Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Selasa. Rupiah naik 54 poin atau 0,30 persen menjadi 17.992 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.046 per dolar AS.
Penguatan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Kurs JISDOR tercatat menguat ke 18.006 per dolar AS dari posisi sebelumnya 18.050 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah dipengaruhi perkembangan kebijakan Amerika Serikat terhadap Rusia, termasuk pencabutan sejumlah sanksi dan tarif.
Advertisement
“Perintah eksekutif yang diterbitkan oleh Trump (Presiden AS Donald Trump) pada Jumat malam (16/10) mencabut sanksi dan tarif utama AS yang berkaitan dengan Rusia, termasuk bea atas barang-barang dari negara tersebut serta penalti bagi pihak yang membeli minyak dan gas Rusia,” ucapnya.
Trump menerbitkan perintah eksekutif terkait penerapan undang-undang baru mengenai sanksi terhadap Rusia, dengan sejumlah pengecualian terhadap tarif dan sanksi tertentu.
Perintah tersebut turut memuat ketentuan tarif tambahan bagi barang-barang dari negara yang membeli minyak dan gas Rusia maupun negara yang dinilai membantu penghindaran sanksi. Namun, Trump mengecualikan penerapan tarif tersebut dengan alasan kepentingan nasional AS.
Konflik Geopolitik dan Harga Minyak Jadi Perhatian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5092467/original/062939600_1736770257-20250113-Rupiah_Melemah-ANG_2.jpg)
Selain kebijakan AS terhadap Rusia, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ibrahim menyoroti konflik yang melibatkan Ansarullah Yaman dan Arab Saudi, yang menurutnya meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
“Serangan-serangan baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan menegaskan risiko yang terus ada terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut, sehingga menjaga harga minyak tetap berada di atas USD 100 per barel,” kata Ibrahim.
Harga minyak yang bertahan tinggi menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar karena berpotensi memengaruhi biaya energi dan tekanan ekonomi global.
Di sisi lain, investor juga memperhatikan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Pernyataan sejumlah pejabat The Fed mengindikasikan keterbukaan terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut, meskipun belum memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober.
Ketidakpastian arah suku bunga AS menjadi perhatian pasar valuta asing karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Advertisement
Pasar Menanti Data Ekonomi AS
Ketua The Fed Kevin Warsh, saat berbicara di Bangkok pada Jumat (16/10/2026), menyatakan tidak ingin memberikan petunjuk lebih awal mengenai hasil pertemuan bank sentral AS berikutnya.
“Saya tidak ingin berprasangka terhadap hasil pertemuan mendatang.”
Pekan ini, pejabat The Fed tidak dijadwalkan menyampaikan pidato publik karena memasuki periode blackout atau masa tenang menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Oktober.
Meski demikian, pasar masih akan memperoleh sejumlah indikator ekonomi AS yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter. Data tersebut antara lain klaim tunjangan pengangguran mingguan dan data awal atau flash Purchasing Managers' Index (PMI) dari S&P Global.
Data-data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan aktivitas bisnis di AS. Hasilnya juga berpotensi memengaruhi perkiraan investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378118/original/094705800_1792490144-gus_iqdam_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307544/original/024849800_1754469684-IMG_0583.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845750/original/003475400_1562319949-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4630618/original/056659000_1698749991-20231031-Rupiah-Menguat-Angga-2.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291090/original/060643400_1604902998-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339447/original/025074400_1788415761-email-attachment_2026_09_03_ariefhakim-at-klyid_bos-bi-singgung-kekuatan-ri-meski-pertumbuhan-ekonomi-kalah-dari-vietnam_1000428806.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579576/original/026720500_1778057267-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282582/original/062080800_1672910733-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337097/original/098406000_1609328704-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4630618/original/056659000_1698749991-20231031-Rupiah-Menguat-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5167102/original/009661500_1742306811-cdacf437-a867-44a0-8f7f-1cd7ef219f5b.jpg)