Seperempat Abad Jatuh Bangun Selamatkan Orang Utan

Upaya penyelamatan orang utan dari deforestasi bukan hal mudah.

Diterbitkan 19 Juli 2026, 18:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah perjalanan dedikasi seperempat abad dalam menjaga paru-paru dunia dan menyelamatkan satwa endemik Sumatera, akhirnya dirangkum dalam sebuah karya literasi yang emosional.

Merayakan hari jadinya yang ke-25, Yayasan Orangutan Sumatra Lestari - Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) meluncurkan buku otobiografi sang pendiri, Panut Hadisiswoyo, yang bertajuk "Panut Hadisiswoyo: Berdiri di Garis Terakhir".

Acara peluncuran digelar di Kantor YOSL-OIC, Medan, Jumat (17/7/2026), dengan dihadiri oleh jajaran keluarga, tokoh akademisi, aktivis lingkungan senior, serta mitra strategis.

Di balik nama besar OIC hari ini, Panut mengenang kembali masa-masa sulit saat lembaga ini pertama kali dirikan. Kala itu, mayoritas anggotanya adalah mahasiswa yang bergerak murni modal nekat dan kepedulian lingkungan, tanpa memikirkan materi.

"Perjalanan 25 tahun ini bukan perjalanan saya, tapi adalah perjalanan kita semua, tim OIC yang sudah berdedikasi tak henti-henti. Suka duka, gaji gak naik-naik tapi masih setia terus membersamai," seloroh Panut disambut tawa dan tepuk tangan meriah dari para staf.

OIC jatuh bangun menjadi benteng pertahanan bagi dua spesies penting yang terancam punah: Orang utan Sumatra di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan orang utan Tapanuli di lanskap Batang Toru. Bagi Panut, menyelamatkan orang utan tidak bisa dipisahkan dari menjaga rumah mereka.

"Bagian penting untuk mengawal kehidupan ini adalah mengamankan kawasan hutan terlebih dahulu, barulah kita bisa mengamankan yang lainnya, termasuk ekonomi masyarakat," tegas alumni Sastra Inggris USU tersebut.

Judul buku yang digarap selama hampir tiga tahun ini menyimpan filosofi mendalam mengenai posisi organisasi masyarakat sipil (CSO) dalam peta konservasi di Indonesia. Panut meluruskan anggapan bahwa aktivis harus selalu berada di depan.

"Saya selalu bilang kalau saya di garis depan (front line). Tapi Tikwan (penulis buku) bilang, kalau di depan itu ranahnya pemerintah. Kita para CSO mengawal di belakang. Artinya, kita harus berdiri di garis terakhir untuk menjaga pertahanan agar kawasan hutan, ekosistem, dan spesies ini jangan sampai jebol. Ketika pemerintah dengan segala upayanya masih mengalami kebocoran, kitalah yang berada di belakang untuk mendorong dan memperkuat mereka," terang Panut.

Ada kisah unik sekaligus menggelitik yang diungkapkan oleh Tikwan Raya Siregar selaku penulis buku. Di hadapan para tamu, Tikwan secara blak-blakan mengaku sempat diselimuti kekhawatiran mendalam dan trauma saat awal mula menyanggupi proyek ini.

Bukan tanpa alasan, dua proyek biografi tokoh Medan yang ia tulis sebelumnya selalu berakhir duka karena sang tokoh meninggal dunia sebelum buku tersebut rampung.

"Waktu duduk minum kopi (dengan Panut), saya tatap dia agak lama. Saya membatin, kalau saya tulis biografi kawan ini, apakah dia akan 'lewat' juga? Hampir-hampir saya ragu," kenang Tikwan disambut tawa hadirin. "Tapi alhamdulillah, Bang Panut terbukti berkali-kali lolos dari masa kritis sejak masa kecilnya, dan hari ini kita bisa meluncurkan buku ini dalam keadaan sehat walafiat."

Tikwan juga menegaskan bahwa buku ini ditulis bukan untuk memuji-muji Panut. Ia mengajukan syarat ketat agar Panut berterus terang membuka semua kisah masa lalunya—termasuk konflik dan kegagalan—agar perspektif buku ini menjadi kuat dan jujur.

"Setiap kali saya hubungi untuk wawancara, beliau sedang di NTT, minggu depannya lagi sudah di Prancis memberikan kuliah, lalu ke Jepang, dan keliling Asia Tenggara," tambah Tikwan.

Selain itu, meramu narasi konflik masa lalu secara jujur tanpa mencemarkan nama baik pihak lain yang masih hidup menjadi tantangan pelik tersendiri.