Inflasi Inggris Tembus Jadi 3,5% pada September 2026, Dipicu BBM

Inflasi Inggris September 2026 naik di atas perkiraan 3,4%.

Diterbitkan 21 Oktober 2026, 14:55 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Inflasi Inggris naik lebih tinggi dari perkiraan, yaitu sebesar 3,5% dalam periode 12 bulan hingga September 2026. Kenaikan inflasi didorong lonjakan harga bahan bakar kendaraan bermotor. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 3,4%.

Angka inflasi September menunjukkan bahwa tren kenaikan inflasi di Inggris terus berlanjut. Inflasi tercatat sebesar 3,1% pada Agustus dan 2,9% pada Juli. Angka inflasi September tersebut merupakan tingkat inflasi tahunan tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Melansir laman CNBC, Rabu (21/10/2026), Kantor Statistik Nasional Inggris (Office for National Statistics/ONS) mengungkapkan, tingkat inflasi bahan bakar kendaraan bermotor telah mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022, ketika biaya bahan bakar melonjak setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.

Inggris merupakan negara pengimpor energi bersih, sehingga rentan terhadap guncangan energi eksternal, seperti perang antara Amerika Serikat dan Iran serta kesulitan yang terjadi setelahnya dalam mengangkut minyak melalui Selat Hormuz.

Data ONS yang dirilis pada Rabu menunjukkan bahwa harga bahan bakar kendaraan bermotor di Inggris melonjak 29,8% dalam periode satu tahun hingga September.

Nilai tukar pound sterling relatif tidak berubah terhadap euro maupun dolar AS setelah data tersebut dirilis. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris juga hanya mengalami sedikit perubahan.

Ahli Strategi Investasi J.P. Morgan Personal Investing, Scott Gardner, mengatakan kenaikan inflasi umum baru-baru ini telah “menghapus kemajuan yang kita lihat pada musim semi.” “Para pembuat kebijakan di Bank of England akan melihat lebih jauh dari sekadar angka inflasi utama,” ujarnya.

Dia menuturkan, inflasi sektor jasa, khususnya, telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kita mulai melihat dampak inflasi putaran kedua di luar kenaikan harga energi.

Meskipun tantangan yang kita hadapi berbeda dengan situasi pada 2021, konflik yang berkepanjangan membebani perekonomian Inggris dan memperkuat alasan untuk menaikkan suku bunga.”

Menurut data LSEG, pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 98% bahwa Bank of England akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 4% pada bulan depan.

Mayoritas pelaku pasar juga memperkirakan kenaikan tambahan dengan besaran yang sama pada pertemuan terakhir bank sentral tersebut tahun ini, yang dijadwalkan pada Desember.

 

Anggaran menjadi tantangan

Kenaikan inflasi yang diperkirakan terjadi memperumit kondisi fiskal pemerintah Inggris dan menteri keuangannya.

Menteri Keuangan Inggris, John Healey, dijadwalkan mengumumkan perubahan besar pertama dalam kebijakan fiskalnya pekan depan melalui penyampaian Anggaran Musim Gugur (Autumn Budget) Inggris yang sangat dinantikan.

Ia bertugas mempertahankan apa yang disebut sebagai aturan fiskal pemerintah sebelumnya, yang bertujuan mengendalikan utang publik sekaligus memenuhi janji untuk mengurangi dampak lonjakan biaya hidup masyarakat.

Namun, data terpisah yang dirilis  menunjukkan bahwa utang nasional Inggris diperkirakan telah melampaui £3 triliun (US$ 4 triliun) pada September untuk pertama kalinya.

Biaya pembayaran bunga atas utang tersebut meningkat tajam selama setahun terakhir, sementara perekonomian Inggris masih kesulitan mencatatkan pertumbuhan.

Healey mengatakan bahwa ia akan “mempertahankan disiplin fiskal” dalam anggaran pekan depan, sembari berupaya “mendorong pertumbuhan serta memberikan ruang bernapas bagi dunia usaha dan keluarga.”

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6