BI Rate Tetap di 5,75%, Tapi Deposit Facility Naik Jadi 5%

BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75% dan menaikkan Deposit Facility jadi 5% demi menjaga stabilitas rupiah dari ketidakpastian global.

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 21 Oktober 2026. Namun, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5%. Sedangkansuku bunga Lending Facility tetap di level 6,5%.

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa keputusan ini mempertimbangkan tingginya ketidakpastian ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta kondisi perekonomian domestik.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 Oktober 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5%, serta menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi sebesar 5%," ujar Destry dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Destry menjelaskan, tingginya ketidakpastian global dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat. Kondisi tersebut menekan pergerakan nilai tukar rupiah, sehingga memerlukan penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter.

"Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter," tegas Destry.

 

Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi

BI mencatat nilai tukar rupiah berada di level 17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, atau melemah 0,61% dibandingkan posisi akhir September 2026. Tekanan tersebut tak lepas dari dinamika geopolitik global, arah kebijakan moneter AS, serta pergeseran sentimen investor asing di pasar saham.

Di sisi lain, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap solid di kisaran 4,9% hingga 5,7%. Konsumsi rumah tangga diperkirakan terjaga berkat dukungan stimulus fiskal pemerintah, sementara sektor investasi terdorong belanja pemerintah dan mulai pulihnya investasi swasta.

Dari sisi inflasi, BI mencatat realisasi inflasi pada September 2026 berada di level 3,28% secara tahunan (year-on-year), sedikit meningkat dari 3,19% pada Agustus 2026. Inflasi inti tercatat 2,88%, inflasi harga yang diatur pemerintah sebesar 3,02%, sedangkan inflasi pangan bergejolak (volatile food) mencapai 5,03%.

 

Fungsi Intermediasi

Sementara itu, kinerja fungsi intermediasi perbankan tetap kuat. Pertumbuhan kredit perbankan menembus 13,21% secara tahunan pada September 2026, yang ditopang kredit investasi sebesar 23,2%, kredit modal kerja 9,89%, dan kredit konsumsi 4,6%.

BI menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar keuangan global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6