PT OSCT Indonesia Gandeng BOPPJ Atasi Ancaman Pencemaran Laut

PT OSCT Indonesia gandeng BOPPJ untuk atasi ancaman pencemaran laut melalui penguatan koordinasi dan penyediaan fasilitas respons tumpahan minyak.

Diterbitkan 19 Juli 2026, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT OSCT Indonesia memperkuat kerja sama dengan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) untuk meningkatkan kesiapsiagaan nasional dalam penanggulangan pencemaran laut. Penguatan sinergi tersebut dibahas dalam kunjungan jajaran BOPPJ ke Headquarters PT OSCT Indonesia.

Direktur Utama PT OSCT Indonesia, Mayjen TNI (Purn) Kukuh Surya Sigit Sentosa, mengatakan kolaborasi dengan BOPPJ menjadi langkah strategis untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi potensi pencemaran laut.

"Kunjungan ini menjadi langkah yang baik untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara PT OSCT Indonesia dengan BOPPJ," ujar Kukuh kepada wartawan, dikutip Minggu (19/7/2026).

Usai pertemuan, rombongan BOPPJ meninjau fasilitas operasional PT OSCT Indonesia. Dalam kunjungan tersebut, perusahaan memaparkan kemampuan penyediaan layanan Oil Spill Response Equipment (OSRE), termasuk peralatan penanggulangan tumpahan minyak dan sistem koordinasi operasional yang digunakan untuk mendukung respons terhadap potensi pencemaran di perairan Indonesia.

Kukuh menegaskan PT OSCT Indonesia akan terus memperkuat kemitraan dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan kapasitas penanganan pencemaran laut di Indonesia.

"Kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya peningkatan kesiapsiagaan nasional dalam penanggulangan pencemaran laut melalui pengalaman, kapabilitas, dan layanan yang kami miliki," katanya.

Komitmen Lindungi Laut

Sebeumnya, komitmen dukung perlindungan lingkungan laut dan penanggulangan tumpahan minyak di Indonesia dilakukan oleh PT OSCT Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyediaan peralatan, teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta layanan kesiapsiagaan yang siap digunakan dalam kondisi darurat.

Hal itu disampaikan Project Director OSCT Indonesia Alam Syah Mapparessa di sela penyelenggaraan Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech 2026) yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta beberapa waktu lalu.

"OSCT Indonesia merupakan salah satu perusahaan pionir sekaligus terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang penyediaan jasa dan peralatan penanggulangan tumpahan minyak (oil spill response)," ujar Alam, Jumat (12/6/2026).

Dia mengatakan, keberadaan perusahaan dinilai penting dalam mendukung kesiapsiagaan nasional menghadapi potensi pencemaran laut akibat aktivitas pelayaran, industri minyak dan gas bumi, serta sektor industri lainnya.

"Kesiapsiagaan penanggulangan tumpahan minyak sangat penting. Keberadaan peralatan yang selalu dalam kondisi siap di lokasi potensi tumpahan minyak menjadi faktor utama untuk memastikan respons cepat, sehingga dampak lingkungan dan kerugian ekonomi dapat diminimalkan," papar Alam.

Risiko Tumpahan Minyak

Alam menjelaskan, aktivitas pelayaran dan industri migas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia memiliki risiko terjadinya tumpahan minyak.

"Karena itu, OSCT Indonesia menempatkan fasilitas dan peralatan strategis di sejumlah wilayah seperti Sumatera, Jawa Timur, dan Kalimantan guna mempercepat respons apabila terjadi keadaan darurat," kata dia.

Menurut Alam, data statistik menunjukkan sebagian besar insiden tumpahan minyak yang terjadi masih berada pada skala kecil hingga menengah. Meski demikian, kesiapsiagaan terhadap kemungkinan tumpahan minyak skala besar tetap harus menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang signifikan.

"Penanganan pada tahap awal menjadi kunci untuk mencegah pencemaran meluas ke wilayah perairan yang lebih luas," papar dia.

Selama ini, lanjut Alam, OSCT Indonesia telah memberikan dukungan kepada berbagai perusahaan migas nasional maupun internasional. Dukungan tersebut mencakup penyediaan peralatan dan layanan tanggap darurat, termasuk kebutuhan tambahan di luar kontrak kerja yang telah disepakati.

"Perusahaan juga memiliki kesiapan ribuan meter oil boom yang dapat segera dimobilisasi untuk membatasi penyebaran tumpahan minyak di perairan," terang Alam.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6