Harga Minyak Melambung 7% Setelah Serangan Kapal Tanker Arab Saudi

Harga minyak Brent menyentuh posisi US$ 100,69 setelah konflik di Timur Tengah kembali meningkat.

Diterbitkan 24 Juli 2026, 07:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melambung pada Kamis, 23 Juli 2026 menyusul serangan terhadap kapal tanker di Laut Merah. Selain itu, harga minyak melonjak imbas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyerang Iran.

Mengutip CNBC, Jumat, (24/7/2026), harga minyak Brent melampaui US$ 100 per barel untuk pertama kali sejak 26 Mei. Harga minyak patokan internasional itu terbang sekitar 7%, dan ditutup di US$ 100,69. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 6%, dan ditutup di US$ 92,19.

Harga minyak telah melonjak lebih dari 30% bulan ini karena pertempuran di Timur Tengah kembali meningkat. Sekutu Houthi Iran di Yaman mengatakan menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi dengan drone dan rudal karena melanggar blokade maritim yang mereka nyatakan terhadap Riyadh minggu ini.

Trump mengatakan, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan Houthi di masa mendatang terhadap kapal-kapal di Laut Merah, mengancam akan menjatuhkan "hukuman militer besar" kepada Teheran dan para militan di Yaman.

Trump kemudian mengatakan kepada Axios dalam sebuah wawancara, ia "sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran" terhadap Iran. "Lebih besar dari sebelumnya.

"Saya hampir mengambil keputusan. Kita semua sudah siap," kata Trump kepada Axios.

Serangan terhadap kapal tanker terjadi beberapa jam setelah Trump memperingatkan AS akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz.

Iran menanggapi dengan memperingatkan akan membalas terhadap infrastruktur dan aset energi yang terkait dengan AS di seluruh wilayah jika Washington melakukan serangan tersebut.

"Jika Amerika menargetkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran, Iran akan, pada gilirannya, menyerang infrastruktur dan jembatan di wilayah tersebut, termasuk fasilitas energi tempat Amerika Serikat memiliki kepentingan," kata seorang sumber militer Iran yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita Tasnim yang dikelola negara.

 

 

Eskalasi Berbahaya

Global Head of Commodity Strategy RBC Capital Markets, Helima Croft menuturkan, perang AS dengan Iran telah memasuki fase yang lebih berbahaya karena pertempuran menyebar ke Laut Merah dan Iran menargetkan infrastruktur penting di Teluk seperti pabrik desalinasi air.

Croft menuturkan, tekanan ekstrem sedang meningkat di Timur Tengah yang dapat mendorong harga minyak Brent di atas level tertinggi 2022 sebesar US$ 128 per barel setelah Rusia menginvasi Ukraina.

Analis itu prediksi, Brent bahkan dapat melampaui puncak 2008 sebesar US$ 146 per barel dalam skenario terburuk perang regional skala penuh di Timur Tengah.

Croft menuturkan, perang Ukraina-Rusia juga memberikan tekanan pada pasar minyak global.

"Kyiv telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker di Laut Hitam dan Laut Azov bulan ini,” ujar dia.

Serangan terhadap kapal tanker tersebut telah memaksa Konsorsium Pipa Kaspia untuk menghentikan pemuatan minyak mentah di terminal Laut Hitamnya.

Croft menuturkan, sekitar 80% minyak mentah Kazakhstan diekspor melalui pipa tersebut.

"Durasi penutupan masih belum pasti, tetapi jalur alternatif untuk Kazakhstan terbatas (dan kemungkinan tidak akan sepenuhnya mengimbangi CPC), yang berarti produksi (1,7 mb/d pada bulan Juni) dapat mengalami penghentian sementara,” kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6