan, 17 Oktober mendatang. 

Momok Suksesi

Dalam satu dekade terakhir, pergantian kepemimpinan di tubuh PSSI nyaris tak pernah berlangsung mulus. Perpindahan tampuk kekuasaan dari Nurdin ke Djohar Arifin Husin diwarnai konflik yang memaksa FIFA turun tangan. Saat itu, pemilik suara yang getol ingin mendongkel Nurdin tergabung dalam Kelompok 78. 

Lewat komite normalisasi, Kongres Pemilihan akhirnya digelar di Solo dan memenangkan Djohar. Nurdin sendiri batal maju karena dilarang FIFA bersama George Toisuta, Nirwan Bakrie, dan Arifin Panigoro. Keempatnya masuk daftar hitam yang dianggap menjadi biang keladi konflik sepak bola nasional. 

Di bawah kendali Djohar, PSSI bukan malah kondusif. Konflik kembali pecah dan melahirkan PSSI tandingan yang diprakarsai Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) pimpinan La Nyalla Mattalitti. Kedua kubu kemudian melakukan rekonsiliasi lewat Kongres Luar Biasa (KLB) di Hotel Borobudur, Jakarta, Maret, 2013.

Suksesi ke

mbali bermasalah saat La Nyalla terpilih menggantikan Djohar lewat Kongres di Surabaya, April tahun lalu. Pasalnya, di hari yang sama, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga justru membekukan PSSI. Konflik yang berlarut-larut bahkan sampai membuat Indonesia dijatuhi sanksi oleh FIFA.

Pemerintah menganggap PSSI di bawah kepemimpinan La Nyalla tidak benar-benar mereformasi diri sesuai arahan Presiden RI, Joko Widodo. Selama sanksi FIFA, timnas Indonesia dilarang tampil di luar negeri.   

FIFA kembali turun tangan dengan membentuk tim Ad Hoc di bawah pimpinan Agum Gumelar. Namun upaya rekonsiliasi kerap menemui jalan buntu. La Nyalla kemudian buron setelah dinyatakan sebagai tersangka atas kasus korupsi pembelian saham Bank Jatim. Posisinya kemudian digantikan oleh Plt Hinca Panjaitan. 

Manuver Kelompok 85

FIFA akhirnya mencabut sanksi Indonesia lewat Kongres yang berlangsung 12-13 Mei lalu. Seiring dengan itu, gerakan untuk mengganti kepengurusan PSSI juga kembali bergema seiring kemunculan Kelompok 85.

Kelompok ini dihuni oleh para pemilik suara sah PSSI. Presiden PS TNI yang juga menjabat sebagai Pangkostrad, Pangkostrad Letnan Jenderal, Eddy Rachmayadi diangkat sebagai pemimpinnya. Mereka kompak mengusung misi reformasi di tubuh induk cabang sepak bola Tanah Air tersebut. 

>Jelang berlangsungnya KLB PSSI di Ancol, Kelompok 85 rajin mengadakan konsolidasi. Bahkan sehari sebelum acara ini berlangsung, Kelompok 85 melakukan simulasi kongres di Hotel Borobudur, Jakarta. Dalam draft acara yang didapat Liputan6.com dari lokasi simulasi tampak skenario dan strategi Kelompok 85 untuk KLB PSSI tersusun rapi. 

Pembagian peran pun sudah ditentukan, termasuk siapa dan kapan harus melakukan interupsi serta strategi untuk menghindari deadlock.

Namun tidak ada 'perlawanan' yang berarti selama KLB PSSI berlangsung di Ancol. Seluruh misi yang diusung Kelompok 85 tercapai tanpa banyak perdebatan. Salah satunya usulan mengganti seluruh anggota Exco.

Sedangkan mengenai jadwal Kongres Pemilihan PSSI, kelompok 85 awalnya memang sempat mengajukan 11 September, tapi akhirnya sepakat dengan 17 Oktober setelah mendengar penjelasan dari wakil FIFA.

Bole

h dikatakan, misi kelompok 85 berjalan mulus. Bahkan di akhir acara, sebagian anggota Kelompok 85 secara terang-terangan mengungkapkan jagoannya pada pemilihan nanti.   

KLB PSSI memang berjalan mulus. Kedewasaan para peserta kongres layak diapreseasi. Namun ini tentu baru titik awal dari agenda perubahan total yang akan digulirkan lewat Kongres Pemilihan Ketua Umum PSSI pada 17 Oktober mendatang. Semoga suasana KLB PSSI bukan seperti air tenang yang menghanyutkan! 

 

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan
  • KLB adalah Kongres Luar Biasa yang dapat digelar jika mendapat pengajuan permintaan dari Komite Eksekutif (Exco) PSSI atau dari 2/3 anggota.
    KLB adalah Kongres Luar Biasa yang dapat digelar jika mendapat pengajuan permintaan dari Komite Eksekutif (Exco) PSSI atau dari 2/3 anggota.
    KLB PSSI
  • PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) adalah induk organisasi yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan sepakbola Indonesia.
    PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) adalah induk organisasi yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan sepakbola Indonesia.
    PSSI